Merdeka.com -Dalam Konser Ngabuburit Salam 2 Jari di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, capres nomor urut dua Joko Widodo ( Jokowi) membacakan sebuah maklumat kepada puluhan ribu pendukungnya. Maklumat berisi ajakan kepada pendukung ikut menentukan arah Indonesia ke depan.
Berikut isi lengkap 'Maklumat Jokowi' tersebut:
Saudara-saudari sekalian, tidak ada yang lebih membanggakan dalam hidup saya selain berdiri di sini di hadapan Anda semua. Anda adalah orang-orang yang selalu bekerja keras, mengorbankan waktu dan tenaga, menyumbangkan pikiran dan gagasan serta semangat untuk mewujudkan jalan kebaikan dan perubahan bagi Indonesia
Anda semua adalah pembuat sejarah dan sejarah baru sedang kita buat. Itulah yang menjadi alasan mengapa saya dan pak JK berdiri di sini.
Apresiasi kepada semua yang menjaga nilai-nilai keagamaan, di Masjid, di Gereja, di Vihara, di Pura. Serta mereka yang konsisten melestarikan nilai-nilai adat nusantara.
Saya dan Pak Jk berdiri di sini bukan karena nafsu untuk berkuasa apalagi dengan menghalalkan segala cara.
Kami berdemokrasi untuk mendengar. Kami datang untuk ikut menyelesaikan masalah, bukan menambah masalah.
Kami hadir untuk ikut memberi rasa damai, bukan jadi pemicu konflik.
Saudara-saudari, kita berkumpul untuk membulatkan tekad, menyatukan hati dan bekerja keras sebagai tanggung jawab untuk melakukan perubahan demi kebaikan Indonesia dengan cara-cara bermartabat.
Kita berkumpul di sini sebagai bagian dari demokrasi yang memastikan partisipasi seluruh rakyat untuk menentukan masa depan bangsa, penghormatan pada hak azasi manusia, berjuang untuk keadilan dan memelihara keberagaman serta perdamaian.
Kita menolak segala bentuk intimidasi, kebohongan dan kecurangan yang mencuri hak rakyat untuk menentukan masa depan Indonesia.
Sebarkan kebaikan! Rakyat tidak perlu percaya pada fitnah dan kebohongan. Kita semua telah dihantam fitnah dan kebohongan, tapi kita tak pernah tumbang karena kita bekerja tulus untuk Republik tercinta.
Kita semua adalah penyala harapan untuk Indonesia. Kekuatan kita adalah pada kerelaan. Anda rela bersatu padu, berdiri tegak, bekerja keras menyuarakan pesan tegas bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk perubahan.
Saya dan Pak JK sekali lagi berterimakasih pada seluruh relawan, pemuka agama, tokoh masyarakat, aktifis, pekerja seni, petani, nelayan, buruh, guru, pegawai negeri , mahasiswa pelajar, dan seluruh lapisan masyarakat untuk menyatukan tekad mengawal proses pemilu Presiden ini demi tercapainya cita-cita bersama.
Buat generasi muda, adik- adik saya Kalian pemilik masa depan Indonesia. Ijinkan kakakmu ini mengajak kalian semua untuk ikut menentukan arah Indonesia
Jalan tinggal selangkah lagi. Jaga TPS Anda!
Saya dan pak Jk berjanji jika Anda memberi kehormatan luar biasa pada kami untuk menjadi Presiden dan wakil Presiden, maka kami akan bekerja keras setiap hari untuk Anda, dan untuk anak-anak Anda.
Salam perdamaian, Salam 2 jari!
(mdk/ren)
Sabtu, 05 Juli 2014
Daftar Ponsel yang Dapat Update Android KitKat
SEOUL- Beberapa hari lalu muncul bocoran informasi tentang daftar smartphone HTC yang mendapatkan update Android 4.4.4 KitKat.Terkini, terungkap daftar smartphone Samsung yang akan mendapatkan update versi terbaru dari OS robot hijau tersebut.
DilansirNeowin, Kamis (3/7/2014), produk smartphone Samsung kelas menengah (mid-range) mendapatkan update Android KitKat bulan ini. Update ini akan datang untuk lima handset Samsung.
Beberapa smartphone yang terungkap antara lain, Galaxy S4 Mini, Galaxy Grand 2 Duos, Galaxy Mega 5.8, Galaxy Mega 6.3 dan Galaxy Note 3 Neo mendapatkan update Android KitKat bulan ini.
Berdasarkan bocoran informasi tersebut, handset Galaxy S3 batal mendapatkan update Android KitKat. Padahal, bocoran laporan sebelumnya menyebutkan Galaxy S3 bisa mendapatkan update KitKat pada Maret atau April 2014.
Perusahaan kabarnya masih menguji versi Android KitKat untuk handset Galaxy S3. Update terkini untuk Galaxy S3 ialah Android 4.3 (Jelly Bean), yang pernah dirilis pada November 2013.
Konon, setiap smartphone yang bisa mencicipi versi Android KitKat, perangkat tersebut bisa mendapatkan update untuk versi Android L.
(ahl)
Jumat, 04 Juli 2014
Rasulullah saw Menyikapi Hinaan dengan Doa
Jakarta - Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah Swt. Dzat Yang Maha Suci dari segala kekurangan. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkan kepada Rasulullah Saw. Insan pilihan Allah Swt. sebagai suri teladan bagi seluruh alam.
Saudaraku, dalam hidup ini kita sebagai makhluk yang tiada pernah luput dari kesalahan, tidak pernah bisa menyenangkan hati semua orang. Dalam setiap sikap kita, selalu saja ada yang suka dan tidak suka. Sebesar apapun usaha kita untuk berbuat kebaikan, akan ada saja yang bersimpati dan yang tidak.
Jangankan kita yang merupakan manusia biasa, bahkan Nabi Muhammad Saw. yang sudah dijamin oleh Allah Swt bersih dari dosa (ma’shum), tetap ada yang mencintai dan ada pula yang membencinya. Nabi Muhammad Saw yang sedemikian mulia akhlaknya, dikenal amanah dan jujur sejak belia, tetap saja ada yang menyakiti dan menghinanya.
