Senin, 13 April 2015

Tak punya uang buat tebus istri dan anak di RS, Richie ngadu ke Ahok


Merdeka.com -Richie Dian Permana (31), warga Jalan Kedoya Selatan, RT 9/02, Kebon Jeruk, JakartaBarat mengadukan masalahnya ke Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Richie mengadu kalau tidak mampu menebus biaya persalinan istrinya Fenomena (33) usai melahirkan anaknya, Axelle Arziki Otadan dari Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Tambak. Richie bingung karena tidak mampu membayar biaya persalinan anak keduanya dari RSIA Tambak, Jakarta Pusat. Dia diminta pihak RS untuk membayar minimal 50 persen dari total biaya Rp 28 juta. "Ketika mau bawa istri dan anak pulang, saya diminta bayar rincian administrasi sebesar Rp 28 juta. Sampai saat ini, istri dan anak saya masih ditahan di rumah sakit. Mereka meminta uang jaminan 50 persen dari total tagihan," ungkapnya di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (13/4). Dia menceritakan, sebelum membawa ke RSIA Tambak, istrinya yang tengah mengandung dibawa ke Puskesmas Bidara Cina, Cawang, Jakarta Timur. Namun, di tengah perjalanan air ketuban istrinya tersebut pecah sehingga pada akhirnya dilarikan ke RSIA Tambak yang lokasinya tak jauh dari Puskesmas. "Karena panik, saya minta diantar ke rumah sakit terdekat sama orang Puskesmas, karena waktu itu situasi dan kondisinya mendesak. Istri saya masuk dari 3 April dan tiga hari lalu harusnya sudah boleh pulang. Tapi karena tidak punya uang, istri dan anak saya ditahan pihak rumah sakit," terangnya. Karena kehabisan akal, Richie mencoba memberanikan diri mengadukan persoalannya ini kepada Ahok. Sebagai bahan pertimbangan, dirinya membawa rincian biaya administrasi dari rumah sakit, surat keterangan lahiran, surat nikah, foto copy KTP dan Kartu Keluarga (KK). "Saya berharap Pak Gubernur kiranya dapat bantu meringankan beban saya dan mendengarkan keluh kesah saya," tutupnya. (mdk/eko) http://m.merdeka.com/jakarta/tak-punya-uang-buat-tebus-istri-dan-anak-di-rs-richie-ngadu-ke-ahok.html

Tak punya uang buat tebus istri dan anak di RS, Richie ngadu ke Ahok


Merdeka.com -Richie Dian Permana (31), warga Jalan Kedoya Selatan, RT 9/02, Kebon Jeruk, JakartaBarat mengadukan masalahnya ke Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Richie mengadu kalau tidak mampu menebus biaya persalinan istrinya Fenomena (33) usai melahirkan anaknya, Axelle Arziki Otadan dari Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Tambak. Richie bingung karena tidak mampu membayar biaya persalinan anak keduanya dari RSIA Tambak, Jakarta Pusat. Dia diminta pihak RS untuk membayar minimal 50 persen dari total biaya Rp 28 juta. "Ketika mau bawa istri dan anak pulang, saya diminta bayar rincian administrasi sebesar Rp 28 juta. Sampai saat ini, istri dan anak saya masih ditahan di rumah sakit. Mereka meminta uang jaminan 50 persen dari total tagihan," ungkapnya di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (13/4). Dia menceritakan, sebelum membawa ke RSIA Tambak, istrinya yang tengah mengandung dibawa ke Puskesmas Bidara Cina, Cawang, Jakarta Timur. Namun, di tengah perjalanan air ketuban istrinya tersebut pecah sehingga pada akhirnya dilarikan ke RSIA Tambak yang lokasinya tak jauh dari Puskesmas. "Karena panik, saya minta diantar ke rumah sakit terdekat sama orang Puskesmas, karena waktu itu situasi dan kondisinya mendesak. Istri saya masuk dari 3 April dan tiga hari lalu harusnya sudah boleh pulang. Tapi karena tidak punya uang, istri dan anak saya ditahan pihak rumah sakit," terangnya. Karena kehabisan akal, Richie mencoba memberanikan diri mengadukan persoalannya ini kepada Ahok. Sebagai bahan pertimbangan, dirinya membawa rincian biaya administrasi dari rumah sakit, surat keterangan lahiran, surat nikah, foto copy KTP dan Kartu Keluarga (KK). "Saya berharap Pak Gubernur kiranya dapat bantu meringankan beban saya dan mendengarkan keluh kesah saya," tutupnya. (mdk/eko) http://m.merdeka.com/jakarta/tak-punya-uang-buat-tebus-istri-dan-anak-di-rs-richie-ngadu-ke-ahok.html

