Rabu, 08 April 2015

Bocah 8 Tahun Dianiaya Ibu Tiri Karena Telur Goreng


Situbondo- Gara-gara minta telur goreng, seorang bocah 8 tahun di Situbondo jadi korban penganiayaan ibu tiri. Tak hanya menganiaya, si ibu tiri yang bernama Fatimah (42), juga tega menyekap korban yang masih duduk di bangku kelas 2 SDN, di dalam rumahnya di Desa Sumberwaru Kecamatan Banyuputih. Aksi penganiayaan dan penyekapan ini dibongkar aparat kepolisian, setelah menerima pengaduan dari pihak sekolah. Saat didatangi polisi, korban dalam keadaan telanjang di dalam rumahnya. Terdapat sejumlah luka lecet dan luka memar di tubuh korban. "Waktu itu korban hanya bersama ibu tirinya di rumah. Kondisinya memang memprihatinkan, saat itu korban bertelanjang. Di dalam rumah banyak butiran nasi. Makanya korban langsung saya bawa ke Polsek," kata Bripka Yoyok Arianto, anggota Polsek Banyuputih yang menjemput korban ke rumahnya, Rabu (8/4/2015). Keterangan yang diperoleh detikcom menyebutkan, selama ini aksi penganiayaan si ibu tiri, Fatimah, sudah sering dialami korban. Aksi penganiayaan itu biasa dilakukan, saat ayah korban, Fauzi, sedang di luar kota untuk menjalankan profesinya sebagai sopir sebuah perusahaan minuman ringan. Pagi tadi, aksi penganiayaan kembali dilakukan si ibu tiri. Kali ini, penganiayaan dipicu soal menu sarapan korban. Saat itu, bocah 8 tahun yang ditinggal meninggal ibu kandungnya itu hanya disuguhi sarapan nasi putih oleh si ibu tiri. Korban pun minta digorengkan telur untuk lauk makannya. Mendapati permintaan anak tirinya itu, Fatimah jadi marah-marah dan langsung menganiaya korban. Korban pun berontak dan sempat berusaha lari ke rumah neneknya. Namun korban terjatuh hingga berhasil dikejar si ibu tiri. Seketika itu pula korban langsung dibawa pulang dan pintu rumah ditutup. Beruntung, tangisan korban didengar salah satu tetangganya hingga langsung mengadukan kejadian itu ke pihak sekolah korban dan diteruskan ke polisi. Kasubbag Humas Polres Situbondo, Ipda Nanang Priambodo mengatakan, laporan dugaan penganiayaan anak dibawah umur itu baru saja diterimanya. Saat ini masih dilakukan pemeriksaan terhadap bibi korban, Suhaeni (33), yang jadi pelapor dalam kasus tersebut. Menurut Nanang, pihak polisi juga baru saja selesai memintakan visum korban ke RSUD dr Abdoer Rahem Situbondo. "Terkait dugaan penyekapan masih kami dalami. Yang jelas, ada indikasi kalau korban dibatasi ruang geraknya dalam rumah. Kalau terbukti, terlapor terancam dijerat dengan pasal 80 ayat (1) UU 23 tahun 2002, tentang Perlindungan Anak," papar Nanang. http://m.detik.com/surabaya/read/2015/04/08/160243/2881517/475/bocah-8-tahun-dianiaya-ibu-tiri-karena-telur-goreng