Bahkan, orang-orang di masa kini pun ada yang membenci Rasulullah Saw. Sampai-sampai ada yang berani membuat berbagai karikatur yang berisi penghinaan terhadap beliau. Ada juga yang menulis berbagai fitnah tentang beliau.
Namun, apakah berbagai penghinaan itu mengurangi kemuliaan Rasulullah Saw? Sedikitpun tidak! Rasulullah Saw tetap diakui sebagai sosok yang paling agung dan paling berpengaruh di dunia.
Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Siti Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, pernahkah engkau mengalami hari yang lebih buruk dari perang Uhud?” Rasulullah Saw menjawab, “Aku pernah menemui kaum yang sangat kejam yang belum pernah aku temui sebelumnya. Yaitu hari di mana aku menemui kaum di kampung Aqabah (Thaif), ketika aku bermaksud menemui Ibnu Abi Yalil bin Abdi Kulal (untuk meminta bantuan dan untuk menyebarkan Islam). Akan tetapi, dia tidak memenuhi permintaanku. Akupun pulang dalam keadaan wajah yang berdarah (karena perbuatan warga Thaif yang melempari batu). Ketika aku berhenti di Qarnul Tsa’alib, aku melihat awan menaungiku sehingga aku merasa teduh. Lalu, malaikat Jibril memanggilku dan bertanya, “Sesungguhnya Allah telah mendengar hinaan kaummu dan penolakan mereka terhadapmu. Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung kepadamu.”
Kemudian, malaikat penjaga gunung itu menawarkan kepada Rasulullah Saw apakah beliau mau jika dua gunung yang ada di kota Mekkah ditimpakan kepada mereka sebagai pembalasan. Namun, bagaimana jawaban Rasulullah Saw?
. Rasulullah Saw yang mulia menolak tawaran itu. Tidak terbersit sedikitpun di dalam hati beliau niat untuk membalas sikap buruk mereka. Rasulullah Saw justru mendoakan mereka, “Aku berharap mudah-mudahan Allah mengeluarkan dari tulang rusuk mereka (keturunan) yang menyembah Allah Yang Maha Esa dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun.” (HR Bukhari dan Muslim)
Subhanallah! Saudaraku, dari kisah ini kita bisa mengambil pelajaran berharga. Bahwa Rasulullah Saw tidak pernah membalas sikap buruk orang lain kepada beliau dengan keburukan. Rasulullah Saw justru tetap melanjutkan perbuatan baik terhadap mereka.
Salah satu cara Rasulullah Saw menyikapi hinaan adalah dengan mendoakan orang-orang yang menghinanya. Beliau mendoakan agar mereka diberikan petunjuk oleh Allah Swt sehingga bisa berada di jalan yang lurus. Rasulullah Saw memahami bahwa yang bisa beliau lakukan adalah menyeru mereka kepada kebaikan, adapun hidayah adalah kekuasaan Allah Swt.
Oleh karena itu saudaraku, janganlah membalas hinaan orang kepada kita dengan perbuatan yang sama. Sungguh tidak berbahaya hinaan orang itu. Yang berbahaya adalah jika kita yang melakukan penghinaan itu. Hinaan orang tidaklah berbahaya, yang berbahaya adalah jika kita melakukan perbuatan hina.
Jangan membalas hinaan dengan hinaan, karena sesungguhnya orang yang melontarkan ucapan-ucapan buruk tiada lain adalah sedang memperlihatkan keburukan dirinya sendiri.
Bukankah moncong teko hanya mengeluarkan apa yang ada di dalam teko. Jika isinya air jernih, maka yang keluarpun jernih. Jika isinya air kotor, maka itulah yang keluar.
Semoga Allah Swt melimpahkan hidayah kepada kita sehingga setiap ucapan dan tindakan kita senantiasa terjaga dan terpelihara.
allannairn.org
News and Comment
Thursday, July 3, 2014
Jenderal Prabowo Mundur
Dua hari yang lalu, saya mengeluarkan tulisan tentang kerja-kerja Jenderal Prabowo untuk Pentagon dan intelijen Amerika. Sore ini saya menerbitkan terjemahan Indonesianya.
Sekarang, tepat pada malam ini, media memberi indikasi bahwa Prabowo dan tim kampanyenya telah mundur dari ancaman halus mereka yang menyerukan angkatan bersenjata Indonesia agar segera menangkap saya.
Nampaknya Prabowo pun mundur dari tantangan saya untuk melaporkan saya ke pihak yang berwenang atas tuduhan pencemaran nama baik.
Prabowo alih-alih menyatakan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk berhenti menyimak laporan-laporan yang saya tulis tentang dirinya.
Hari ini, seorang Prabowo yang rupa-rupanya telah kehilangan kepercayaan diri, berbicara dalam nada tinggi dan marah-marah di muka publik: "Kenapa sih kamu, kalau satu orang asing bicara, kok kamu ribut sih? Satu orang kulit putih kita harus ribut."
"Kita ini 240 juta orang, tenang saja. Tanya rakyatmu lah, jangan tanya orang asing." (" Ditantang Allan Nairn, Prabowo pun menjawab."; " Ditantang Allan Nairn, Ini Tanggapan Prabowo").
Jika pernyataan-pernyataan yang saya kutip akurat, maka pertanyaan-pertanyaan berikut ini sudah sepantasnya tertuju pada Prabowo:
Jika masalahnya adalah rakyat vs. asing, mengapa Prabowo pernah bekerja untuk pihak asing? (persisnya, melayani kepentingan Badan Intelijen Pertahanan AS [DIA] dan Pentagon).
Dan jika benar Prabowo mempedulikan nasib rakyat, mengapa dia dan rekan-rekannya di TNI membantai begitu banyak rakyat?
