Jakarta - Dalam sebuah riwayat, Aslam pernah menceritakan pengalamannya bersama Umar bin Khattab. Suatu malam, Aslam pernah menemani Umar pergi ke luar kota. Dari kejauhan, keduanya melihat kilauan cahaya yang terpancar dari sebuah tenda. Keduanya lalu menghampiri tenda itu.
Saat sudah mendekat, keduanya terkejut. Ternyata ada seorang wanita yang sedang menangis di dalam tenda. Umar bertanya tentang keadaan sang wanita. Wanita itu menjawab, "Aku adalah seorang wanita Arab yang akan bersalin (melahirkan) sedangkan aku tidak memiliki apapun".
Mendengar jawaban itu Umar menangis terseduh. Ia lalu keluar tenda dan berlari kencang menuju rumahnya. Umar menemui istrinya, Ummu Kaltsum binti Ali bin Abi Thalib dan berkata kepadanya, "Apakah engkau mau mendapatkan pahala yang akan Allah karuniakan kepadamu?"
Umar lalu menceritakan kejadian yang baru saja ditemuinya kepada sang istri.
"Ya, aku akan membantunya," jawab istri Umar.
Setelah itu, tanpa berpikir panjang, Umar segera mengambil satu karung gandum beserta daging dan memanggulnya. Sementara Ummu Kaltsum membawa peralatan yang dibutuhkan untuk persalinan. Keduanya berjalan mendatangi wanita tersebut. Sesampainya di tenda, Ummu Kaltsum segera masuk ke tempat wanita itu, sementara Umar duduk bersama suami sang wanita yang tidak mengenal wajah Umar. Keduanya berbincang-bincang. Umar mencoba menenangkan hati lelaki itu.
Setelah beberapa saat, tangisan bayi terdengar dari dalam tenda. Ummu Kaltsum berhasil membantu persalinan wanita papa tersebut. Ummu Kaltsum lalu berkata kepada suaminya, "Wahai Amirul Mukminin, sampaikan berita gembira kepada suaminya bahwa anaknya yang baru lahir adalah lelaki."
Lelaki itu terkejut mendengar kata 'Amirul Mukminin' keluar dari mulut Ummu Kaltsum. Dia tak menyadari jika telah berbincang-bincang dengan seorang khalifah, dan yang membantu persalinan istrinya adalah seorang Ummul Mukminin. Lelaki itu lalu meminta maaf kepada Umar. Namun Umar membalas dengan amat rendah hati,"Tidak mengapa".
Setelah itu, Umar memberikan kepada mereka nafkah dan segala kebutuhan pokok yang diperlukannya sebelum pagi menjelang. Umar dan istrinya lalu kembali ke rumah.
Selasa, 01 Juli 2014
Senin, 30 Juni 2014
Kabar Terbaru Gas Tangguh,SBY: Ada Good News
Jakarta- Pemerintah terus berupaya agar harga ekspor gas dari Tangguh-Papua ke Fujian-Tiongkok dapat direnegosiasi, pasalnya jika terus dibiarkan maka Indonesia akan terus rugi ekspor gas dengan harga murah.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta Kementerian ESDM terus berjuang agar Tiongkok mau mengubah isi kontrak harga jual gas tersebut yang saat ini masih dijual dengan harga US$ 3,34/mmbtu (Juta British Thermal Unit), sementara harga pasar gas ekspor Indonesia saat ini mencapai hingga US$ 18/mmbtu.
"Mengenai harga jual gas Tangguh. Untuk mengubah kontrak tidak mudah, oleh karena itu kita masih berjuang dengan Tiongkok," ujar SBY dalam kabinet terbatas bidang ekonomi, di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Senin (30/6/2014).
SBY mengatakan, Indonesia tidak mau rugi dalam masalah penjualan gas tangguh. Dia meminta hasil negosiasi nanti bersifat saling menguntungkan bagi Indonesia maupun Tiongkok.
"Saya masih negosiasi, untuk harga jual gas tangguh harus diperjuangkan. Indonesia tidak mau rugi. Saya dengar adagood newsnegosiasi sudah mulai tampak, dengan demikian rasanya lebih adil," ucapnya.
Dalam rapat itu, SBY juga menyinggung masalah pembangunan kabel bawah laut. Dia meminta Kementerian ESDM dan PT PLN (Persero) membuat rancangannya secara matang.
"Kalau instrumen-nya keliru justru akan lebih boros," ujarnya.
Sebelumnya Menteri ESDM Jero Wacik optimistis pihak CNNOC (perusahaan Migas Tiongkok) menyetujui permintaan kenaikkan harga jual dalam kontrak penjualan gas, karena perubahan harga sudah pernah dilakukan pada 2006.
