Selasa, 03 Maret 2015

Sadis, Video Adu Bocah Cilik


https://www.youtube.com/watch?v=8__NxcBCBdY berita dari : http://m.kompasiana.com/post/read/704731/3/sadis-video-adu-bocah-cilik.html

Senin, 02 Maret 2015

Mahalnya Harga Beras Membuat Mbah Rahma Mengkonsumsi Nasi Basi


TRIBUNNEWS.COM. BANYUWANGI- Mahalnya harga beras membuat Mbah Rahma (70) warga Lingkungan Jagalan, Kecamatan Rogojampi, mengonsumsi nasi aking, yaitu nasi basi yang dijemur lalu dimasak lagi. Rahma mendapatkan nasi basi tersebut dari sisa nasi milik tetangganya. "Mau beli beras sudah mahal," kata janda yang tinggal seorang diri saat ditemui Kompas.com, Senin (2/3/2015). Walaupun sudah berusia renta, dia mengaku masih bekerja untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari dengan mencari barang rongsokan yang kemudian dijual. "Sehari dapat uang antara Rp 5.000-10.000. Kalau sakit ya enggak kerja dan enggak dapat uang," kata dia dengan ramah. Nasi aking yang dimakannya, diolah sendiri dengan mengumpulkan nasi basi milik tetangga. Lalu nasi tersebut ia jemur di depan rumahnya dengan bantuan papan kayu. Sebelum ditanak, ia masih harus mencuci nasi aking berkali-kali agar bersih. Rahma mengaku agar terasa enak, dia mencampur nasi aking dengan parutan kelapa dan garam. "Kalau ada lauk yang dimakan, kalau enggak ada ya nasi ini aja. Bersyukur masih bisa makan," tutur dia. Menurut Rahma, jika ia tidak punya uang sama sekali, ia menjual nasi aking miliknya seharga Rp 2.500 per kilogram. "Kalau jual nasi aking paling banyak ya tiga kilo," ungkapnya. Ia bercerita, suaminya sudah meninggal dunia. Rahma pun mempunyai satu orang anak yang kini merantau ke Sumatera. "Anak saya sudah enggak ada kabarnya. Kadang-kadang kangen sama dia. Tapi gimana lagi," ungkap Rahma. Perempuan tua ini mengaku mendapatkan bantuan dari Pemerintah sebesar Rp 400 ribu, dan dia gunakan untuk menyewa tanah untuk tempat ia tinggal saat ini. "Dapat uang tapi buat bayar sewa tanah ini. Rp 400 ribu per tahun. Ini rumah saya, tapi tanahnya numpang," ujar dia. Rahma juga masih harus mengeluarkan uang untuk membeli minyak tanah untuk kayu bakar yang ia gunakan untuk memasak. "Harganya seliter antara Rp 16.000-20.000. Pakainya sedikit sedikit biar enggak cepet habis," kata dia. Tidak sendiri Bukan hanya Mbah Rahma yang mengkonsumsi nasi aking, tetangganya yaitu Mbah Sonah (80) juga memilih nasi aking sebagai makanan sehari-hari. Ia saat ini tinggal dengan dua cucunya, sedangkan anaknya bekerja sebagai nelayan dan tinggal di Banyuwangiselatan. "Mau beli beras mahal jadi saya ya makan nasi sisa. Kalau di sini namanya nasi karak," kata Sonah. Selain mendapatkan nasi basi dari para tetangganya, Sonah mengaku sering mendapatkan nasi basi saat mencuci di sungai. "Saya heran kok banyak orang yang buang-buang nasi. Saya sering dapat nasi dimasukkan di plastik lalu dibuang di sungai sama orang-orang. Biasanya saya bawa pulang. Saya jemur dan saya masak lagi buat makan," kata dia. (Kontributor Banyuwangi, Ira Rachmawati) http://m.tribunnews.com/regional/2015/03/02/mahalnya-harga-beras-membuat-mbah-rahma-mengkonsumsi-nasi-basi

Australia New Collected coins for USD 13 Million


TRIBUNNEWS.COM, Coalition Pro JAKARTA Indonesia together with the whole society continues to raise funds to restore Australia's aid. It is a protest Indonesian, Australian Prime Minister Tony Abbott because the offending aid to the country to Aceh, when two death row Australian drug cases will be executed. "It's been a week, we will collect until the execution, we will transfer to the Australian embassy," said Grace Himran, one member of the Coalition of Pro Indonesia from Aceh in roundabout HI, Sunday (03/01/2015). According to the government of a country not worth bringing up again the help that has been given. First aid to help disaster victims. "The statement is not wise Abbot of a head of state. There is immoral. Statement membua even angry," said Grace. Currently, the contribution of the new society collected Rp 13 million more. Coalition Pro Indonesia not concerned about the amount. They sure will coffers of dollars will be collected and channeled to help restore Australia. Naturally, if they are few. Because the form of dollars are collected only in the form of coins. It is recognized as a symbol of the little people were hurt. They hope that Australia gets a lesson from this. "Why do we gather coins, showed little concern for the people of Indonesia," he added.

Minggu, 22 Februari 2015

Quipped Australia, Tsunami Victims Action Degree Dig graves for offenders Dead


Banda Aceh-Dozens of victims of the tsunami in Aceh Barat staged a protest against the statement of Prime Minister, Tony Abbott who brought up the tsunami relief with remission of the death penalty. They dug the grave for two Australians who were sentenced to death for drug cases stumble in Denpasar, Bali. Two grave is dug tsunami victims in White Sand Beach, village of Ujong Kalak, Johan Pahlawan, West Aceh. Residents also brings a number of posters bearing inscriptions criticism of Tony Abbott. Grave was dug alongside the community. The action is a form of satire against Australian PM is considered to have hurt tsunami victims in Aceh. In a statement, Abbott returned rehash of Australia during the tsunami relief with remission of the death penalty against two of its citizens. A resident who joined this action, Edi Candra, say, two graves excavated for two Australians who will be executed for tripping drug cases. Both are Myuran Sukumaran and Andrew Chan, who is a member of the syndicate "Bali Nine". "This action is a form of reciprocation us against the Australians," said Andrew Chan, Sunday (02/22/2015). In addition to digging graves, victims of the tsunami in Aceh Barat also will raise jade to repay back the Australian aid granted to Aceh. They were also ready to restore Australia's aid if requested return. "Australian Prime Minister should not be brought up with the tsunami relief guardianship application of the death penalty. No tsunami aid relationship with the death penalty," he explained. (FJP / FJP)