Allan Nairn
Link ke versi Bahasa Inggris
NOTE TO READERS: News and Comment is looking for assistance with translating blog postings into other languages, and also with fund raising and distributing the blog content more widely. Those interested please get in touch via the e-mail link below. NOTE TO READERS RE. TRANSLATION: Portions of News and Comment are now available in Arabic, Brazilian Portuguese, Danish, French, German, Russian and Spanish translation (click preceding links or Profile link above) but translation help is still needed -- particularly with older postings, in these and all other languages. NOTE TO READERS RE. POTENTIAL EVIDENCE: News and Comment is looking for public and private documents and first-hand information that could develop into evidence regarding war crimes or crimes against humanity by officials. Please forward material via the email link below. Email Me
Email this• Email the author• Subscribe to this feed• Add to del.icio.us• Digg This!• Share on Facebook• Discuss on Newsvine• Stumble It!• Add to Mixx!
Posted byallan.nairn@ yahoo.com (Allan Nairn)at 7/03/2014 04:14:00 PM
General Prabowo Retreats
Two days ago I released a piece on General Prabowo'swork for the American Pentagon and US intelligence. This afternoon, I posteda Bahasa Indonesia translationof that piece.
Now, this evening, the press indicates that Prabowo and his campaign have retreated from their insinuation that the armed forces of Indonesia ought to capture me.
It also appears that Prabowo has backed down from my challenge that he file criminal libel charges against me.
Instead, Prabowo is telling Indonesians to stop paying attention to what I've reported about him.
Today, an apparently unnerved Prabowo, speaking "in a high tone" ("dengan nada tinggi") scolded the public: "What's with you? One foreigner speaks and you get all worked up? One white-skinned guy, and we have to get agitated?" ("Kenapa sih kamu, kalau satu orang asing bicara, kok kamu ribut sih? Satu orang kulit putih kita harus ribut").
"We are 240 million people. Just stay calm. Ask the rakyat [the people/ the masses/ the broad society], don't ask foreigners." ("Kita ini 240 juta orang, tenang saja. Tanya rakyatmu lah, jangan tanya orang asing,"). ("Ditantang Allan Nairn, Prabowo pun menjawab."; "Ditantang Allan Nairn, Ini Tanggapan Prabowo").
If these quotations are accurate, Prabowo should be asked these questions:
If the issue is the rakyat vs. the foreigners, why did Prabowo work for the foreigners? (Specifically, the US Defense Intelligence Agency [DIA] and the US Pentagon).
And if Prabowo cares about the rakyat, why did he and his TNI friends kill so many of them?
Allan Nairn
Link to Bahasa Indonesia translation
NOTE TO READERS: News and Comment is looking for assistance with translating blog postings into other languages, and also with fund raising and distributing the blog content more widely. Those interested please get in touch via the e-mail link below. NOTE TO READERS RE. TRANSLATION: Portions of News and Comment are now available in Arabic, Brazilian Portuguese, Danish, French, German, Russian and Spanish translation (click preceding links or Profile link above) but translation help is still needed -- particularly with older postings, in these and all other languages. NOTE TO READERS RE. POTENTIAL EVIDENCE: News and Comment is looking for public and private documents and first-hand information that could develop into evidence regarding war crimes or crimes against humanity by officials. Please forward material via the email link below. Email Me
Email this• Email the author• Subscribe to this feed• Add to del.icio.us• Digg This!• Share on Facebook• Discuss on Newsvine• Stumble It!• Add to Mixx!
Posted byallan.nairn@ yahoo.com (Allan Nairn)at 7/03/2014 02:37:00 PM
Prabowo, Bagian 2: “Saya anak kesayangan Amerika.” Sang Jenderal Nasionalis dan Amerika Serikat.
1 Juli 2014
Oleh Allan Nairn
Ketika kami bertemu di Jakarta pada 21 Juni dan 2 Juli 2001, Jenderal Prabowo berbicara panjang lebar tentang kerja-kerjanya bersama dan untuk Amerika Serikat.
Kepada saya Prabowo berkata, "Saya anak kesayangan Amerika."
Ia mengatakan bahwa dirinya "berkawan baik" dengan intelijen Amerika, melapor kepada mereka "mungkin seminggu sekali atau lebih." Ia juga mengaku berperan sebagai perantara pesan dari Amerika ke Suharto. Bahkan ia membantu pasukan Amerika masuk ke Indonesia untuk menggelar latihan militer Pentagon mempersiapkan “rencana siaga (contigency plan) untuk memasuki Indonesia”, atau “serangan siaga (the invasion contingency).”
Namun saat kami berbincang, visa Prabowo baru saja ditolak Amerika.
Perasaan pahit dalam dirinya sangat terasa waktu itu.
Mudah untuk mengetahui apa sebabnya.
Selama bertahun-tahun menyiksa dan membantai, Prabowo telah melayani kepentingan Washington. Amerika membekingi dia dengan sponsor, senjata, dan pujian publik.
Prabowo bukan saja satu-satunya seorang perwira Indonesia yang paling mendapat pelatihan intensif dari AS. Sejauh yang saya ketahui, Prabowo sekaligus binaan (protege) Washington, mungkin binaan yang paling dekat dengan Washington dalam tubuh TNI/ABRI. Sebagian besar kekuasaan Prabowo didapatnya dari fakta bahwa ia orang Washington sekaligus orang Suharto.
Namun begitu kalah dalam persaingan internal militer tahun 1998, seketika itu pula AS mencampakkannya dan beralih pada musuh bebuyutan Prabowo (Wiranto). Sementara kini AS kerap mengkritiknya atas kejahatan-kejahatan yang ia lakukan dengan dibekingi AS, dan lebih dari itu, mempermalukan Prabowo dengan menolak visanya.
Ketika Prabowo mengeluh pada saya tentang betapa loyalnya ia semasa mengabdi ke Washington, jelas bahwa ia tidak membesar-besarkan ucapannya. Ia sekadar mengungkap kenyataan.
----
Prabowo mengatakan bahwa ia "selalu merasa bersama AS. Kebiasaan ini saya dapat dari keluarga saya.”
Meski sebelumnya menjabat menteri di pemerintahan Sukarno, presiden pertama Indonesia, ayahanda Prabowo terlibat dalam operasi yang dibekingi CIA untuk menggulingkan Sukarno.
