Kamis, 11 Juni 2015


Jakarta- Arif (45) pedagang kaki lima di Purbalingga, Jateng ini gundah gulana. Sudah hampir satu bulan, putrinya Zahra diculik seorang pria bernama Wawan, kenalannya di facebook. Hingga kini entah di mana Zahra, tak ada kontak. Pihak kepolisian yang dilaporkan pun tak memberi harapan. “Hari demi hari, kami menunggu perkembangan kasus anak saya. Berkali-kali kami mendatangi pihak kepolisian untuk tanyakan perkembangan. Tetap jawaban yang kami terima masih belum ada perkembangan. Sama seperti usaha yang kami lakukan selama ini,” jelas Arif yang dalam keterangannya, Kamis (11/6/2015). Arif sebenarnya menaruh harapan pada Polres Purbalingga untuk segera menemukan anaknya. Sebagai seorang ayah, dia tak tega putrinya berada di tangan pria asing, apalagi masih bersekolah di SMA Muhammadiyah Purbalingga. “Zahra Nur Afifah, sejak tanggal 15 Mei 2015, anak saya yang masih duduk di bangku SMU kelas I itu tidak pulang ke rumah hingga sekarang. Terakhir kali kami bertemu Zahra saat dia pamit berangkat ke sekolah di SMA Muhammadiyah I Purbalingga,” urai dia. Informasi yang didapat Arif dari teman-teman Zahra, anaknya berubah setelah berkenalan dengan seorang pria lewat facebook. Pria itu berusia 25 tahun bernama Wawan Riansyah. Kabarnya, Zahra terakhir bertemu Wawan. “Telepon seluler putri saya tak aktif. Nggak tahu di mana sekarang, apa masih hidup atau tidak. Kami berdoa dan berharap masih hidup,” terang dia. Saat pergi meninggalkan rumah, Zahra masih memakai seragam pramuka dan membawa tas sekolah berisi buku. Sedang laporan polisi di Polres Purbalingga tercatat pada 16 Mei 2015 dengan Nomor:SP.Lidik/173.B/V/2015/Reskrim. “Tolong sekali putri saya bisa kembali. Saya minta tolong,” tutur dia. (ndr/mad) http://m.detik.com/news/read/2015/06/11/163116/2939936/10/tolong-bapak-ini-putrinya-yang-masih-duduk-di-sma-di-purbalingga-diculik

