Senin, 02 Maret 2015

Australia New Collected coins for USD 13 Million


TRIBUNNEWS.COM, Coalition Pro JAKARTA Indonesia together with the whole society continues to raise funds to restore Australia's aid. It is a protest Indonesian, Australian Prime Minister Tony Abbott because the offending aid to the country to Aceh, when two death row Australian drug cases will be executed. "It's been a week, we will collect until the execution, we will transfer to the Australian embassy," said Grace Himran, one member of the Coalition of Pro Indonesia from Aceh in roundabout HI, Sunday (03/01/2015). According to the government of a country not worth bringing up again the help that has been given. First aid to help disaster victims. "The statement is not wise Abbot of a head of state. There is immoral. Statement membua even angry," said Grace. Currently, the contribution of the new society collected Rp 13 million more. Coalition Pro Indonesia not concerned about the amount. They sure will coffers of dollars will be collected and channeled to help restore Australia. Naturally, if they are few. Because the form of dollars are collected only in the form of coins. It is recognized as a symbol of the little people were hurt. They hope that Australia gets a lesson from this. "Why do we gather coins, showed little concern for the people of Indonesia," he added.

Minggu, 22 Februari 2015

Quipped Australia, Tsunami Victims Action Degree Dig graves for offenders Dead


Banda Aceh-Dozens of victims of the tsunami in Aceh Barat staged a protest against the statement of Prime Minister, Tony Abbott who brought up the tsunami relief with remission of the death penalty. They dug the grave for two Australians who were sentenced to death for drug cases stumble in Denpasar, Bali. Two grave is dug tsunami victims in White Sand Beach, village of Ujong Kalak, Johan Pahlawan, West Aceh. Residents also brings a number of posters bearing inscriptions criticism of Tony Abbott. Grave was dug alongside the community. The action is a form of satire against Australian PM is considered to have hurt tsunami victims in Aceh. In a statement, Abbott returned rehash of Australia during the tsunami relief with remission of the death penalty against two of its citizens. A resident who joined this action, Edi Candra, say, two graves excavated for two Australians who will be executed for tripping drug cases. Both are Myuran Sukumaran and Andrew Chan, who is a member of the syndicate "Bali Nine". "This action is a form of reciprocation us against the Australians," said Andrew Chan, Sunday (02/22/2015). In addition to digging graves, victims of the tsunami in Aceh Barat also will raise jade to repay back the Australian aid granted to Aceh. They were also ready to restore Australia's aid if requested return. "Australian Prime Minister should not be brought up with the tsunami relief guardianship application of the death penalty. No tsunami aid relationship with the death penalty," he explained. (FJP / FJP)

Sabtu, 31 Januari 2015

Anak buruh tani peraih IPK 3,84 di UIN Walisongo gemar ibadah


Merdeka.com -Selain perjuangan kerasnya selama kuliah, Siti Afidah (22) berkeyakinan doa dan hidup prihatin sederhana menjadi pedoman sehingga bisa meraih predikat sebagai wisudawati terbaik di UIN Walisongo, Kota Semarang, Jawa Tengah. Sehingga, sejak duduk di bangku sekolah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Kendal, Afidah tidak pernah lupa menjalankan puasa sunah dan salat malam. Dirinya sangat yakin, jika puasa Senin-Kamis serta salat malam dilakukan setiap waktu, membuat perjuangannya keras untuk menjadi mahasiswi terbaik akan dikabulkan Yang Maha Kuasa. "Dari saat sekolah MAN Kendal sudah terbiasa salat malam dan puasa Senin-Kamis. Salat malam dampaknya besar. Kalau kita dekat dengan Allah, apa yang kita minta pasti dikasih jalan," tuturnya disela-sela mengajar baca tulis Alquran di balai depan Pondok Pesantren Rumah Tahfidz Al Amna pimpinan Hj Siti Mariana Sofa tempat dia tinggal di Jalan Taman Jeruk ll A10 Nomor 23 A, Perumahan Jatisari Permai, Mijen, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (30/1). Terbukti, sejak kelas X di MAN Kendal itulah, Afidah selalu meraih prestasi rangking pertama mulai dari kelas X sampai kelas XII. "Kalau di kelas, saya selalu rangking satu. Tapi kalau satu sekolah naik turun yang pasti selalu ada di tiga besar urutan. Fluktuatif," selorohnya. Selain doa, pola hidup sederhana dan apa adanya membuat Afidah tegar menjalani hidup dan sukses dalam pendidikan. Hobinya menjalankan a malam dan berpuasa sunah Senin-Kamis ini tidak menghalangi aktivitasnya selama menjadi mahasiswi di UIN Walisongo, Kota Semarang. Dalam posisi berpuasa, Afidah masih tegar dan mampu mengikuti pendidikan kuliah hanya dengan berjalan kaki kemudian naik angkutan kota (angkot) minibus untuk menimba ilmu di kampus UIN Walisongo, Kota Semarang. "Kalau kuliah ya tetap jalan kaki, naik angkot minibus jurusan Jrakah-Mijen. Jika kuliah usai saya biasakan diri untuk kembali ke pondok (ponpes) karena saya punya tanggung jawab mengajari anak-anak kecil untuk belajar membaca, menulis dan membaca Alquran seperti saat ini," tuturnya. Pola hidup sederhana dan prihatin ini, ternyata datang dari orangtuanya sendiri. Hidup pas-pasan di rumahnya di Brangsong, Kendal, Jawa Tengah membuat Afidah bersemangat dan berjuang keras untuk meraih prestasi yang terbaik. "Keteladanan utama ortu. Melihat kerja keras ortu dari kecil memelihara saya. Kemudian guru-guru yang mengajar di sini memberi semangat kami. Orang tua nggak ada berhentinya ke kita anaknya. Orangtua berikan yang kita minta mesti dikasih mesti dalam keterbatasan. Bukan membalas, tapi berusaha membahagiakan dan membuktikan berkat doanya alhamdulillah mampu," paparnya. Selama kuliah, Afidah pun tidak pernah macam-macam, apalagi hidup bermewah-mewah. Baginya menjalani dan mengikuti pendidikan dengan baik adalah hal yang utama. Apalagi, kedua orang tuanya yaitu ayahnya Baidhowi hanya lulusan SD. Sementara ibunya tidak lulus SD menjadikan motivasi Afidah untuk mengenyam dan meraih pendidikan setinggi-tingginya. "Saya kulaih hanya kuliah. Setelah kuliah kegiatannya hanya di sini. Mengerjakan tugas tepat waktu dari dosen. Ndak rekoso. Soale dosen-dosennya juga pada enak, ngasih masukan ke kita. Apalagi ayah saya hanya lulus SD, ibu saya SD pun tidak tamat, kelas 3 SD langsung keluar karena kondisi ekonomi yang sangat terbatas," ujarnya. Meski banyak godaan dari teman-teman kuliahnya yang lain, Afidah selalu memegang prinsip untuk berpola hidup tetap sederhana. "Kalau saya tidak sreg dengan aneh-aneh, lebih baik saya tidak ke sana. Yang sesuailah di lingkungan yang membuat saya lebih baik lagi. Temen-temen gak ada sih, temen-temen di UIN baik-baik semua," pungkasnya. (mdk/eko) http://m.merdeka.com/peristiwa/anak-buruh-tani-peraih-ipk-384-di-uin-walisongo-gemar-ibadah.html