Prabowo mengatakan bahwa ia tumbuh bersama sentimen antikomunis ala Amerika dan bahwa ia mendukung Amerika untuk kasus-kasus seperti invasi ke Kamboja dan Afghanistan.
Tanggal 17 Juli 2013, dalam pidatonya di hadapan pejabat pemerintah dan pemimpin korporasi AS, Hashim Djojohadikusumo, sang milyarder, mengatakan:
"Prabowo sangat pro-Amerika. Ia duduk di bangku SMA Amerika, sekolah dasar Amerika. Saya mau mengatakan, seumur hidupnya ia mengenyam pendidikan di sekolah Amerika. Ia masuk Kopassus, [dilatih] di Fort Benning, Fort Bragg. Saya juga pro-Amerika. Baru-baru ini saya menanam modal besar-besaran di California, di bisnis minyak. "
Hashim berjanji, jika Prabowo menjadi Presiden Indonesia: "Ya, Amerika Serikat akan menjadi mitra yang istimewa dalam pemerintahan Gerindra.”
(GERINDRA adalah partai politik Prabowo yang didanai diantaranya oleh Hashim. [ lihat tautan video, 56:32])
Dua bulan sebelum pertemuan perdana kami, saya menyaksikan Prabowo berbicara di hadapan pertemuan investor dan elit militer Amerika dan Indonesia (Van Zorge conference, 2001). Pidatonya disambut meriah oleh hadirin.
Prabowo mengaku memegang teguh doktrin dua jenderal Amerika di era Perang Sipil, William Tecumseh Sherman dan Ulysses S. Grant (yang kelak menjadi presiden). Dalam perang, kedua jenderal memakai taktik yang sesekali memakan banyak korban warga sipil.
"Saya lebih tahu sejarah Amerika daripada sejarah Indonesia," tuturnya.
-----
Ketika kami berbincang, saya terkejut oleh emosi Prabowo manakala ia membicarakan Amerika.
Dengan amarah yang kian memuncak, Prabowo bercerita tentang bagaimana kawan-kawannya sesama perwira Indonesia sering mengejeknya, menyebut dirinya "perwira Amerika" karena kedekatannya yang luar biasa dengan AS.
Ia menjelaskan bahwa mereka mengolok-olok dirinya –serta memberi isyarat dia kurang jantan-- karena bahasa Inggris Prabowo sangat bagus dan ia sering menghabiskan waktunya bersama orang asing.
Prabowo mengatakan bahwa ia "sangat akrab dengan DIA (Defense Intelligence Agency, Badan Intelijen Pertahanan AS) sejak era George Benson."
Selama sekian dekade, Benson keluar-masuk Indonesia untuk kepentingan intelijen AS.
Benson bekerjasama dengan elemen-elemen ABRI dalam operasi penggulingan Sukarno yang dibekingi AS, menyediakan bantuan intelijen Amerika untuk serbuan ke Padang, Sumatra Barat, tahun 1958. (Lihat "In memoriam: George Benson: a true friend of Indonesia").
Kelak, Benson secara efektif menggelar operasi-operasi terselubung anti-Sukarno yang melibatkan ABRI dan AS. Operasi-operasi ini berlangsung menjelang penggulingan Sukarno, di tengah pembantaian massal yang dibekingi AS dan menelan koran ratusan ribu warga sipil Indonesia (Lihat "Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto's Coup d'Etat in Indonesia," studi monumental tentang yang diantaranya membahas peranan Benson dan Amerika).
Berkat prestasinya selama di Indonesia, Kolonel Benson masuk ke dalam jajaran orang kondang di DIA.
Setelah pensiun dari DIA, Benson mewakili Pertamina di Washington dan menjadi promotor utama masuknya korporasi Amerika ke Indonesia.Tahun 1994, Benson, lingkaran Prabowo, serta para tokoh bisnis, diplomatik, dan intelijen Amerika turut mendirikan United States-Indonesia Society (USINDO). Fungsi USINDO adalah melawan gerakan-gerakan akar rumput yang menuntut pemerintah AS memutus bantuan militernya ke ABRI (saya sangat terlibat di dalam gerakan tersebut). USINDO juga giat mempertahankan kepentingan korporat AS di Indonesia, misalnya perusahaan tambang raksasa Freeport McMoRan.
Sumitro (ayahanda Prabowo) dan Hashim (adik Prabowo) duduk di dewan USINDO. USINDO bahkan mendirikan sebuah perkumpulan sebagai penghormatan untuk Sumitro. Perusahaan-perusahaan yang selama ini menyokong USINDO termasuk Lippo Group, Freeport McMoRan, Texaco, Mobil, Raytheon, GE, Hughes Aircraft and Merril Lynch. Melalui istrinya, Titiek, yang tak lain adalah putri Suharto, Prabowo dikabarkan mulai terjun ke bisnis bersama Merril Lynch.
Di hadapan USINDO inilah Hashim berpidato di tahun 2013 di Washington. Dalam pidato itu, ia berjanji pemerintahan Prabowo kelak akan memperlakukan AS sebagai "mitra istimewa." (lihat tautan di atas).
-----
Prabowo menceritakan kepada saya bahwa "ia rutin berhubungan lewat telepon dengan intel Amerika, McFertridge, dan lain-lainnya, mungkin seminggu sekali atau lebih."
Yang ia sebut McFertridge ini merujuk kepada Kolonel Charles D. (Don) McFetridge, orang DIA. McFertridge adalah salah seorang penerus Kol. George Benson di Indonesia dan menjabat Atase pertahanan Amerika di Jakarta (1994-98).
McFertridge juga berhubungan langsung dengan Kol. Chairawan, komandan Grup 4 Kopassus yang saat itu dikepalai Prabowo. Informasi ini didapat dari sejumlah wawancara saya dengan Chairawan dan para pejabat AS.
DIA bekerjasama dengan Prabowo dan Chairawan, khususnya ketika mereka terlibat dalam penculikan, penyiksaan dan pembunuhan aktivis-aktivis Jakarta (1997-98).
Tiga belas orang yang diculik itu masih hilang. Diduga telah meninggal.