Senin, 08 Juni 2015

Merdeka.com -Perlawanan terhadap korupsimemang tak mudah. Sebabnya, justru lembaga pengawas dan aparat penegak hukum di Indonesia sudah disusupi jejaring pelaku rasuah. Atau malah mereka juga menyalahgunakan wewenang dan masuk ke dalam lingkaran setan. Dengan niat memerangi rasuah sudah menjangkiti hampir seluruh sendi kehidupan itulah maka Komisi Pemberantasan Korupsi dibentuk. Selama sebelas tahun sepak terjangnya, tak mudah memang mencabut perilaku rasuah lantaran sudah berkelindan begitu kuatnya. Bukan tidak mungkin, hanya saja jalan terjal memang mesti dilalui. Memang, sebaiknya KPK, Kejaksaan, dan Kepolisian berpadu memerangi korupsi. Tetapi dalam perjalanannya ternyata berbicara lain. Kadang mereka malah saling berhadapan. Risiko mesti diambil lantaran tidak ada pilihan lain. Ketegangan antara KPK dan Polri sudah terjadi beberapa kali. Di masa lalu kita pernah mendengar konflik Cicak vs Buaya jilid I. Saat itu, dua pimpinan KPK, Chandra Matra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto, dikabarkan meminta imbalan penghentian pengusutan kasus itu. Tudingan itu disampaikan oleh terpidana kasus suap, Anggodo Widjojo (adik Anggoro Widjojo), dan Ary Muladi. Alhasil, keduanya diperiksa Bareskrim Polri dan sempat ditahan. Mereka akhirnya bebas setelah tekanan publik menguat. Hubungan KPK dan Polri memanas lagi. Pemantiknya adalah penyidikan kasus korupsipengadaan simulator kemudi uji klinik Surat Izin Mengemudi roda dua dan empat di Korlantas Polri. Dua perwira tinggi Polri, yakni Irjen Djoko Susilo dan Brigjen Didik Purnomo, dibui setelah menjalani persidangan. Dalam perjalanan pengusutan kasus, Bareskrim Polri dan Polda Bengkulu sempat ingin menangkap penyidik KPK, Novel. Saat itu dia masih menjadi anggota Polri. Hal itu terjadi usai pemeriksaan Djoko sebagai tersangka pertama kali. Tetapi, Polri gagal membekuk Novel. Ketegangan itu pun diselesaikan dengan perintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, supaya kasus itu diserahkan penanganannya ke KPK. Perseteruan kembali mencuat setelah KPK menetapkan Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka kasus suap dan penyalahgunaan wewenang. Saat itu, Presiden Joko Widodo menjagokannya menjadi Kapolri. Tak lama setelah itu, Polri menetapkan Ketua KPK, Abraham Samad, dan Wakilnya, Bambang Widjojanto, sebagai tersangka dalam dua kasus berbeda. Komjen Budi juga menggugat penetapan tersangkanya ke pengadilan, dan dia menang. KPK pun tidak bisa bergerak lantaran hanya memiliki dua pimpinan aktif. Adnan Pandu Praja dan Zulkarnain. Sedangkan masa jabatan Busyro Muqoddas saat itu sudah habis. Maka dari itu, Presiden Jokowi memilih Taufiequrrahman Ruki, Indriyanto Seno Adjie, dan Johan Budi sebagai pimpinan sementara. Belum cukup sampai di situ, Bareskrim mendadak menangkap Novel di rumahnya. Hal itu menambah keretakan hubungan kedua lembaga penegak hukum itu. Mereka tak bisa tinggal diam dan terus melawan. Dalam sidang uji materi pasal 32 ayat 2 UU MK diajukan oleh komisioner non aktif Bambang Widjojanto pada 25 Mei lalu, dia menghadirkan Novel sebagai saksi. Saat bersaksi dalam persidangan, Novel mengaku KPK mempunyai rekaman berisi pembicaraan tentang upaya pelemahan KPK. Di dalam rekaman itu, menurut dia, menunjukkan adanya upaya kriminalisasi, intimidasi, dan ancaman terhadap KPK. Berdasarkan keterangan Novel, ada berbagai ancaman dan intimidasi terhadap pegawai-pegawai KPK yang menangani perkara Komjen Pol Budi Gunawan, salah satunya pada Pelaksana Tugas struktural di bidang penindakan. Dalam rekaman tersebut disebutkan adanya rencana mentersangkakan bukan saja komisioner KPK, tapi juga penyidik perkara korupsidisangkakan kepada Komjen Pol Budi Gunawan. Atas hal itu, elemen masyarakat sipil mendesak pimpinan lembaga antirasuah itu berani membuka rekaman itu. "Novel terikat kode etik dia tidak bisa membeberkan apa yang ada dalam rekaman tersebut dan siapa saja yang terlibat. Karena dia hanya staf KPK," kata pengacara Publik LBH Jakartasebagai perwakilan Sapu Koruptor, Alghifari Aqsha, kemarin. Alghifari menyatakan, ini adalah kesempatan KPK menunjukkan sikapnya. Khususnya terhadap upaya membongkar kasus korupsi. Dia juga meminta pimpinan KPK kooperatif dan membuka rekaman tersebut di muka persidangan. Selain itu dibuka pula kepada publik sebagai bentuk upaya pengungkapan adanya kriminalisasi yang menjerat para pegiat antirasuah. "Rekaman di KPK ini punya nilai yang luar biasa untuk membuka semua tabir dan membuka konflik-konflik dan upaya pelemahan hukum yang ada. MK berwenang meminta KPK membuka itu. Ini ujian bagi Plt KPK apakah mereka betul-betul pro pada pemberantasan korupsi," ujar Alghifari. Namun, dia mengaku kecewa terhadap gaya kepemimpinan Ruki, lantaran dirasa mengabaikan kesaksian Novel. Hal ini karena belum ada tidak lanjut terkait kesaksian Novel mengenai bukti upaya kriminalisasi KPK. "Ruki bukan kuda troya lagi, tapi virus trojan. Perannya Ruki yang sangat dominan, itu yang membuat kita selama ini kecewa," ucap Alghifari. Menurut dia, sejauh ini upaya pelemahan KPK dilakukan beragam cara. Beberapa di antaranya ialah diminta diam, kemudian ada mutasi internal KPK. "Kita akan tetap pressure KPK. Sapu Koruptor akan membuat petisi agar KPK dan MK membuka rekaman ini. Ini senjata yang sangat bernilai bagi masyarakat dan lembaga anti korupsi," tutup Alghifari. http://m.merdeka.com/peristiwa/rekaman-novel-buat-melecut-nyali-ruki.html

