Sabtu, 04 April 2015

Kisah Nenek Marni, jalan kaki keliling Jakarta jualan tisu


Merdeka.com -"Ini nak, tisu, Rp 5 ribu saja," ujar wanita renta dengan sempoyongan mendekati pembeli yang sedang makan di warung pecel ayam di sekitar Mall Ambassador, JakartaSelatan, Jumat (3/4) malam. Dengan badan yang sudah membungkuk, wanita renta tersebut menawarkan berbagai dagangan, seperti tisu, pasta gigi, lotion pencegah nyamuk, minyak angin, sabun mandi, rokok, dan beberapa kebutuhan lainnya. Barang-barang dagangannya itu dia taruh di dalam plastik kresek ukuran sedang. Tak banyak dagangan yang dia bawa. "Ini untuk menyambung hidup, daripada minta-minta nak," kata wanita bernama Marni itu saat ditanya merdeka.comkenapa di usia senja masih jualan keliling Jakarta dengan jalan kaki. Dengan suara bergetar dan terbata-bata, wanita berusia 72 tahun ini menceritakan, bekerja di Jakarta sebagai penjual tisu keliling adalah prinsip hidup. "Saya tidak mau diatur-atur sama anak saya," katanya yang mengaku memiliki 5 orang anak dan 12 cucu itu. "Mereka tersebar, ada yang di Pasar Minggu, tapi saya tak tahu tempatnya," imbuh wanita asal Indramayu, Jawa Barat tersebut. Berapa penghasilan setiap hari dengan jualan tisu dll tersebut? Nenek Marni tersenyum malu saat menjawabnya. Berulang-ulang merdeka.com harus mengulang pertanyaan dengan suara yang lebih keras lantaran pendengaran nenek Marni sudah berkurang. "Sehari biasanya dapat Rp 60.000 sampai Rp 70.000, itu lakunya, bukan untungnya," ungkap Nenek Marni tanpa mau menyebut berapa keuntungan per hari jika barangnya cuma laku Rp 60-70 ribu per hari tersebut. "Ya nanti diputer lagi uangnya buat beli barang-barang, dijual lagi," ceritanya. Setiap hari, Nenek Marni berangkat kerja jualan keliling Jakarta setelah salat subuh, dan pulang hingga larut malam. "Habis salat subuh, saya berangkat. Ini belum pulang (Pukul 19.00 WIB) karena baru dapat uang Rp 30.000. Kalau sudah dapat Rp 60.000 baru pulang," kata Nenek Marni. Di Jakarta, Nenek Marni mengaku cuma numpang kepada orang-orang yang mau ditumpangi. Sehingga tiap malam tak tentu dia menginap di mana. "Sekarang nginap di rumah Ibu Asiyah di Setiabudi, nginep semalam," imbuhnya. Wanita yang cuma bisa jalan pelan-pelan ini menuturkan, dirinya cuma bisa berdoa kepada Tuhan agar tetap bisa bekerja menghidupi dirinya tanpa tergantung pada orang lain. "Saya tiap salat berdoa kepada Allah, semoga terus sehat biar bisa bekerja," ujarnya sambil berkaca-kaca. http://m.merdeka.com/peristiwa/kisah-nenek-marni-jalan-kaki-keliling-jakarta-jualan-tisu.html

