Senin, 20 April 2015

Kisah pilu Ketut, cacat tanpa kaki tak lagi dapat bantuan pemerintah


Merdeka.com -Ketut Suarma (40), warga Banjar Dangintukadaya, Desa Dangintukadaya, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana, Bali adalah penyandang cacat permanen sejak lahir. Jika dia bergerak, kakinya diseret dengan tumpuan kedua tangannya. Minggu (19/4) sore, Ketut menjadi pusat perhatian warga dan pengguna jalan Denpasar-Gilimanuk, karena penyandang cacat ini tiba-tiba muncul melintasi jalan raya yang padat arus lalu lintasnya. Ketut Permadi kakak dari Suarma yang ditemui di rumahnya, Minggu (19/4) petang menuturkan, adiknya memang termasuk kurang mampu karena keterbatasannya tersebut. Adiknya memang cacat sejak kecil. Dia dirawat bergantian oleh keluarganya. Kadang dia juga berusaha bekerja dengan kondisinya seperti itu lantaran malu terus-terusan merepotkan keluarganya. Menurut Parmadi, adiknya itu tidak mendapat bantuan raskin namun mendapat bantuan dari Kemensos Rp 300 ribu sebulan. Sayangnya menurut Parmadi, sejak bulan November 2014 hingga April 2015 adiknya tidak pernah lagi mendapat bantuan dari Kemensos. "Kami juga tidak tahu apakah dapat atau tidak lagi bulan-bulan berikutnya. Namun kartu asistensi sosial dengan penyandang cacat disabilitas berat tahun 2014 masih ada. Biasanya memang dirapel empat bulan dapat Rp 1,2 juta. Kami kalau mau mengambil ke kantor pos sering diberi tahu pihak desa, namun sejak November tahun lalu tidak pernah ada," terang Permadi. Sementara itu Kadis Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Wayan Gorim dikonfirmasi mengatakan, untuk saat ini yang sudah cair untuk bantuan penyandang cacat bulan Januari, Februari dan Maret 2015. "Tapi kalau terkait bantuan untuk Pak Suarma coba dikonfirmasikan kepada pihak desa, karena data basenya ada di desa," jelasnya. (mdk/rnd) http://m.merdeka.com/peristiwa/kisah-pilu-ketut-cacat-tanpa-kaki-tak-lagi-dapat-bantuan-pemerintah.html