Salah seorang kepala tim kampanye Prabowo, Jenderal Kivlan Zen, mengatakan bahwa ia tahu dimana mayat para korban penculikan itu dikubur.
Kol. McFertridge, yang pernah mengajar di Seskoad (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat), kemudian turut mengurusi keamanan untuk raksasa migas multinasional, British Petroleum (BP), khususnya pada proyek ekstraksi gas BP-Tangguh di Papua Barat.
----
Prabowo mengatakan kepada saya bahwa ia tidak berhubungan dengan CIA, tapi DIA.
Ia jelaskan bahwa kerjasama CIA adalah dengan BAKIN, yang melapor secara langsung ke panglima angkatan bersenjata.
Prabowo menekankan, dalam militer Indonesia, rasa hormat terhadap orang-orang DIA adalah wajar. "Jika seorang atase AS menghubungi kepala staff ABRI dan ingin mengadakan pertemuan, pertemuan itu akan terselenggara."
Prabowo mengatakan, sedemikian besar kepercayaan AS kepada dirinya sehingga mereka menggunakannya untuk menyampaikan pesan ke sang mertua, Suharto.
Ia mengatakan, pada satu momen ketika pergolakan tahun 1998 yang sukses melengserkan Suharto memuncak, para rekanan Amerika membisikkan kepada Prabowo bahwa pemerintah AS telah mengambil sikap: Suharto tak berguna lagi.
Ia mengisahkan, ia menemui Suharto dan menyampaikan pesan bahwa AS "tidak lagi bersama Anda."
Namun, lanjut Prabowo, Suharto menjawab: "Tidak, Amerika masih bersama saya. Orang [Washington] DC baru saja kemari dan memberi tahu saya."
Menurut Prabowo, saat itu Suharto "marah dan mengusir saya."
Keterangan Suharto maupun Prabowo kemungkinan sama-sama benarnya.
Seiring Suharto kehilangan kekuasaan untuk bertindak represif, AS pun beralih mencampakkannya, seperti yang telah mereka lakukan terhadap banyak pemimpin negara lainnya.
Hanya saja kali ini, Amerika menarik dukungan tersebut dengan perasaan pahit dan disertai pula dengan perpecahan di kalangan pejabat militernya.
Sangat masuk akal seandainya Prabowo dan Suharto masing-masing menerima pesan yang berbeda dari orang Amerika yang berbeda.
----
Penuturan Prabowo kepada saya tentang hubungannya antara dirinya dan intelijen Amerika sesuai dengan keterangan yang saya dapatkan langsung dari sejumlah pihak.
Saya tulis dalam laporan saya selama krisis 1998: "Seperti yang digambarkan salah seorang pejabat kedutaan kepada saya, ketika penculikan para aktivis sedang gencar-gencarnya berlangsung: “Prabowo anak kesayangan kami; ia orang yang tak mungkin melakukan kesalahan.” (The Nation [AS], edisi 15 Juni 1998, artikel ini diterbitkan di bulan Mei).
Pada tanggal 26 Mei 1999, dalam sebuah wawancara di kediamannya di Jakarta, salah satu arsitek mesin intelijen Indonesia, Laksamana Sudomo, bekas pangkokamtib-nya Suharto yang juga dilatih AS, menyatakan pada saya bahwa "Prabowo juga menjalin hubungan intelijen yang erat dengan AS." (Untuk latar belakang wawancara ini, lihat posting saya tanggal 7 Desember 2007, "Imposed Hunger in Gaza, The Army in Indonesia. Questions of Logic and Activism.").
Namun pekerjaan Prabowo untuk AS jauh melampaui urusan intelijen. Seperti Prabowo gambarkan pada saya, ia pernah bekerjasama dalam aksi-aksi militer AS, termasuk membawa pasukan AS ke wilayah Indonesia.
Pernyataan-pernyataan Prabowo sepenuhnya sesuai dengan dokumen-dokumen internal Pentagon dan Departemen Luar Negeri AS, yang diantaranya memberikan sandaran atas klaimnya bahwa ia telah memfasilitasi perencanaan invasi Amerika.
Dokumen-dokumen tersebut juga mengindikasikan sesuatu yang tidak disebutkan Prabowo pada saya: bahwa Pasukan Khusus AS yang dibawa masuk oleh Prabowo melakukan setidaknya dua operasi rahasia di Indonesia yang dideskripsikan Pentagon di hadapan Kongres AS sebagai "[Beberapa] Aktivitas terpisah .... [dan] dirahasiakan."
Dokumen-dokumen itu juga memperjelas bahwa, dari kacamata pemerintah AS, Pentagon memanfaatkan Prabowo untuk melemahkan kaum nasionalis Indonesia.
----
Sepanjang kolaborasinya bersama AS yang berlangsung selama karir Prabowo di kemiliteran, seringkali Prabowo ditangani secara langsung oleh pejabat-pejabat Pentagon dari anak tangga kekuasaan tertinggi di AS.
Termasuk diantaranya, Sekretaris Pertahanan (Secretary of Defense), Panglima Komando Pasifik (Pacific Commanders in Chief) dan Panglima Operasi Khusus AS (US Special Operations Commanders).
Saya melaporkan di tahun 1998: "Meskipun kegemaran pribadi Prabowo melakukan kekejaman sudah melegenda (seorang Timor Timur menceritakan pada saya bahwa kaki dan giginya pernah dibikin diremuk oleh Prabowo), para pejabat tinggi AS tetap menyanjung-nyanjung dia ketika krisis di Indonesia semakin parah awal tahun ini. Pada bulan Januari, Sekretaris Pertahanan AS William Cohen memuji KOPASSUS sebagai kesatuan yang “sangat mengesankan … disiplin.” (The Nation [AS], edisi 15 Juni 1998, artikel ini diterbitkan di bulan Mei).