Jumat, 03 April 2015

Kisah Nenek Penjual Gemblong Memancing Simpati Ribuan Netizen


TRIBUNNEWS.COM -Kisah mengharukan wanita tua penjual gemblong yang dibagikan Ernydar Irfan kini ramai diperbincangkan di media sosial. Dalam cerita tersebut, Wanita tua penjual gemblong tersebut menangis akibat merasa malu karena mengira seorang pembeli tidak menyukai gemblong jualannya. Hingga kini, nenek tersebut masih belum diketahui keberadaannya. Kendati begitu, kisah tersebut mampu menyedot perhatian serta iba para netizen. Pada akun facebookgrup @SumedangTandang Akun @Meysa Murbhakti mengatakan, “Ya Robb.. kuatkanlah ibu ini, gampangkanlah rizki ibu ini, sehatkan ibu ini. Pagi-pagi udah mencucurkan air mata melhat kisah ibu ini. Semoga pemerintah lebih peka terhadap masyarakat yang kurang mampu dan yang sudah jompo-jompo karena di sekitar kita masih banyak orang yang membutuhkan bantuan kita,” tulisnya. Lalu ada juga pengguna Facebook dengan nama akun @Nabila L. Shafana “Sudah tua tapi semangatnya luar bisa, berusaha sekuat tenaga daripada harus mengemis minta dikasihani,” tulisnya. @Arifin Saputra Sungguh kasian nasib ibu itu pintu hati saya sampai terketuk mendengarnya,” tulisnya. Dalam Kutipan Cerita tersebut diceritakan sang wanita tua penjual gemblong ini mengetuk pintu rumah seseorang untuk menawarkan dagangannya yakni kue gemblong. Dalam cerita tersebut sang pemilik rumah yang melihat kondisi wanita penjual gemblong seperti terlihat sangat lelah dengan banjir keringat serta tentengan kotak kue gemblong. Singkat cerita sang pemilik rumah merasa iba karena mendengar cerita sang wanita tua penjual gemblong mengatakan bahwa sejauh ia berkeliling belum ada satupun kuenya yang terjual. Sementara ia harus memberi makan keluarganya. Sang pemilik rumah memberinya uang untuk dibelikannya beras serta ongkos pulang pergi naik ojek. Selain itu sang pemilik rumah yang murah hati tersebut menyuruh agar kue gemblong tersebut dibagikan saja di jalan. Sang penjual kue gemblong menangis setelah si pemilik rumah memberinya uang namun tidak membeli kue gemblongnya. ““Bu.. Saya gak mau ke sini lagi… Saya malu…. Ibu gak doyan kue jualan saya… Ibu cuma kasihan sama saya… Saya malu,” ujar si penjual gemblong sambil menangis memeluk sang pemilik rumah. Sambil tersenyum sang pemilik rumah yang baik hati mengatakan bahwa alasannya tidak membeli kue gemblongnya, karena si pemilik rumah sudah merasa kekenyangan. “Ibu, saya doyan kue jualan Ibu, tapi saya kenyang… Sementara di luar pasti banyak yang lapar dan belum tentu punya makanan. Sekarang Ibu pulang ya,” kata sang pemilik rumah. http://m.tribunnews.com/regional/2015/04/03/kisah-nenek-penjual-gemblong-memancing-simpati-ribuan-netizen

Minggu, 29 Maret 2015

Pemerintah yang tidak memperhatikan RAKYAT MISKIN seperti yang di alami SUTARMIN & SUTARMI DI GUNUNGKIDUL