Berapa Tarif Resmi MembuatSIM Baru dan Perpanjangan?


Sabtu, 31 Januari 2015 | 11:59 WIB JAKARTA, KOMPAS.com- Seringkali pengendara tidak mengetahui biaya pembuatan ataupun perpanjangan Surat Izin Mengemudi (SIM). Maka sebagian oknum petugas polisi "nakal" memanfaatkan celah ini untuk membuat pengendara membayar biaya yang lebih mahal dari yang seharusnya dibayarkan. Kepala Seksi SIM Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris I Nengah Adi Putra menjelaskan, saat ini tarif untuk membuat SIM berkisar antara Rp 50.000 hingga Rp 120.000. Sementara untuk perpanjangan SIM adalah Rp 30.000 hingga Rp 80.000. Berikut rinciannya: SIM Golongan A Baru Rp 120.000 Perpanjangan Rp 80.000 SIM, Golongan B I Baru Rp 120.000 Perpanjangan Rp 80.000 SIM Golongan B II Baru Rp 120.000, Perpanjangan Rp 80.000 SIM Golongan C Baru Rp 100.000 Perpanjangan Rp 75.000 SIM. Untuk Golongan D Baru Rp 50.000, dan Perpanjangan Rp 30.000. Namun selain biaya pembuatan atau perpanjangan, pengendara juga bisa dikenakan biaya lainnya, yaitu asuransi. Biayanya mencapai Rp 30.000. "Meski begitu, asuransi sifatnya tidak wajib, hanya dianjurkan saja," kata Nengah saat dihubungi, Sabtu (31/1/2015). Karena sifatnya tidak wajib, lanjut dia, maka pengendara boleh memilih untuk tidak membayarkan biaya asuransi tersebut. Dengan kata lain, pengendara dapat menolak jika dikenakan biaya asuransi. Selain biaya asuransi, biaya yang mungkin dijadikan alasan supaya pengendara membayar lebih adalah biaya tes kesehatan. Nengah menuturkan, tes kesehatan sebetulnya merupakan syarat wajib untuk pembuatan dan perpanjangan SIM. Namun, tes tersebut tidak harus dilakukan di tempat pelayanan pembuatan atau perpanjangan SIM. Bahkan, pengendara dapat melakukan tes tersebut di dokter umum lainnya di luar tempat tersebut. "Surat sehat dari dokter adalah persyaratan wajib untuk mengetahui kesehatan fisik calon pengendara. Biar memudahkan kami sediakan, tetapi jika mau dilakukan di luar silakan," kata Nengah. Nengah juga menegaskan, bila tidak melakukan tes kesehatan di tempat pelayanan pembuatan dan perpanjangan SIM, maka pengendara tidak harus membayar biayanya. Tarif kesehatan yang dibayarkan di tempat layanan itu pun, kata dia, bukan berasal dari polisi. Penulis: Unoviana Kartika Editor: Bambang Priyo Jatmiko http://regional.kompas.com/read/2015/01/31/11593281/Berapa.Tarif.Resmi.Membuat.SIM.Baru.dan.Perpanjangan.