Ketika itu saya menulis: "[Cohen] terang-terangan menolak untuk menghimbau ABRI agar menahan diri dalam berurusan dengan demonstrasi-demonstrasi di jalan. Ditanya tentang keseluruhan pesan yang disampaikan dalam kunjungan-kunjungan tersebut, salah seorang pejabat mengatakan, '[Pesannya] sederhana saja. AS dekat dengan militer [Indonesia] dan mencintainya.' Asisten Sekretaris Negara AS, Stanley Roth, baru-baru ini sering makan malam [bersama Prabowo]. Ketika Sekretaris Cohen melawat ke sini, ia membuat semua orang di Jakarta curiga karena main ke markas KOPASSUS dan menghabiskan tiga jam bersama Prabowo..." (The Nation [AS] edisi 30 Maret 1998).
Sebuah buku yang ditulis oleh Dana Priest, jurnalis Washington Post yang mewawancarai para perwira AS yang bekerjasama dengan Prabowo, mengatakan bahwa Prabowo "menjadi dikenal di kalangan korps diplomatik di Jakarta sebagai 'orangnya Washington di Indonesia.'"
Priest melaporkan bahwa di masa mudanya Prabowo "dengan cepat menjadi orang favorit militer Amerika, yang darinya ia meraih pengalaman dan penghargaan."
Priest mengisahkan ulang sebuah cerita tentang bagaimana Prabowo menyambut secara meriah seorang komandan AS yang berkunjung (Commander in Chief of the US Pacific Command [CINCPAC], Laksamana Joseph Prueher) dengan menggelar unjuk kebolehan spesial ala Kopassus untuk menghormatinya:
"Prabowo mengakhiri satu mata acara untuk ... Prueher dengan pasukan [Prabowo] berbaris berjajar menyanyikan versi Indonesia dari lagu Divisi Udara ke-82 Amerika. "Gejolak adrenalin di barisan kursi terdepan sangat terasa, kata seorang pengamat. Prueher senang dan gembira " (Dana Priest, “The Mission: Waging War and Keeping Peace with America's Military," Norton, 2004.)
Cerita ini contoh menarik, Prabowo mengatakan pada saya bahwa ada orang-orang Pentagon lain dengan hubungan lebih dekat dengan Prabowo dari sekedar Prueher.
Satu orang komandan lagi yang ia catat adalah CINCPAC yang bertugas antara Maret 1991-Juli 1994, Laksamana Charles R. Larson, yang kelak menjabat direktur Northrop Grumman Corporation. Prabowo bahkan menuturkan gosip internal Gedung Putih -Pentagon tentang Laksamana Larson, yang menyatakan bahwa Larson tengah diperhitungkan untuk mengisi posisi CNO [Panglima Operasi Angkatan Laut AS, posisi tertinggi dalam tubuh Angkatan Laut AS], tetapi malah menjadi komandan Annapolis [akademi kadet Angkatan Laut AS]."
----
Ketika hubungan AS-Prabowo masih hangat,tindakan Prabowo menunjukkan dirinya sebagai--seperti yang kelak dikemukakan Robert Gelbard (mantan Duta Besar AS untuk Indonesia)--"mungkin pelanggar hak asasi manusia paling buruk dalam tubuh militer Indonesia. Kelakuannya pada akhir 1990an, sebelum demokrasi mulai dipakai di Indonesia, sangat mengejutkan bahkan menurut standar TNI." (wawancara Radio Australia, 16 Juli 2008).
Namun di saat Prabowo betul-betul melakukan tindakan-tindakan tersebut, Washington baik-baik saja dengan hal itu.
Menurut apa yang dikatakan pejabat-pejabat AS ke Prabowo maupun kepada Kongress pada waktu itu, Jenderal Prabowo melakukan tindakan-tindakan persis seperti yang diinginkan Washington dia lakukan.
Duta besar AS di Indonesia sebelum Gelbard—orang yang ada di sana ketika Prabowo masih punya kekuatan dan masih merupakan antek Washington, Stapleton Roy—menulis sebuah kabel pada tahun 1996 (Jakarta 08651, R 0161039Z Dec96) yang menyatakan bahwa Prabowo adalah seorang murid teladan.
(Murid lain yang mendapat pujian adalah Jendral Hendropriono, yang terseret kasus pembantaian aktivis-aktivis Muslim Lampung pada tahun 1989. Ia juga memimpin unit intelijen yang bertanggungjawab atas pembunuhan pahlawan hak asasi manusia, Munir. Hendropriono sekarang menjadi tim kampanye lawan Prabowo, Jokowi.)
Ajaibnya, kabel diplomatik AS memutarbalikkan fakta dalam operasi Prabowo di Papua untuk menyanjung-nyanjung Jendral tersebut. Dalam kasus itu, pasukan Prabowo menyamar menjadi Palang Merah untuk melakukan pembantaian warga sipil (baca laporan lengkap tentang kejadian tersebutyang ditulis oleh Edmund McWilliams.Dia atase politik di kedutaan Amerika dan menulis investigasi dia sesudah pensiun dari dinas pemerintahan AS).
Kabel-kabel Roy menyanjung Prabowo karena telah “menjaga disiplin dan ketenangan,” “mendapat ... pujian” untuk episode Palang Merah dan “memelopori pelatihan tambahan mengenai hak azasi manusia untuk bawahannya.”
Kabel itu berpendapat bahwa, dengan melatih Prabowo dan perwira-perwira seperti dia, AS mendapat keuntungan besar dalam—salah satunya—menjinakkan nasionalisme angkatan bersenjata.
Kabel itu juga mengatakan: “lulusan-lulusan IMET dari Indonesia pulang dengan mengamini apa yang kita, orang-orang Amerika, perjuangkan dan memusuhi apa yang kita musuhi.”
IMET adalah salah satu program Pentagon yang diikuti Prabowo. Program itu adalah program pertama yang diluncurkan akar rumput AS, melalui Kongres, untuk memutus hubungan sejak pembantaian Dili di Timor Timur pada tahun 1991 (lihattulisan pertama dalam serial Prabowo).