Tribunnews.com -Hidup dalam segala keterbatasan tak pernah membuat Sutarmin (42) dan Sutarmi (43), warga Sukorejo RT/RW 02/09, Sambirejo, Kecamatan Ngawen, berhenti mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Di rumah berdinding anyaman bambu berukuran 6 x 8 meter yang sudah bolong di sana sini, Sutarmin dan Sutarmi hidup bersama dua orang anaknya yang masih kecil. Keluarga ini pun harus rela berbagi tempat tinggal dengan lima ekor ayam yang kandangnya berada di sisi kanan di dalam rumah. Ketika malam tiba, pasangan suami istri ini beserta dua anaknya yakni, Citra Wijilestari (7) dan Adnan Nasrul Ramadani (3) rela menahan dinginnya udara yang masuk lewat celah-celah anyaman bambu. Bahkan ketika hujan tiba, rumah berlantai tanah ini pun akan becek karena atap rumah bocor. Di dalam rumah tidak terdapat lemari. Buku-buku sekolah dan pakaian-pakaian diletakkan di atas sebuah drum yang dijadikan meja. "Ya, tetapi tetap bersyukur masih ada rumah untuk berteduh dan tinggal. Ada radio yang bisa menghibur anak-anak," ucap Sutarmin, Sabtu (28/3/2015). Sutarmin mengaku, pada tahun 2005 lalu, dirinya dan istri kehilangan putra pertamanya akibat gizi buruk. Saat ini, lanjut Sutarmin, istrinya sedang hamil anak ketiga. Rumah yang ditinggalinya bersama keluarga saat ini merupakan warisan dari orangtuanya. Namun karena tidak ada biaya, dirinya tidak sanggup untuk memperbaiki kerusakan rumah. Selama ini, Sutarmin mengaku hanya bekerja sebagai buruh serabutan. Penghasilannya pun tidak pasti. Dari hasil panen jagung setahun sekali, dia juga hanya mengantongi sedikit uang. "Panenan padi hanya cukup untuk makan sehari-hari. Kalau panen jagung sekitar Rp 300.000, itu satu tahun sekali. Ya tambahannya jadi buruh," tambahnya. Beberapa bulan lalu, Sutarmin mengatakan ada bedah rumah di desanya. Hanya saja, sampai saat ini dirinya tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah itu. “Ada, tapi saya tidak mendapatkan. Ya mungkin belum waktunya, yang penting tetap bersyukur dan berusaha keras untuk istri serta anak-anak," tandasnya. (Kontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma)

Sabtu, 21 Maret 2015

Tolong Pak Bupati, Bocah Pasuruan Ini Terluka Bakar Tak Bisa Berobat


Pasuruan- Lia Sugiarti (8), bocah perempuan asal Desa Gejugjati Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan ini harus menahan penderitaan karena sakit akibat luka bakar yang dialaminya. Setiap hari ia hanya bisa menangis karena luka di sekujur kaki kirinya kian bertambah parah. Luka bakar yang dialami putri Ibu Suami (30) ini diperoleh 3 bulan lalu saat lilin yang dimainkan membakar pakaian dan melukai kaki hingga pinggul kirinya. Karena tak adanya biaya untuk berobat, luka itu saat ini terus membesar dan semakin parah. "Saat itu dia main lilin terus roknya terbakar dan mengenainya," kata Suami, ibu Lia, kepada wartawan, Sabtu (21/3/2015). Sambil terus mengipasi luka Lia dan mencoba menenangkannya karena terus menangis, Suami, mengatakan ia terpaksa pasrah karena tak tahu lagi harus berbuat apa. Apalagi, ayah Lia sudah lama meninggal dunia. Suami mengatakan, sebelumnya ia sudah membawa Lia ke puskesmas. Dari puskesmas kemudian dirujuk ke RSUD Bangil. Namun meski memiliki kartu Jaskesmas, Lia ditolak rumah sakit. "Dari rumah sakit disuruh pulang. Disuruh ke Surabaya atau Malang. Tapi nggak ada biaya ya sudah dibiarkan," ujar Suami. Karena dibiarkan, luka bakar yang dialami Lia sangat memprihatinkan. Luka di sekujur pinggul hingga kaki kirinya itu mulai membusuk. Akibatnya setiap hari bocah malang ini terus menangis dan menjerit kesakitan. Marni, salah seorang tetangga mengatakan Suami, ibu Lia tak bisa mencari nafkah karena harus terus menunggui anaknya. Beberapa kali warga harus menggalang bantuan untuk meringankan beban keluarga tersebut. "Ibunya sudah nggak bisa kerja. Ayahnya juga meninggal sejak dalam kandungan," ujar Marni. (fat/fat) http://m.detik.com/surabaya/read/2015/03/21/173918/2865695/475/tolong-pak-bupati-bocah-pasuruan-ini-terluka-bakar-tak-bisa-berobat