Jumat, 17 April 2015

Cerita haru si penarik becak yang sekolahkan 300 anak miskin


Merdeka.com -Nama Bai Fang Li masih harum hingga saat ini di negeri Tianjin, China. Dia adalah si penarik becak yang dikenal mempunyai hati emas. Cerita kebaikan Fang Li tersohor meski itu telah terjadi 1987 silam. Semula Bai adalah pensiunan yang sengaja pulang ke kampungnya. Suatu kali dia melihat banyak anak-anak miskin yang bekerja di ladang dan sawah. "Dia bertanya kenapa banyak anak-anak tidak sekolah. Lalu saya katakan bahwa mereka terlalu miskin untuk membayar uang sekolah. ayah lalu khawatir dan menyumbangkan 5000 yuan untuk sekolah di kampung halaman kami," kata anak Bai, Bai Jin Feng dikutip china.org, Jumat (16/4). Bai masih merasa tidak cukup untuk membantu anak-anak itu sampai akhirnya dia memutuskan menjadi penarik becak di umurnya yang sudah 74 tahun. Anak-anaknya mengingatkan agar Bai tidak menarik becak apalagi pendengarannya sudah berkurang, nasehat anaknya Bai acuhkan. Selama mungkin Bai mangkal di pinggir rel untuk menanti penumpangnya. "Dia selalu berangkat subuh dan pulang saat sudah gelap lagi. Dia mengumpulkan 20 sampai 30 yuan perhari. Saat pulang ke rumah dia simpan uang itu baik-baik," tandas anak Bai lagi. Kemudian, untuk memperbesar usahanya, memenuhi kebutuhan anak asuhnya, Bai pindah ke rumah yang hanya mempunyai satu ruang. Rumah tersebut berada di pinggir rel yang memungkinkan dia melayani penumpang selama 24 jam. Kesungguhannya makin besar, dia hanya makan makanan seadanya dan memakai baju bekas yang dia temukan. "Dia tidak pernah lupa untuk memberi uang ke sekolah bahkan mengomeli kami agar benar-benar menyampaikan uangnya ke sekolah. Setiap dia memberikan uang itu dia merasa senang dan dia katakan kalau dia menuntaskan misinya lagi," kata Xu Xiu Xiang, pekerja di yayasan pendukung pendidikan. Suatu hari, di umurnya yang hampir 90 tahun, dengan badannya yang kian ringkih, Bai datang ke sekolah Tianjin Yao Hua untuk menyerahkan sekotak uang terakhir yang bisa dia kumpulkan. "Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan," ucap dia sedih "Saya harap anak-anak bisa terus sekolah yang rajin dan bisa dapatkan pekerjaan lalu berkontribusi kepada negara kita" pesan Bai. Pesan Bai ini pun disambut tangisan histeris anak-anak asuh Bai. Di tahun 2005, Bai benar-benar meninggalkan 300 anak asuh yang dia biayai selama dua dekade. Bai didiagnosa menderita kanker paru-paru. Sampai akhir hidupnya Bai terhitung telah menyumbangkan 350 ribu Yuan atau sekitar Rp500 juta. Untuk menghargai jasa Bai, warga sekitar Tian Jin membangun monumen Bai. Bai bagai orang Tian Jian adalah pahlawan mereka yang tidak bisa tergantikan. http://m.merdeka.com/peristiwa/cerita-haru-si-penarik-becak-yang-sekolahkan-300-anak-miskin.html

Kamis, 16 April 2015

Bayi Perempuan Ditemukan di Kantong Plastik di Spion Mobil


Kamis, 16 April 2015 | 15:11 WIB SURABAYA, KOMPAS.com- Seorang bayi dalam kondisi hidup ditemukan terkait di spion sebuah mobil di Jalan Manyar Tirto Asri Surabaya, Kamis (16/4/2015) siang. Bayi berjenis kelamin perempuan itu terbungkus tas plastik berwarna hitam. Saat ditemukan Wasri, mulut bayi dalam kondisi ditutup lakban. Namun lubang hidung masih terbuka separuh sehingga bayi yang diperkirakan berusia belum sehari itu masih bisa bernafas. Wasri yang saat itu akan berjalan ke toko di ujung jalan menghentikan langkahnya saat mendengar sayup-sayup tangis bayi. "Ternyata ada di kresek di spion mobil. Waktu saya ambil bayi itu masih banyak darahnya," ujar Wasri. Bersama beberapa warga sekitar, dirinya langsung membawa bayi tersebut ke RS Umum Haji Surabaya. Menurut keterangan Bidan RS Haji Sukolilo, Diah Kartika, saat dibawa warga ke rumah sakit, bayi tersebut dalam kondisi membiru. "Itu karena hawa dingin. Terlebih lagi turun hujan malam tadi. Saat ini, bayi itu sudah mendapat penanganan intensif," kata Diah. Selain itu, bagian tali pusar bayi terus mengeluarkan darah segar. Diduga, pemotongan bukan secara medis. "Ini bisa dilihat hasil potongannya. Terlalu pendek dan hanya ditutup dengan pembungkus seadanya sehingga darahnya terus merembes dari pusarnya," terangnya. Penulis: Kontributor Surabaya, Achmad Faizal Editor: Caroline Damanik http://regional.kompas.com/read/2015/04/16/15110571/Bayi.Perempuan.Ditemukan.di.Kantong.Plastik.di.Spion.Mobil