Minggu, 05 April 2015

Demi Urus Ibu yang Sakit Menahun, Bocah Akbar Putus Sekolah


MAJENE, KOMPAS.com -Demi mengurus ibunya yang lumpuh dan terbaring lemah, Akbar, bocah 13 tahun asal Lembang, Kelurahan Lembang, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, memilih mengorbankan masa depannya. Dia memilih berhenti sekolah dan berkonsentrasi mengurus ibunya yang sakit. Sementara kakaknya, Rosita Pratiwi yang kini menempuh pendidikan di SMKN 1 Majene, kini juga terancam putus sekolah, karena alasan biaya. Akbar tamat sekolah dasar di SDN 11 Baurung tahun lalu. Teman sekelasnya yang lebih beruntung nasibnya kini sudah duduk dibangku kelas VII SMP. Selain harus mengurus ibu, alasan biaya pun menyebabkan Akbar putus sekolah. Kini, setiap hari Akbar-lah yang memasak dan menyuapi ibunya. "Sebenarnya saya mau sekolah, tapi kasihan ibu saya sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa di tempat tidurnya. Karenanya saya putuskan untuk mengurus kebutuhan ibu saya,” tutur Akbar ketika ditemui di rumahnya. Ibunya, Husnia (48) terbaring lemah karena sakit maag kronis dan asam urat. Husnia terbaring beralaskan kasur tua yang warnanya sudah coklat kehitaman. Dedaunan yang menempel di wajah, leher, dan dadanya menjadi obat untuk menurunkan rasa sakit. Di samping tempat tidur Husnia terlihat mangkuk berwarna jingga berisi bubur dan ditutup dengan tutup panci. Husnia hanya makan satu sampai dua sendok sekali makan. Sebenarnya, Husnia pernah dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Majene, namun karena alasan biaya pula dia pulang ke rumahnya. Rumah mereka adalah sebuah gubuk kecil berukuran 3x4 meter yang terletak di belakang pemukiman penduduk dan berdampingan dengan kandang ayam milik warga. Akbar adalah anak ketiga dari dua bersaudara. Kakak pertamanya Ramli merantau ke Kalimantan dengan harapan bisa mmeperbaiki taraf hidup keluarganya. Akbar memiliki lima saudara tiri, kelimanya tinggal jauh di luar kota dan semuanya telah berkeluarga. Hanya Akbar yang tinggal bersama kakak dan ibunya di gubuk yang nyaris roboh itu. Rumah panggung yang tingginya hanya setengah meter dari tanah ini ditopang tiang kayu yang sudah lapuk termakan usia. Atap rumbia yang sudah bocor membuat mereka kerap kehujanan. Di dalamnya hanya ada beberapa piring, baskom dan botol plastik yang berserakan di lantai rumah. Bau tidak sedap yang menyengat hidung menambah kumuh gubuk tua yang berada persis di dekat usaha peternakan ayam pedaging milik tetangganya. Ayah Akbar, Muhammad Daeng Situju, sudah sangat tua. Usianya sudah 80 tahun. Konon, Situju pun masih bekerja serabutan. Situju merantau ke Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah untuk menafkahi istri dan kedua anaknya itu. Setiap bulan, Situju hanya mengirimkan biaya hidup keluarga yang jumlahnya jauh dari cukup. "Bapakku sudah tua, sudah tidak kuat bekerja, dia hanya mengirim uang Rp 300.000 atau paling banyak Rp 500.000 yang dia kirim. Ya itu tidak cukup untuk biaya sehari-hari, tapi kami berusaha menggunakannya seirit mungkin," kata Rosita, kakak Akbar. Penulis: Kontributor Polewali, Junaedi Editor: Glori K. Wadrianto http://regional.kompas.com/read/2015/04/02/10294661/Demi.Urus.Ibu.yang.Sakit.Menahun.Bocah.Akbar.Putus.Sekolah.?utm_campaign=related&utm_medium=mobile&utm_source=news&

Sabtu, 04 April 2015

Kisah Nenek Marni, jalan kaki keliling Jakarta jualan tisu


Merdeka.com -"Ini nak, tisu, Rp 5 ribu saja," ujar wanita renta dengan sempoyongan mendekati pembeli yang sedang makan di warung pecel ayam di sekitar Mall Ambassador, JakartaSelatan, Jumat (3/4) malam. Dengan badan yang sudah membungkuk, wanita renta tersebut menawarkan berbagai dagangan, seperti tisu, pasta gigi, lotion pencegah nyamuk, minyak angin, sabun mandi, rokok, dan beberapa kebutuhan lainnya. Barang-barang dagangannya itu dia taruh di dalam plastik kresek ukuran sedang. Tak banyak dagangan yang dia bawa. "Ini untuk menyambung hidup, daripada minta-minta nak," kata wanita bernama Marni itu saat ditanya merdeka.comkenapa di usia senja masih jualan keliling Jakarta dengan jalan kaki. Dengan suara bergetar dan terbata-bata, wanita berusia 72 tahun ini menceritakan, bekerja di Jakarta sebagai penjual tisu keliling adalah prinsip hidup. "Saya tidak mau diatur-atur sama anak saya," katanya yang mengaku memiliki 5 orang anak dan 12 cucu itu. "Mereka tersebar, ada yang di Pasar Minggu, tapi saya tak tahu tempatnya," imbuh wanita asal Indramayu, Jawa Barat tersebut. Berapa penghasilan setiap hari dengan jualan tisu dll tersebut? Nenek Marni tersenyum malu saat menjawabnya. Berulang-ulang merdeka.com harus mengulang pertanyaan dengan suara yang lebih keras lantaran pendengaran nenek Marni sudah berkurang. "Sehari biasanya dapat Rp 60.000 sampai Rp 70.000, itu lakunya, bukan untungnya," ungkap Nenek Marni tanpa mau menyebut berapa keuntungan per hari jika barangnya cuma laku Rp 60-70 ribu per hari tersebut. "Ya nanti diputer lagi uangnya buat beli barang-barang, dijual lagi," ceritanya. Setiap hari, Nenek Marni berangkat kerja jualan keliling Jakarta setelah salat subuh, dan pulang hingga larut malam. "Habis salat subuh, saya berangkat. Ini belum pulang (Pukul 19.00 WIB) karena baru dapat uang Rp 30.000. Kalau sudah dapat Rp 60.000 baru pulang," kata Nenek Marni. Di Jakarta, Nenek Marni mengaku cuma numpang kepada orang-orang yang mau ditumpangi. Sehingga tiap malam tak tentu dia menginap di mana. "Sekarang nginap di rumah Ibu Asiyah di Setiabudi, nginep semalam," imbuhnya. Wanita yang cuma bisa jalan pelan-pelan ini menuturkan, dirinya cuma bisa berdoa kepada Tuhan agar tetap bisa bekerja menghidupi dirinya tanpa tergantung pada orang lain. "Saya tiap salat berdoa kepada Allah, semoga terus sehat biar bisa bekerja," ujarnya sambil berkaca-kaca. http://m.merdeka.com/peristiwa/kisah-nenek-marni-jalan-kaki-keliling-jakarta-jualan-tisu.html