Rabu, 13 Mei 2015

Demi Bersekolah, Edi TempuhJarak 5 Km Pakai Kursi Roda

YOGYAKARTA, KOMPAS.com- Panasnya terik matahari dan dinginnya air hujan tak menghentikan tangan Edi Priyanto (16) untuk terus memutar ban kursi rodanya. Dari rumahnya di Manggung, Sumberangung, Jetis, Bantul, setiap hari Edi menaiki kursi roda menuju SMP N 2 Sewon, Bantul yang jaraknya kurang lebih 5 kilometer. Sejak kecil, fisik Edi Priyanto (16) memang tidak sempurna. Ia pun harus menghabiskan hidupnya di atas kursi roda untuk beraktivitas. "Sejak kecil (disabel), tapi tetap bersyukur diberikan kesehatan," ucap Edi Priyanto (16) saat ditemui Kompas.comdi SMP 2 Sewon, Bantul, Rabu (13/5/2015). Edi menceritakan, setelah lulus sekolah dasar (SD) pada 2014 lalu, ia awalnya tidak ingin meneruskan pendidikannya ke sekolah menengah pertama (SMP). Edi berencana untuk berwirausaha dengan berjualan burung merpati. Namun, saudaranya mendaftarkan Edi ke SMP 2 Sewon, Bantul. "Saya ingin usaha, tapi sudah didaftarkan di sini yang ada inklusinya. Ya, enggak apa-apa memang saya kalau diberi kesempatan, ingin sekolah," jelasnya. Edi pun akhirnya bersekolah demi meraih cita-citanya sebagai teknisi komputer. Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, Edi setiap hari harus menempuh pejalanan 5 kilometer dengan kursi roda dari rumahnya ke sekolah. Agar tidak terlambat, setiap hari Edi bangun sekitar pukul 3.30 WIB. Setelah mandi dan shalat, sekitar pukul 05.00 WIB ia berangkat menuju sekolah. "Sekitar satu jam-an dari rumah ke sekolah. Ya, lewat jalan Parangtritis," ucapnya. Jarang sarapan Ia mengaku sengaja bangun pagi karena agar tidak terlambat masuk sekolah. Sebab, ia berangkat dengan kursi roda. Belum lagi ketika jalanan ramai ia harus sering-sering mengalah melewati tanah yang tentu menghambat laju kursi roda. Karena berangkat sangat pagi, Edi pun jarang sarapan. "Ya, enggak sarapan, enggak bawa minum juga. Makan baru istirahat siang. Enggak terbiasa sarapan pagi," katanya. Ketika pulang sekolah sekitar pukul 12.00 WIB, Edi harus bersabar menunggu sinar matahari sedikit redup. Sedangkan ketika hujan turun, ia kerap pulang dengan menggunakan mantel dan harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk melewati jalanan tanah yang basah. Kursi roda yang dipakainya pun beberapa kali sering rusak di tengah jalan. Ia pun terpaksa meminta bantuan orang lain untuk memperbaikinya, setidaknya kursi roda bisa jalan sampai ke rumah. "Lahernya yang sering kali rusak. Untung ada orang yang mau membantu. Yang penting bisa sampai rumah, nanti diperbaiki lagi," tandasnya. Tetap semangat Meski menempuh jarak yang terbilang cukup jauh setiap hari, laki-laki kelahiran 30 Oktober 1997 ini tak pernah mengeluh. Ia tetap semangat untuk membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan menjadi halangan bagi untuk orang mengenyam pendidikan demi meraih cita-cita. "Saya dulu dihina. Saya ingin membuktikan kalau bisa dan melebihi mereka. Mengeluh tidak akan membuat saya bisa meraih cita-cita sebagai teknisi komputer," ucapnya. Edi juga enggan dikasihani dengan kondisi fisiknya seperti ini. Bagi dia, hidup harus dijalani dengan perjuangan demi masa depan yang lebih baik. "Urip yo urip(hidup ya hidup). Selalu bersyukur dan tetap harus semangat untuk masa depan," katanya sambil tersenyum. Ke depan, laki-laki yang terkenal periang ini, jika ada kesempatan setelah lulus dari SMP 2 Sewon, ingin melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah kejuruan (SMK) mengambil jurusan teknisi komputer. Tak pernah terlambat Sementara itu, Kepala Sekolah SMP 2 Sewon, Asnawi mengatakan, meski berangkat dengan kursi roda dan jaraknya kurang lebih 5 kilometer, Edi tidak pernah sekalipun terlambat masuk sekolah. Ia justru sering kali datang lebih dulu dibandingkan teman-temanya. " Jarak dari rumahnya ke sekolah lebih kurang 5 kilometer. Tapi tidak pernah terlambat masuk sekolah," ujarnya. Asnawi mengungkapkan, dulu pernah dicarikan sekolah inklusi yang lebih dekat, namun Edi tetap memilih ke SMP Sewon, karena sudah merasa nyaman. "Dia sudah nyaman dan ingin sekolah di sini, ya sudah kalau itu keinginanya," pungkasnya. Penulis: Kontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma Editor: Farid Assifa http://regional.kompas.com/read/2015/05/13/20255181/Demi.Bersekolah.Edi.Tempuh.Jarak.5.Km.Pakai.Kursi.Roda