Senin, 13 April 2015

Tak punya uang buat tebus istri dan anak di RS, Richie ngadu ke Ahok


Merdeka.com -Richie Dian Permana (31), warga Jalan Kedoya Selatan, RT 9/02, Kebon Jeruk, JakartaBarat mengadukan masalahnya ke Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Richie mengadu kalau tidak mampu menebus biaya persalinan istrinya Fenomena (33) usai melahirkan anaknya, Axelle Arziki Otadan dari Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Tambak. Richie bingung karena tidak mampu membayar biaya persalinan anak keduanya dari RSIA Tambak, Jakarta Pusat. Dia diminta pihak RS untuk membayar minimal 50 persen dari total biaya Rp 28 juta. "Ketika mau bawa istri dan anak pulang, saya diminta bayar rincian administrasi sebesar Rp 28 juta. Sampai saat ini, istri dan anak saya masih ditahan di rumah sakit. Mereka meminta uang jaminan 50 persen dari total tagihan," ungkapnya di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (13/4). Dia menceritakan, sebelum membawa ke RSIA Tambak, istrinya yang tengah mengandung dibawa ke Puskesmas Bidara Cina, Cawang, Jakarta Timur. Namun, di tengah perjalanan air ketuban istrinya tersebut pecah sehingga pada akhirnya dilarikan ke RSIA Tambak yang lokasinya tak jauh dari Puskesmas. "Karena panik, saya minta diantar ke rumah sakit terdekat sama orang Puskesmas, karena waktu itu situasi dan kondisinya mendesak. Istri saya masuk dari 3 April dan tiga hari lalu harusnya sudah boleh pulang. Tapi karena tidak punya uang, istri dan anak saya ditahan pihak rumah sakit," terangnya. Karena kehabisan akal, Richie mencoba memberanikan diri mengadukan persoalannya ini kepada Ahok. Sebagai bahan pertimbangan, dirinya membawa rincian biaya administrasi dari rumah sakit, surat keterangan lahiran, surat nikah, foto copy KTP dan Kartu Keluarga (KK). "Saya berharap Pak Gubernur kiranya dapat bantu meringankan beban saya dan mendengarkan keluh kesah saya," tutupnya. (mdk/eko) http://m.merdeka.com/jakarta/tak-punya-uang-buat-tebus-istri-dan-anak-di-rs-richie-ngadu-ke-ahok.html

Tak punya uang buat tebus istri dan anak di RS, Richie ngadu ke Ahok


Merdeka.com -Richie Dian Permana (31), warga Jalan Kedoya Selatan, RT 9/02, Kebon Jeruk, JakartaBarat mengadukan masalahnya ke Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Richie mengadu kalau tidak mampu menebus biaya persalinan istrinya Fenomena (33) usai melahirkan anaknya, Axelle Arziki Otadan dari Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Tambak. Richie bingung karena tidak mampu membayar biaya persalinan anak keduanya dari RSIA Tambak, Jakarta Pusat. Dia diminta pihak RS untuk membayar minimal 50 persen dari total biaya Rp 28 juta. "Ketika mau bawa istri dan anak pulang, saya diminta bayar rincian administrasi sebesar Rp 28 juta. Sampai saat ini, istri dan anak saya masih ditahan di rumah sakit. Mereka meminta uang jaminan 50 persen dari total tagihan," ungkapnya di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (13/4). Dia menceritakan, sebelum membawa ke RSIA Tambak, istrinya yang tengah mengandung dibawa ke Puskesmas Bidara Cina, Cawang, Jakarta Timur. Namun, di tengah perjalanan air ketuban istrinya tersebut pecah sehingga pada akhirnya dilarikan ke RSIA Tambak yang lokasinya tak jauh dari Puskesmas. "Karena panik, saya minta diantar ke rumah sakit terdekat sama orang Puskesmas, karena waktu itu situasi dan kondisinya mendesak. Istri saya masuk dari 3 April dan tiga hari lalu harusnya sudah boleh pulang. Tapi karena tidak punya uang, istri dan anak saya ditahan pihak rumah sakit," terangnya. Karena kehabisan akal, Richie mencoba memberanikan diri mengadukan persoalannya ini kepada Ahok. Sebagai bahan pertimbangan, dirinya membawa rincian biaya administrasi dari rumah sakit, surat keterangan lahiran, surat nikah, foto copy KTP dan Kartu Keluarga (KK). "Saya berharap Pak Gubernur kiranya dapat bantu meringankan beban saya dan mendengarkan keluh kesah saya," tutupnya. (mdk/eko) http://m.merdeka.com/jakarta/tak-punya-uang-buat-tebus-istri-dan-anak-di-rs-richie-ngadu-ke-ahok.html