Tak punya uang buat tebus istri dan anak di RS, Richie ngadu ke Ahok


Merdeka.com -Richie Dian Permana (31), warga Jalan Kedoya Selatan, RT 9/02, Kebon Jeruk, JakartaBarat mengadukan masalahnya ke Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Richie mengadu kalau tidak mampu menebus biaya persalinan istrinya Fenomena (33) usai melahirkan anaknya, Axelle Arziki Otadan dari Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Tambak. Richie bingung karena tidak mampu membayar biaya persalinan anak keduanya dari RSIA Tambak, Jakarta Pusat. Dia diminta pihak RS untuk membayar minimal 50 persen dari total biaya Rp 28 juta. "Ketika mau bawa istri dan anak pulang, saya diminta bayar rincian administrasi sebesar Rp 28 juta. Sampai saat ini, istri dan anak saya masih ditahan di rumah sakit. Mereka meminta uang jaminan 50 persen dari total tagihan," ungkapnya di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (13/4). Dia menceritakan, sebelum membawa ke RSIA Tambak, istrinya yang tengah mengandung dibawa ke Puskesmas Bidara Cina, Cawang, Jakarta Timur. Namun, di tengah perjalanan air ketuban istrinya tersebut pecah sehingga pada akhirnya dilarikan ke RSIA Tambak yang lokasinya tak jauh dari Puskesmas. "Karena panik, saya minta diantar ke rumah sakit terdekat sama orang Puskesmas, karena waktu itu situasi dan kondisinya mendesak. Istri saya masuk dari 3 April dan tiga hari lalu harusnya sudah boleh pulang. Tapi karena tidak punya uang, istri dan anak saya ditahan pihak rumah sakit," terangnya. Karena kehabisan akal, Richie mencoba memberanikan diri mengadukan persoalannya ini kepada Ahok. Sebagai bahan pertimbangan, dirinya membawa rincian biaya administrasi dari rumah sakit, surat keterangan lahiran, surat nikah, foto copy KTP dan Kartu Keluarga (KK). "Saya berharap Pak Gubernur kiranya dapat bantu meringankan beban saya dan mendengarkan keluh kesah saya," tutupnya. (mdk/eko) http://m.merdeka.com/jakarta/tak-punya-uang-buat-tebus-istri-dan-anak-di-rs-richie-ngadu-ke-ahok.html

Kamis, 09 April 2015

Pengakuan Calo Antrean Berobat Pasien BPJS


JAKARTA, KOMPAS.com – Praktik percaloan di Indonesia seakan tak ada habisnya. Tak hanya calo tiket penerbangan, kereta api, atau nonton bola, kini percaloan pun terjadi untuk antrean berobat bagi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan. Antrean panjang untuk mendapat pengobatan membuat calo bermunculan di rumah sakit. Mereka membantu pasien yang tidak bisa datang pagi untuk mengambil antrean. Sigit (bukan nama sebenarnya) mengaku sering membantu pasien atau keluarga pasien mengambil nomor antrean. “Saya bisa ambilin nomor antreannya. Mau dapat nomor satu pun bisa,” kata Sigit saat ditemui Kompas.comdi salah satu rumah sakit di Jakarta, Senin (6/4/2015). Ia bisa datang pukul 03.00 WIB untuk mengantre mengambil nomor. Padahal, pengambilan nomor baru dibuka pukul 06.00 WIB. Sigit mengungkapkan, pukul 03.00 saja antrean bisa mencapai 50 orang. “Pukul 05.00 saja biasanya nomor antrean sudah seratus,” lanjut Sigit. Sigit tak seorang diri. Ia mengaku memiliki empat orang teman yang juga biasa menjadi calo di rumah sakit. Menurut Sigit praktik percaloan sudah menjadi rahasia umum di seluruh rumah sakit. “Semua temen-temen saya juga. Biasanya satu orang ngambilin satu nomor saja,” kata Sigit. Tak hanya mengambil nomor antrean. Menurut Sigit, ia juga bisa membantu mengurus berkas-berkas yang dibawa pasien ke loket berikutnya, seperti berkas rujukan ke rumah sakit. Setelah itu, pasien pun tak perlu datang terlalu pagi. Menurut Sigit, pasien cukup datang sekitar pukul 08.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB. Sementara itu, jika tanpa bantuan calo dan pasien baru datang pukul 08.00, nomor antrean bisa mencapai 400 orang. Kemudian pukul 10.00 biasanya sudah mencapai 700. Tentunya ada upah yang diberikan untuk para calo ini. Namun, Sigit mengaku tidak memiliki patokan harga. Sigit mengatakan, biasanya tak lebih dari Rp 50.000. “Sayamahdikasih berapa saja ya terima. Terserah saja yang ngasih berapa,” kata Sigit. Praktik percaloan ini memang menguntungkan bagi pasien yang memiliki uang lebih untuk membayar calo. Namun, sangat merugikan bagi pasien tidak mampu karena mereka tidak memiliki dana lebih untuk membayar calo sehingga terkadang harus menunggu lama, bahkan baru keesokan harinya dilayani berobat karena nomor antrean sudah tutup. Pada pasien rumah sakit rujukan nasional yang berasal dari luar kota dan tidak mampu, terkadang mereka terpaksa menginap di lobi rumah sakit untuk mendapatkan nomor antrean. Penulis: Dian Maharani Editor: Lusia Kus Anna http://health.kompas.com/read/2015/04/09/173700823/Pengakuan.Calo.Antrean.Berobat.Pasien.BPJS