Minggu, 03 Mei 2015

Jeritan Anak HIV untuk Pak Menteri Pendidikan


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- ‎Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasionalyang diperingati setiap 2 Mei, beberapa lembaga yang peduli dengan anak-anak HIV membuat surat terbuka bagi Menteri Pendidikan, Anies Baswedan. Dalam surat itu, lembaga-lembaga yang terdiri dari Lentera Anak Pelangi – PPH Atma Jaya‎, Indonesia AIDS Coalition, Yayasan Syair Untuk Sahabat, Penabulu Alliance, Yayasan Karisma‎, dan ODHA Berhak Sehat‎ meminta adanya jaminan bagi anak dengan HIV agar tidak lagi didiskriminasi di sekolah apapun di seluruh tanah air tercinta. "Pak Anies yang baik, izinkan kami membantu mewujudkan mimpi anak-anak yang bercita-cita menjadi dokter, guru, polisi, olahragawan, menteri, bahkan menjadi seorang presiden. Jangan ada lagi anak HIV yang harus mengalah atas keegoisan orangtua, jangan ada lagi anak HIV yang harus trauma akibat penolakan berturut-turut dari sekolah yang didatanginya, bahkan jangan ada lagi kasus diskriminasi di lingkungan sekolah atas dasar apapun," tegas Natasya E Sitorus dari Lentera Anak Pelangi‎, Minggu (3/5/2015). Dijelaskan Natasya, selama ini kita tidak bisa menutup mata atas kasus diskriminasi karena status HIV. Pasalnya berapapun kasus yang terjadi, ada anak yang sudah terlanggar haknya di sana. Dan selama hak anak untuk bersekolah masih terlanggar, maka hal tersebut masih akan menjadi bagian dari potret buram pendidikan bangsa ini. Berikut isi surat terbuka tersebut : Surat Terbuka Untuk Bapak Menteri Pendidikan "Anak dengan HIV punya hak pendidikan yang sama dengan anak lainnya." Salam sejahtera! Selamat Hari Pendidikan Nasional, Pak Anies! Pak Anies yang baik, Tak terasa, tahun 2015 ini bangsa kita memperingati Hari Pendidikan Nasionalke-61. Pak Muhammad Yamin, kala itu sebagai Menteri Pendidikan mengusulkan kepada Presiden Sukarno untuk menjadikan tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara sebagai Hari Pendidikan Nasional. Namun, selama 61 tahun Hari Pendidikan Nasionalselalu diperingati, seperti apakah potret pendidikan bangsa kita Pak? Tidak Pak, surat ini tidak akan membahas tentang struktur bangunan sekolah yang sangat tidak layak untuk dipakai dalam proses belajar mengajar sementara kantor kementerian begitu megahnya di Senayan. Tidak Pak, surat ini juga tidak akan membahas perihal penyelewengan dana bantuan serta anggaran yang sudah dialokasikan untuk pendidikan. Tidak Pak, surat ini juga tidak akan bicara tentang jatah kursi yang dijual di sekolah negeri atau bocornya soal Ujian Nasional. Pak Anies yang baik, Surat ini ingin bicara tentang hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, yang memang menjadi haknya sebagai warga negara Indonesia. Tahukah Bapak ada berapa kira-kira jumlah kasus penolakan murid berkaitan dengan isu diskriminasi karena status HIV? Dalam rentang waktu enam tahun sejak 2009 lalu, setidaknya ada enam kasus penolakan murid di sekolah dasar yang didampingi oleh Lentera Anak Pelangi. Enam kasus tersebut terjadi di DKI Jakarta, empat di antaranya terjadi di sekolah swasta dan dua di sekolah negeri. Di luar Jakarta, setidaknya ada empat kasus diskriminasi yang terjadi dalam tiga tahun terakhir. Pak Anies yang budiman, Anak dengan HIV bukanlah anak berkebutuhan khusus. Anak dengan HIV bisa bertumbuh dan berkembang selayaknya anak-anak yang lain dengan adanya perawatan serta dukungan yang baik. Maka ketika sekolah pada akhirnya meminta murid yang berstatus HIV untuk pindah ke sekolah lain dengan alasan tidak tahu bagaimana harus memenuhi kebutuhan khusus anak tersebut, ada sesuatu yang salah di sana. Sesungguhnya anak dengan HIV tidak mudah untuk menularkan