Tak punya uang buat tebus istri dan anak di RS, Richie ngadu ke Ahok


Merdeka.com -Richie Dian Permana (31), warga Jalan Kedoya Selatan, RT 9/02, Kebon Jeruk, JakartaBarat mengadukan masalahnya ke Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Richie mengadu kalau tidak mampu menebus biaya persalinan istrinya Fenomena (33) usai melahirkan anaknya, Axelle Arziki Otadan dari Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Tambak. Richie bingung karena tidak mampu membayar biaya persalinan anak keduanya dari RSIA Tambak, Jakarta Pusat. Dia diminta pihak RS untuk membayar minimal 50 persen dari total biaya Rp 28 juta. "Ketika mau bawa istri dan anak pulang, saya diminta bayar rincian administrasi sebesar Rp 28 juta. Sampai saat ini, istri dan anak saya masih ditahan di rumah sakit. Mereka meminta uang jaminan 50 persen dari total tagihan," ungkapnya di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (13/4). Dia menceritakan, sebelum membawa ke RSIA Tambak, istrinya yang tengah mengandung dibawa ke Puskesmas Bidara Cina, Cawang, Jakarta Timur. Namun, di tengah perjalanan air ketuban istrinya tersebut pecah sehingga pada akhirnya dilarikan ke RSIA Tambak yang lokasinya tak jauh dari Puskesmas. "Karena panik, saya minta diantar ke rumah sakit terdekat sama orang Puskesmas, karena waktu itu situasi dan kondisinya mendesak. Istri saya masuk dari 3 April dan tiga hari lalu harusnya sudah boleh pulang. Tapi karena tidak punya uang, istri dan anak saya ditahan pihak rumah sakit," terangnya. Karena kehabisan akal, Richie mencoba memberanikan diri mengadukan persoalannya ini kepada Ahok. Sebagai bahan pertimbangan, dirinya membawa rincian biaya administrasi dari rumah sakit, surat keterangan lahiran, surat nikah, foto copy KTP dan Kartu Keluarga (KK). "Saya berharap Pak Gubernur kiranya dapat bantu meringankan beban saya dan mendengarkan keluh kesah saya," tutupnya. (mdk/eko) http://m.merdeka.com/jakarta/tak-punya-uang-buat-tebus-istri-dan-anak-di-rs-richie-ngadu-ke-ahok.html