Jumat, 03 April 2015

Kisah Nenek Penjual Gemblong Memancing Simpati Ribuan Netizen


TRIBUNNEWS.COM -Kisah mengharukan wanita tua penjual gemblong yang dibagikan Ernydar Irfan kini ramai diperbincangkan di media sosial. Dalam cerita tersebut, Wanita tua penjual gemblong tersebut menangis akibat merasa malu karena mengira seorang pembeli tidak menyukai gemblong jualannya. Hingga kini, nenek tersebut masih belum diketahui keberadaannya. Kendati begitu, kisah tersebut mampu menyedot perhatian serta iba para netizen. Pada akun facebookgrup @SumedangTandang Akun @Meysa Murbhakti mengatakan, “Ya Robb.. kuatkanlah ibu ini, gampangkanlah rizki ibu ini, sehatkan ibu ini. Pagi-pagi udah mencucurkan air mata melhat kisah ibu ini. Semoga pemerintah lebih peka terhadap masyarakat yang kurang mampu dan yang sudah jompo-jompo karena di sekitar kita masih banyak orang yang membutuhkan bantuan kita,” tulisnya. Lalu ada juga pengguna Facebook dengan nama akun @Nabila L. Shafana “Sudah tua tapi semangatnya luar bisa, berusaha sekuat tenaga daripada harus mengemis minta dikasihani,” tulisnya. @Arifin Saputra Sungguh kasian nasib ibu itu pintu hati saya sampai terketuk mendengarnya,” tulisnya. Dalam Kutipan Cerita tersebut diceritakan sang wanita tua penjual gemblong ini mengetuk pintu rumah seseorang untuk menawarkan dagangannya yakni kue gemblong. Dalam cerita tersebut sang pemilik rumah yang melihat kondisi wanita penjual gemblong seperti terlihat sangat lelah dengan banjir keringat serta tentengan kotak kue gemblong. Singkat cerita sang pemilik rumah merasa iba karena mendengar cerita sang wanita tua penjual gemblong mengatakan bahwa sejauh ia berkeliling belum ada satupun kuenya yang terjual. Sementara ia harus memberi makan keluarganya. Sang pemilik rumah memberinya uang untuk dibelikannya beras serta ongkos pulang pergi naik ojek. Selain itu sang pemilik rumah yang murah hati tersebut menyuruh agar kue gemblong tersebut dibagikan saja di jalan. Sang penjual kue gemblong menangis setelah si pemilik rumah memberinya uang namun tidak membeli kue gemblongnya. ““Bu.. Saya gak mau ke sini lagi… Saya malu…. Ibu gak doyan kue jualan saya… Ibu cuma kasihan sama saya… Saya malu,” ujar si penjual gemblong sambil menangis memeluk sang pemilik rumah. Sambil tersenyum sang pemilik rumah yang baik hati mengatakan bahwa alasannya tidak membeli kue gemblongnya, karena si pemilik rumah sudah merasa kekenyangan. “Ibu, saya doyan kue jualan Ibu, tapi saya kenyang… Sementara di luar pasti banyak yang lapar dan belum tentu punya makanan. Sekarang Ibu pulang ya,” kata sang pemilik rumah. http://m.tribunnews.com/regional/2015/04/03/kisah-nenek-penjual-gemblong-memancing-simpati-ribuan-netizen