HIV kepada anak lain atau orang dewasa. Kontak sosial normal yang terjadi dalam aktivitas di sekolah tidak akan memungkinkan salah satu cairan tubuh anak yang mengandung virus HIV keluar dari tubuhnya dan masuk ke tubuh anak atau orang lain. Pak Anies yang baik, Anak tidak bisa memilih dari siapa ia dilahirkan. Seandainya bisa, mungkin mereka akan memilih dilahirkan dari orangtua yang serba berkecukupan. Mereka akan memilih dilahirkan dari orangtua yang sehat dan tidak menularkan apapun kepada mereka selain kebahagian dan segala kecukupannya. Bukan salah dan dosa anak ketika ia terlahir dengan HIV. Tetapi mengapa anak yang harus menanggung rasa sedih akibat dikucilkan oleh teman-temannya di sekolah? Mengapa anak yang harus terluka akibat penolakan oleh orangtua murid yang lain? Mengapa anak yang harus dirugikan ketika sekolah gagal meyakinkan orangtua serta guru bahwa anak dengan HIV juga punya hak bersekolah? Pak Anies yang bijaksana, Hari Pendidikan Nasionaldiperingati tiap tanggal 2 Mei untuk mengenang jasa Ki Hajar Dewantara. Ia menentang kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang mengijinkan anak-anak kelahiran Belanda dan orang-orang kaya saja yang boleh duduk di bangku pendidikan di Indonesia. Baginya, setiap anak, apalagi anak yang lahir di Indonesia berhak untuk bersekolah di negeri ini. Lalu mengapa kita masih memperingati Hari Pendidikan Nasionalketika sistem pendidikan negeri ini gagal menjamin hak anak untuk bersekolah? Pak Anies yang baik, Sekolah negeri mungkin mau tak mau harus membiarkan anak dengan HIV tetap bersekolah di sana bahkan ketika orangtua murid lain tidak menginginkannya. Tapi sekolah swasta tunduk pada suara orangtua. Jika tidak, maka sekolah akan merugi dan guru-gurunya mungkin tidak akan menerima gaji. Tapi bukankah sekolah swasta juga berada di bawah sistem pendidikan nasional? Masing-masing daerah mungkin beroperasi sesuai dengan otonomi daerahnya dan mengikuti peraturan daerah. Tapi untuk pendidikan, bukankah seharusnya mengacu pada sistem pendidikan nasional? Jika demikian, mengapa masih ada sekolah swasta yang seakan-akan diperbolehkan untuk menolak anak dengan HIV bersekolah di sana? Sekolah mungkin tak bisa selamanya disalahkan karena harus mengalah pada kemauan sebagian besar orangtua. Tapi pemerintah khsususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga seharusnya punya sanksi yang tegas bagi sekolah yang melakukan diskriminasi terhadap anak, atas alasan apapun itu. Pak Anies yang arif, Undang-Undang Republik Indonesia No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dibuat bukan hanya untuk menambah sederet undang-undang yang sudah ada di negeri ini. Undang-undang tersebut dibuat untuk melindungi anak, menjamin bahwa semua haknya terpenuhi. Pasal 4 dalam undang-undang tersebut menyatakan bahwa setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Dan pasal 9 ayat 1 menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya. Dan anak yang terlahir dengan HIV seharusnya termasuk dalam kata anak pada kedua pasal terserbut. Pak Anies yang mencintai anak-anak Indonesia, Anak-anak dengan HIV adalah anak Indonesia juga. Hingga September 2014 lalu, tercatat ada 3.976 anak usia 0-14 tahun yang terinfeksi HIV di Indonesia (Ditjen P2PL, 2014). Mereka yang sudah berada di usia sekolah dan mereka yang segera akan masuk sekolah tidak membutuhkan sebuah sekolah khusus untuk menampung mereka. Mereka membutuhkan kesempatan untuk bisa mengenyam pendidikan dasar yang dijanjikan pemerintah untuk mereka, sama seperti anak-anak lainnya. Mereka membutuhkan suasana dan kesempatan untuk bisa bersosialisasi dalam sistem bernama sekolah dan bukan sekedar mengikuti pelajaran di rumah saja.