Kamis, 09 April 2015

Pengakuan Calo Antrean Berobat Pasien BPJS


JAKARTA, KOMPAS.com – Praktik percaloan di Indonesia seakan tak ada habisnya. Tak hanya calo tiket penerbangan, kereta api, atau nonton bola, kini percaloan pun terjadi untuk antrean berobat bagi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan. Antrean panjang untuk mendapat pengobatan membuat calo bermunculan di rumah sakit. Mereka membantu pasien yang tidak bisa datang pagi untuk mengambil antrean. Sigit (bukan nama sebenarnya) mengaku sering membantu pasien atau keluarga pasien mengambil nomor antrean. “Saya bisa ambilin nomor antreannya. Mau dapat nomor satu pun bisa,” kata Sigit saat ditemui Kompas.comdi salah satu rumah sakit di Jakarta, Senin (6/4/2015). Ia bisa datang pukul 03.00 WIB untuk mengantre mengambil nomor. Padahal, pengambilan nomor baru dibuka pukul 06.00 WIB. Sigit mengungkapkan, pukul 03.00 saja antrean bisa mencapai 50 orang. “Pukul 05.00 saja biasanya nomor antrean sudah seratus,” lanjut Sigit. Sigit tak seorang diri. Ia mengaku memiliki empat orang teman yang juga biasa menjadi calo di rumah sakit. Menurut Sigit praktik percaloan sudah menjadi rahasia umum di seluruh rumah sakit. “Semua temen-temen saya juga. Biasanya satu orang ngambilin satu nomor saja,” kata Sigit. Tak hanya mengambil nomor antrean. Menurut Sigit, ia juga bisa membantu mengurus berkas-berkas yang dibawa pasien ke loket berikutnya, seperti berkas rujukan ke rumah sakit. Setelah itu, pasien pun tak perlu datang terlalu pagi. Menurut Sigit, pasien cukup datang sekitar pukul 08.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB. Sementara itu, jika tanpa bantuan calo dan pasien baru datang pukul 08.00, nomor antrean bisa mencapai 400 orang. Kemudian pukul 10.00 biasanya sudah mencapai 700. Tentunya ada upah yang diberikan untuk para calo ini. Namun, Sigit mengaku tidak memiliki patokan harga. Sigit mengatakan, biasanya tak lebih dari Rp 50.000. “Sayamahdikasih berapa saja ya terima. Terserah saja yang ngasih berapa,” kata Sigit. Praktik percaloan ini memang menguntungkan bagi pasien yang memiliki uang lebih untuk membayar calo. Namun, sangat merugikan bagi pasien tidak mampu karena mereka tidak memiliki dana lebih untuk membayar calo sehingga terkadang harus menunggu lama, bahkan baru keesokan harinya dilayani berobat karena nomor antrean sudah tutup. Pada pasien rumah sakit rujukan nasional yang berasal dari luar kota dan tidak mampu, terkadang mereka terpaksa menginap di lobi rumah sakit untuk mendapatkan nomor antrean. Penulis: Dian Maharani Editor: Lusia Kus Anna http://health.kompas.com/read/2015/04/09/173700823/Pengakuan.Calo.Antrean.Berobat.Pasien.BPJS

Rabu, 08 April 2015

Bocah 8 Tahun Dianiaya Ibu Tiri Karena Telur Goreng


Situbondo- Gara-gara minta telur goreng, seorang bocah 8 tahun di Situbondo jadi korban penganiayaan ibu tiri. Tak hanya menganiaya, si ibu tiri yang bernama Fatimah (42), juga tega menyekap korban yang masih duduk di bangku kelas 2 SDN, di dalam rumahnya di Desa Sumberwaru Kecamatan Banyuputih. Aksi penganiayaan dan penyekapan ini dibongkar aparat kepolisian, setelah menerima pengaduan dari pihak sekolah. Saat didatangi polisi, korban dalam keadaan telanjang di dalam rumahnya. Terdapat sejumlah luka lecet dan luka memar di tubuh korban. "Waktu itu korban hanya bersama ibu tirinya di rumah. Kondisinya memang memprihatinkan, saat itu korban bertelanjang. Di dalam rumah banyak butiran nasi. Makanya korban langsung saya bawa ke Polsek," kata Bripka Yoyok Arianto, anggota Polsek Banyuputih yang menjemput korban ke rumahnya, Rabu (8/4/2015). Keterangan yang diperoleh detikcom menyebutkan, selama ini aksi penganiayaan si ibu tiri, Fatimah, sudah sering dialami korban. Aksi penganiayaan itu biasa dilakukan, saat ayah korban, Fauzi, sedang di luar kota untuk menjalankan profesinya sebagai sopir sebuah perusahaan minuman ringan. Pagi tadi, aksi penganiayaan kembali dilakukan si ibu tiri. Kali ini, penganiayaan dipicu soal menu sarapan korban. Saat itu, bocah 8 tahun yang ditinggal meninggal ibu kandungnya itu hanya disuguhi sarapan nasi putih oleh si ibu tiri. Korban pun minta digorengkan telur untuk lauk makannya. Mendapati permintaan anak tirinya itu, Fatimah jadi marah-marah dan langsung menganiaya korban. Korban pun berontak dan sempat berusaha lari ke rumah neneknya. Namun korban terjatuh hingga berhasil dikejar si ibu tiri. Seketika itu pula korban langsung dibawa pulang dan pintu rumah ditutup. Beruntung, tangisan korban didengar salah satu tetangganya hingga langsung mengadukan kejadian itu ke pihak sekolah korban dan diteruskan ke polisi. Kasubbag Humas Polres Situbondo, Ipda Nanang Priambodo mengatakan, laporan dugaan penganiayaan anak dibawah umur itu baru saja diterimanya. Saat ini masih dilakukan pemeriksaan terhadap bibi korban, Suhaeni (33), yang jadi pelapor dalam kasus tersebut. Menurut Nanang, pihak polisi juga baru saja selesai memintakan visum korban ke RSUD dr Abdoer Rahem Situbondo. "Terkait dugaan penyekapan masih kami dalami. Yang jelas, ada indikasi kalau korban dibatasi ruang geraknya dalam rumah. Kalau terbukti, terlapor terancam dijerat dengan pasal 80 ayat (1) UU 23 tahun 2002, tentang Perlindungan Anak," papar Nanang. http://m.detik.com/surabaya/read/2015/04/08/160243/2881517/475/bocah-8-tahun-dianiaya-ibu-tiri-karena-telur-goreng