Kabel diplomatik AS berlanjut:
“Perwira ABRI didikan lokal tidak cukup memahami nilai-nilai kita, kurang yakin terhadap argumen-argumen kita, dan kurang responsif terhadap kebijakan-kebijakan kita ... lulusan IMET menduduki jabatan penting dalam ABRI. Ketika hubungan kita mulai tertekan, alumni terkemuka dari program IMET-AS yang menolak untuk ikut menyerukan ‘usir orang-orang Amerika.’ Kita berhasil mendapatkan akses dan pengaruh melalui lulusan IMET ini ... dalam beberapa tahun ke depan transisi kekuasan besar akan terjadi di Indonesia. Militer akan menjadi faktor penting dalam perubahan itu, entah dengan mengambil peran latar untuk mengamankan situasi, atau sebagai pemain yang aktif. Di Indonesia, terutama angkatan bersenjata, terdapat perdebatan internal yang mengerucut dalam dua faksi. Faksi pertama adalah progresif, terdidik, dan tercerahkan ... dan kedua cenderung tertutup, etnosentrik, anti-Barat. Kelompok kedua ini percaya bahwa pendidikan dan pelatihan luar adalah pengaruh buruk. Kita bisa mempengaruhi perdebatan tersebut untuk kepentingan jangka panjang kita,”—yakni, dengan mendukung Jenderal-Jenderal seperti Prabowo, serta memfasilitasi tindakan-tindakan “menakjubkan” yang ia lakukan.
-----
Ucapan Prabowo pada saya—serta rekam jejaknya—menjadi sangat menarik apabila disejajarkan dengan klaim-klaim yang ia buat dalam kampanye sebagai calon presiden.
Kali ini, Prabowo mencalonkan diri sebagai seorang nasionalis yang dengan lantang menolak tunduk pada Amerika.
Prabowo adalah “yang paling berani melawan intervensi Amerika Serikat,” demikian pendapat Amien Rais, salah satu pendukung utama Prabowo. (“Amien Rais: Hanya Prabowo Yang Berani Lawan Amerika”).
(Pada Maret 1998, Amien Rais dan saya memberi kesaksian di hadapan Kongres AS, dalam sidang Kaukus Kongresional untuk Hak Azasi Manusia. Pada waktu itu, Amien Rais menganggap Prabowo bertanggungjawab atas hilangnya sejumlah aktivis Jakarta. Pada tahun 2009 pers Australia mengutip Rais yang menggambarkan Prabowo sebagai “kriminal”. [The Australian Financial Review; Rabu, 25 Februari 2009; “Outsider Prompts ‘general’ Unease”; oleh Angus Grigg]).
-----
Prabowo bilang pada saya bahwa ia sangat dekat dengan Pasukan Khusus AS, tim komando yang melakukan invasi dan penyusupan di seluruh dunia.
Penonjolan Prabowo juga didukung oleh berjibun informasi publik. Buku Dana Priest, misalnya, menulis bahwa “Para bos dari Komando Operasi Pasukan Khusus AS sangat kasmaran dengan prajurit-prajurit Prabowo. Jendral Wayne Downing, yang memimpin komando tersebut pada tahun 1993-1996, ikut berparasut bersama Kopassus.” Pada tahun 1996, Priest menulis bahwa Prabowo “adalah bintang dalam Konferensi Operasi Khusus Komando Pasifik [AS] di Hawaii.”
Prabowo mengatakan pada saya bahwa ia punya andil dalam mendatangkan Pasukan Khusus AS ke Indonesia, sebagian besar melalui JCET, program Gabungan Pertukaran Pelatihan Bersama (Joint Combined Exchange Training) dari Pentagon.
Setelah Kongres AS menghentikan pelatihan IMET untuk ABRI pada tahun 1992, Pentagon menggunakan skema pendanaan JCET untuk melakukan latihan militer di Indonesia tanpa sepengetahuan Kongres.
JCET Indonesia dihentikan dengan tiba-tiba pada 8 Mei 1998. Kongres murka setelah mendapati laporan saya dengan East Timor Action Network (ETAN)(kelompok akar rumput yang saya bantu dirikan) tentang keadaan di sana serta mengungkap dokumen-dokumen JCET dengan bantuan almarhum Wakil Kongres AS Lane Evans. (Lihat NY Times, “ US Training of Indonesia Troops Goes On Despite Ban,"" Pentagon Documents Show Indonesian Military Training Continues Despite Congressional Ban," " Indonesia's Killers," (The Nation [AS], terbit 30 Maret 1998), “ Statement by Allan Nairn on the suspension of US military training aid to Indonesia.”
Setelah konferensi pers peluncuran dokumen-dokumen itu—yang berpusat pada latihan-latihan JCET dengan Kopassus Prabowo—saya ditahan dan diinterogasi pasukan keamanan Suharto.
Saya ingat, setelah interogator membanting berkas intel saya di atas meja, ia bersikap tenang ketika saya menuduh Suharto-ABRI-Prabowo-AS bertanggungjawab atas pembantaian massal. Ia tiba-tiba marah ketika saya membicarakan korupsi yang dilakukan Suharto.
JCET berkembang lebih dari IMET, yang mengirim orang-orang seperti Prabowo ke AS untuk melakukan pelatihan sebagaimana Prabowo dapatkan di Fort Bragg, Carolina Utara (Rangkaian Pelatihan Pasukan Khusus Tentara AS, 1980; Fort Bragg adalah pangkalan udara 82d, Prabowo memperkenalkan unit AS tersebut dengan memerintahkan Kopassus untuk menyanyikan lagu tempur 82d dalam bahasa Indonesia [lihat atas]) dan Fort Benning, Georgia (Kursus Perwira Infantri Tingkat Lanjut AS, US Advanced Infantry Officers Course, 1985).
Untuk JCET, sejumlah besar tentara bersenjata lengkap AS pergi ke Indonesia dan, satu dari banyak hal, melakukan latihan bersama ABRI dalam berbagai hal, termasuk Operasi Militer di Medan Urban (Military Operations in Urban Terrain, MOUT), Teknik Penembak Jitu Tingkat Lanjut (Advanced Sniper Technique), serangan udara, serangan darat, serangan laut, pengintaian, Senjata Bio-Kimia Nuklir (Nuclear Chemical Bioogical, NBC), Pencari Ranjau Tempur, “keahlian penyergapan”, bahan peledak dan penghancuran, serta Operasi Psikologis (PSYOPS).