"Ini harga awal kan US$ 2,4/mmbtu kemudian sudah dinaikkan jadi US$ 3,34 per mmbtu di 2006, sekarang itu kita renegosiasi, mereka (CNNOC) menyetujui US$7/mmbtu. Saya mau naik lagi jadi US$ 9/mmbtu," kata Jero beberapa waktu lalu.
Dengan harga gas Fujian naik dari US$ 3,34 per mmbtu menjadi US$ 8 per mmbtu saja, maka negara akan mendapatkan tambahan pemasukan sebesar US$ 1,075 miliar dari ekspor gas.
"Kalau US$ 8 maka bisa mendapatkan tambahan pendapatan US$ 1,075 miliar," tutupnya.
MalwareAndroid Serang NasabahOnline Banking
Minggu, 29 Juni 2014 - 08:01 wib
SEOUL- Software berbahaya atau malware kabarnya menyusup dalam aplikasi online banking yang bisa menyerang nasabah di Korea Selatan. Menurut perusahaan keamanan mobile asal China, ribuan device nasabah telah terinfeksi malware pada pekan lalu.
DilansirPCworld, Jumat (27/6/2014), Cheetah Mobile, yang sebelumnya dikenal sebagai Kingsoft Internet Security Software menuliskan bahwa malware banking ini menyamar sebagai game populer atau tool pada toko aplikasi Android third-party.
Google memeriksa aplikasi Android pada Play Store-nya untuk menemukan perilaku berbahaya pada malware, tetapi toko aplikasi third-party lebih rentan terhadap munculnya aplikasi berbahaya. Para ahli menyarankan agar pengguna berhati-hati mengunduh aplikasi dari sumber third-party.
Saat aplikasi berbahaya ini ter-install pada perangkat, aplikasi ini kabarnya dikenali sebagai aplikasi resmi dari bank di Korea Selatan seperti Nong Hyup, Shinhan, Kookmin, Woori, Hana, Busan dan Korean Federation of Community Credit Cooperatives.
Malware ini kemudian menampilkan peringatan yang menyatakan bahwa aplikasi online banking pengguna harus di-update. Jika update ini disetujui oleh pengguna, malware akan menghapus aplikasi yang sah dan menggantinya dengan salinan yang sama.
Kemudian, aplikasi tersebut akan meminta password yang bisa digunakan untuk mengakses banyak layanan online oleh pengguna. Kabarnya, lebih dari 2 ribu variasi malware yang terdeteksi oleh Cheetah. (ahl)
Minggu, 29 Juni 2014
ITB Bangun “Cyber Security”bersama Korea
Minggu, 29 Juni 2014 | 14:43 WIB
KOMPAS.com -Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Korea Cyber Security menjalin kerja sama dalam rangka penelitian dan pengembangan sumber daya manusia sektor cyber security atau keamanan dunia maya.
"Kerja sama ini dilakukan untuk membangun kualitas sumber daya manusia. Hal ini juga diharapkan memberikan pengetahuan betapa pentingnya cyber security," kata Dekan Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB Prof Dr Suwarno di Bandung, Jumat.
Ia menyebutkan Indonesia kini tengah dalam keadaan mendesak dalam hal cyber security sehingga masyarakat perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan global termasuk dalam sektor penggunaan internet.
"Bicara tentang internet maka kita otomatis melakukan kerja sama dengan pihak luar negri," katanya.
Suwarno menyebutkan, pengembangan dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia di sektor sumber daya manusia cyber security sangat mendesak dan menjadi masa depan ketahanan cyber Indonesia.
"Perkembangan global yang cepat menjadi suatu tantangan bagi kita, terutama dalam pengembangan SDM," katanya.
Sementara itu Kim Byun Hwan dari Koica selaku partner kerja sama itu mengatakan Indonesia adalah sasaran strategis untuk kerja sama di bidang cyber.
"Indonesia merupakan target strategis bagi Korea untuk menjalin kerja sama ini," katanya.
Program ini ke depannya akan melibatkan negara lain dan mengembangkan pelatihan kepada masyarakat untuk mengenalkan dan memberi tahu pentingnya penetahuan cyber security.
"Sosialisasi berguna untuk mengenalkan betapa pentingnya cyber security. Dengan pelatihan-pelatihan pendek diusahakan memerikan info mengenai cyber security kepada masyarakat khususnya pegawai dan pejabat atau kepolisian," kata Suwarno menimpali.
Editor : Oik Yusuf
Sumber : Antara
Langganan:
Postingan (Atom)