Minggu, 05 April 2015

Demi Urus Ibu yang Sakit Menahun, Bocah Akbar Putus Sekolah


MAJENE, KOMPAS.com -Demi mengurus ibunya yang lumpuh dan terbaring lemah, Akbar, bocah 13 tahun asal Lembang, Kelurahan Lembang, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, memilih mengorbankan masa depannya. Dia memilih berhenti sekolah dan berkonsentrasi mengurus ibunya yang sakit. Sementara kakaknya, Rosita Pratiwi yang kini menempuh pendidikan di SMKN 1 Majene, kini juga terancam putus sekolah, karena alasan biaya. Akbar tamat sekolah dasar di SDN 11 Baurung tahun lalu. Teman sekelasnya yang lebih beruntung nasibnya kini sudah duduk dibangku kelas VII SMP. Selain harus mengurus ibu, alasan biaya pun menyebabkan Akbar putus sekolah. Kini, setiap hari Akbar-lah yang memasak dan menyuapi ibunya. "Sebenarnya saya mau sekolah, tapi kasihan ibu saya sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa di tempat tidurnya. Karenanya saya putuskan untuk mengurus kebutuhan ibu saya,” tutur Akbar ketika ditemui di rumahnya. Ibunya, Husnia (48) terbaring lemah karena sakit maag kronis dan asam urat. Husnia terbaring beralaskan kasur tua yang warnanya sudah coklat kehitaman. Dedaunan yang menempel di wajah, leher, dan dadanya menjadi obat untuk menurunkan rasa sakit. Di samping tempat tidur Husnia terlihat mangkuk berwarna jingga berisi bubur dan ditutup dengan tutup panci. Husnia hanya makan satu sampai dua sendok sekali makan. Sebenarnya, Husnia pernah dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Majene, namun karena alasan biaya pula dia pulang ke rumahnya. Rumah mereka adalah sebuah gubuk kecil berukuran 3x4 meter yang terletak di belakang pemukiman penduduk dan berdampingan dengan kandang ayam milik warga. Akbar adalah anak ketiga dari dua bersaudara. Kakak pertamanya Ramli merantau ke Kalimantan dengan harapan bisa mmeperbaiki taraf hidup keluarganya. Akbar memiliki lima saudara tiri, kelimanya tinggal jauh di luar kota dan semuanya telah berkeluarga. Hanya Akbar yang tinggal bersama kakak dan ibunya di gubuk yang nyaris roboh itu. Rumah panggung yang tingginya hanya setengah meter dari tanah ini ditopang tiang kayu yang sudah lapuk termakan usia. Atap rumbia yang sudah bocor membuat mereka kerap kehujanan. Di dalamnya hanya ada beberapa piring, baskom dan botol plastik yang berserakan di lantai rumah. Bau tidak sedap yang menyengat hidung menambah kumuh gubuk tua yang berada persis di dekat usaha peternakan ayam pedaging milik tetangganya. Ayah Akbar, Muhammad Daeng Situju, sudah sangat tua. Usianya sudah 80 tahun. Konon, Situju pun masih bekerja serabutan. Situju merantau ke Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah untuk menafkahi istri dan kedua anaknya itu. Setiap bulan, Situju hanya mengirimkan biaya hidup keluarga yang jumlahnya jauh dari cukup. "Bapakku sudah tua, sudah tidak kuat bekerja, dia hanya mengirim uang Rp 300.000 atau paling banyak Rp 500.000 yang dia kirim. Ya itu tidak cukup untuk biaya sehari-hari, tapi kami berusaha menggunakannya seirit mungkin," kata Rosita, kakak Akbar. Penulis: Kontributor Polewali, Junaedi Editor: Glori K. Wadrianto http://regional.kompas.com/read/2015/04/02/10294661/Demi.Urus.Ibu.yang.Sakit.Menahun.Bocah.Akbar.Putus.Sekolah.?utm_campaign=related&utm_medium=mobile&utm_source=news&