Setidaknya terdapat 41 latihan. Berkas-berkas tersebut merinci aktivitas dalam grup Kopassus 1 sampai 5. Unit utama yang memimpin mereka adalah Grup Pasukan Khusus Pertama AS, tapi ada juga yang lain, termasuk Marinir AS.
Hal ini jelas merupakan dukungan penting AS untuk Suharto, Prabowo, dan ABRI.
Hal ini jadi gamblang sejak tentara AS ada di tanah Indonesia selama ABRI melakukan hal-hal mengerikan, termasuk hilangnya para aktivis dan penembakan warga sipil dalam perlawanan terhadap Suharto. Tentara Amerika berlatih bersama dan membantu unit-unit ABRI yang terlibat dalam kejahatan-kejahatan ini, termasuk Kopassus, KOSTRAD, Kodam Jaya dan lain-lainnya.
Namun Prabowo menekankan satu hal pada saya: manuver-manuver yang ia rencanakan bersama tentara Amerika punya sisi lain.
Selain membantu AS melabuhkan diktator dan jendral kesayangannya, mereka juga membantu AS mendapatkan apa yang ia inginkan di Indonesia.
Prabowo bilang bahwa sebagian besar JCET ada untuk AS—terutama Pasukan Khususnya—“untuk mengintai, berlatih untuk invasi siaga.”
Prabowo bilang: “Mereka melakukan pengintaian, mereka meninjau medan [Indonesia].”
Ia merujuk pada “rencana siaga pasukan khusus untuk memasuki Indonesia, Jakarta, Bandung, dst.”
Prabowo bilang, ia telah “membicarakannya [rencana invasi] secara singkat dengan mereka.”
Prabowo mengatakan: “rencana invasi AS untuk Indonesia bukan hal yang aneh. AS adalah negara adidaya dengan intel di mana-mana.”
Ia menggambarkan AS sebagai “kekuasaan yang lebih tinggi.”
Prabowo tepat ketika menyatakan bahwa Pentagon siap untuk menginvasi hampir tiap penjuru bumi.
Prabowo memberitahu saya sebuah buku yang baru dirilis waktu itu, “Special Forces: A Guided Tour of U.S. Army Special Forces” yang ditulis oleh Tom Clancy, orang kepercayaan Gedung Putih/Pentagon yang menyertakan, dalam istilah Prabowo, “sebuah skenario [invasi] Indonesia dengan bom atom.”
Waktu itu saya tidak mencari tahu buku itu, tapi ketika saya membacanya belakangan, saya melihat bahwa Prabowo sedang membicarakan skenario dramatis (Clancy adalah seorang novelis tapi sebagian besar isi buku ini adalah non-fiksi; perwira militer AS senang berbicara dengan, serta membaca, Tom Clancy) yang menggambarkan invasi Pasukan Khusus AS setelah ledakan bom atom di kepulauan Maluku.
Ketika saya berbincang dengan Prabowo, pertengahan 2001, kemungkinan invasi ini tampak sangat kecil.
Terakhir kali AS diketahui memasuki Indonesia, tahun 1958 (operasi yang melibatkan pengeboman Indonesia oleh pilot-pilot CIA (ketika saya duduk di sekolah dasar AS, saya kebetulan kenal dengan anak salah satu pilot tersebut), Indonesia dipimpin oleh Sukarno yang merupakan musuh bebuyutan Washington.
Sukarno menghadang perusahaan-perusahaan asing dan seraya merangkul gagasan-gagasan pemberontak: hak-hak pekerja, kesejahteraan sosial, nasionalisme Indonesia dan negara Dunia Ketiga, serta Non-Blok. Cara berpikir macam ini tidak bisa diterima Washington, cara berpikir “komunis.” Ditambah lagi, Sukarno memberi keleluasaan bagi partai Komunis dan serikat tani untuk berorganisasi.
Pada tahun 1993 Ethel Kennedy, janda Bobby Kennedy, menceritakan kepada saya betapa “Bobby membenci orang itu, Sukarno.”
Bobby Kennedy adalah tangan kanan saudaranya, Presiden John F. Kennedy (1961-1963), dan rela repot-repot terbang ke Jakarta untuk menghadapi Sukarno secara langsung.
Tapi selepas Sukarno ceritanya lain lagi.
Mentor sekaligus mertua Prabowo, Jendral Suharto, sejak mulanya, adalah kaki tangan Washington.
AS mendukung serta menyambut baik Suharto dan ABRI ketika, setelah AS melangsungkan subversi selama lebih dari satu dekade, mereka berhasil menggulingkan Sukarno dan mengkonsolidasikan kekuasaan absolut melalui salah satu pembunuhan massal terbesar di abad ke-20.
Lebih dari 400.000, bahkan satu juta, rakyat Indonesia dibantai. Media massa raksasa AS menyanjung operasi itu. Mereka menyebutnya sebagai “secercah cahaya di Asia” (The New York Times). CIA ikut berperan dengan memberi daftar lima ribu “orang komunis” untuk dieksekusi.
Suharto melakukan apa yang diinginkan Washington, lalu membawa masuk perusahaan-perusahaan AS—sebagian dengan petunjuk dari menteri ekonomi terkemuka dalam masa pemerintahannya, ayah dari Prabowo. Perusahaan-perusahaan inilah yang, melalui klan Prabowo serta veteran intel AS, mendirikan lobi USINDO untuk mengamankan kepentingan mereka di Indonesia sekaligus dukungan Pentagon pada TNI/ABRI.
Suharto “adalah orang kita,” ujar Gedung Putih periode Clinton pada The New York Times.
Maka, Washington tidak perlu menginvasi orang yang cocok dengan mereka, dan bahkan setelah Suharto tumbang, ABRI/TNI serta korporasi memiliki pengaruh yang sedemikian besar sehingga Jakarta tetap berada di kubu Washington.
Keadaan invasi siaga AS ketika saya berbincang dengan Prabowo, sejenis dengan sebuah diskusi antara saya besama perencana Departemen Pertahanan AS pada 1
Langganan:
Postingan (Atom)