Sabtu, 04 April 2015

Kisah Nenek Marni, jalan kaki keliling Jakarta jualan tisu


Merdeka.com -"Ini nak, tisu, Rp 5 ribu saja," ujar wanita renta dengan sempoyongan mendekati pembeli yang sedang makan di warung pecel ayam di sekitar Mall Ambassador, JakartaSelatan, Jumat (3/4) malam. Dengan badan yang sudah membungkuk, wanita renta tersebut menawarkan berbagai dagangan, seperti tisu, pasta gigi, lotion pencegah nyamuk, minyak angin, sabun mandi, rokok, dan beberapa kebutuhan lainnya. Barang-barang dagangannya itu dia taruh di dalam plastik kresek ukuran sedang. Tak banyak dagangan yang dia bawa. "Ini untuk menyambung hidup, daripada minta-minta nak," kata wanita bernama Marni itu saat ditanya merdeka.comkenapa di usia senja masih jualan keliling Jakarta dengan jalan kaki. Dengan suara bergetar dan terbata-bata, wanita berusia 72 tahun ini menceritakan, bekerja di Jakarta sebagai penjual tisu keliling adalah prinsip hidup. "Saya tidak mau diatur-atur sama anak saya," katanya yang mengaku memiliki 5 orang anak dan 12 cucu itu. "Mereka tersebar, ada yang di Pasar Minggu, tapi saya tak tahu tempatnya," imbuh wanita asal Indramayu, Jawa Barat tersebut. Berapa penghasilan setiap hari dengan jualan tisu dll tersebut? Nenek Marni tersenyum malu saat menjawabnya. Berulang-ulang merdeka.com harus mengulang pertanyaan dengan suara yang lebih keras lantaran pendengaran nenek Marni sudah berkurang. "Sehari biasanya dapat Rp 60.000 sampai Rp 70.000, itu lakunya, bukan untungnya," ungkap Nenek Marni tanpa mau menyebut berapa keuntungan per hari jika barangnya cuma laku Rp 60-70 ribu per hari tersebut. "Ya nanti diputer lagi uangnya buat beli barang-barang, dijual lagi," ceritanya. Setiap hari, Nenek Marni berangkat kerja jualan keliling Jakarta setelah salat subuh, dan pulang hingga larut malam. "Habis salat subuh, saya berangkat. Ini belum pulang (Pukul 19.00 WIB) karena baru dapat uang Rp 30.000. Kalau sudah dapat Rp 60.000 baru pulang," kata Nenek Marni. Di Jakarta, Nenek Marni mengaku cuma numpang kepada orang-orang yang mau ditumpangi. Sehingga tiap malam tak tentu dia menginap di mana. "Sekarang nginap di rumah Ibu Asiyah di Setiabudi, nginep semalam," imbuhnya. Wanita yang cuma bisa jalan pelan-pelan ini menuturkan, dirinya cuma bisa berdoa kepada Tuhan agar tetap bisa bekerja menghidupi dirinya tanpa tergantung pada orang lain. "Saya tiap salat berdoa kepada Allah, semoga terus sehat biar bisa bekerja," ujarnya sambil berkaca-kaca. http://m.merdeka.com/peristiwa/kisah-nenek-marni-jalan-kaki-keliling-jakarta-jualan-tisu.html

Jumat, 03 April 2015

Kisah Nenek Penjual Gemblong Memancing Simpati Ribuan Netizen


TRIBUNNEWS.COM -Kisah mengharukan wanita tua penjual gemblong yang dibagikan Ernydar Irfan kini ramai diperbincangkan di media sosial. Dalam cerita tersebut, Wanita tua penjual gemblong tersebut menangis akibat merasa malu karena mengira seorang pembeli tidak menyukai gemblong jualannya. Hingga kini, nenek tersebut masih belum diketahui keberadaannya. Kendati begitu, kisah tersebut mampu menyedot perhatian serta iba para netizen. Pada akun facebookgrup @SumedangTandang Akun @Meysa Murbhakti mengatakan, “Ya Robb.. kuatkanlah ibu ini, gampangkanlah rizki ibu ini, sehatkan ibu ini. Pagi-pagi udah mencucurkan air mata melhat kisah ibu ini. Semoga pemerintah lebih peka terhadap masyarakat yang kurang mampu dan yang sudah jompo-jompo karena di sekitar kita masih banyak orang yang membutuhkan bantuan kita,” tulisnya. Lalu ada juga pengguna Facebook dengan nama akun @Nabila L. Shafana “Sudah tua tapi semangatnya luar bisa, berusaha sekuat tenaga daripada harus mengemis minta dikasihani,” tulisnya. @Arifin Saputra Sungguh kasian nasib ibu itu pintu hati saya sampai terketuk mendengarnya,” tulisnya. Dalam Kutipan Cerita tersebut diceritakan sang wanita tua penjual gemblong ini mengetuk pintu rumah seseorang untuk menawarkan dagangannya yakni kue gemblong. Dalam cerita tersebut sang pemilik rumah yang melihat kondisi wanita penjual gemblong seperti terlihat sangat lelah dengan banjir keringat serta tentengan kotak kue gemblong. Singkat cerita sang pemilik rumah merasa iba karena mendengar cerita sang wanita tua penjual gemblong mengatakan bahwa sejauh ia berkeliling belum ada satupun kuenya yang terjual. Sementara ia harus memberi makan keluarganya. Sang pemilik rumah memberinya uang untuk dibelikannya beras serta ongkos pulang pergi naik ojek. Selain itu sang pemilik rumah yang murah hati tersebut menyuruh agar kue gemblong tersebut dibagikan saja di jalan. Sang penjual kue gemblong menangis setelah si pemilik rumah memberinya uang namun tidak membeli kue gemblongnya. ““Bu.. Saya gak mau ke sini lagi… Saya malu…. Ibu gak doyan kue jualan saya… Ibu cuma kasihan sama saya… Saya malu,” ujar si penjual gemblong sambil menangis memeluk sang pemilik rumah. Sambil tersenyum sang pemilik rumah yang baik hati mengatakan bahwa alasannya tidak membeli kue gemblongnya, karena si pemilik rumah sudah merasa kekenyangan. “Ibu, saya doyan kue jualan Ibu, tapi saya kenyang… Sementara di luar pasti banyak yang lapar dan belum tentu punya makanan. Sekarang Ibu pulang ya,” kata sang pemilik rumah. http://m.tribunnews.com/regional/2015/04/03/kisah-nenek-penjual-gemblong-memancing-simpati-ribuan-netizen