Senin, 20 April 2015

Kisah pilu Ketut, cacat tanpa kaki tak lagi dapat bantuan pemerintah


Merdeka.com -Ketut Suarma (40), warga Banjar Dangintukadaya, Desa Dangintukadaya, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana, Bali adalah penyandang cacat permanen sejak lahir. Jika dia bergerak, kakinya diseret dengan tumpuan kedua tangannya. Minggu (19/4) sore, Ketut menjadi pusat perhatian warga dan pengguna jalan Denpasar-Gilimanuk, karena penyandang cacat ini tiba-tiba muncul melintasi jalan raya yang padat arus lalu lintasnya. Ketut Permadi kakak dari Suarma yang ditemui di rumahnya, Minggu (19/4) petang menuturkan, adiknya memang termasuk kurang mampu karena keterbatasannya tersebut. Adiknya memang cacat sejak kecil. Dia dirawat bergantian oleh keluarganya. Kadang dia juga berusaha bekerja dengan kondisinya seperti itu lantaran malu terus-terusan merepotkan keluarganya. Menurut Parmadi, adiknya itu tidak mendapat bantuan raskin namun mendapat bantuan dari Kemensos Rp 300 ribu sebulan. Sayangnya menurut Parmadi, sejak bulan November 2014 hingga April 2015 adiknya tidak pernah lagi mendapat bantuan dari Kemensos. "Kami juga tidak tahu apakah dapat atau tidak lagi bulan-bulan berikutnya. Namun kartu asistensi sosial dengan penyandang cacat disabilitas berat tahun 2014 masih ada. Biasanya memang dirapel empat bulan dapat Rp 1,2 juta. Kami kalau mau mengambil ke kantor pos sering diberi tahu pihak desa, namun sejak November tahun lalu tidak pernah ada," terang Permadi. Sementara itu Kadis Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Wayan Gorim dikonfirmasi mengatakan, untuk saat ini yang sudah cair untuk bantuan penyandang cacat bulan Januari, Februari dan Maret 2015. "Tapi kalau terkait bantuan untuk Pak Suarma coba dikonfirmasikan kepada pihak desa, karena data basenya ada di desa," jelasnya. (mdk/rnd) http://m.merdeka.com/peristiwa/kisah-pilu-ketut-cacat-tanpa-kaki-tak-lagi-dapat-bantuan-pemerintah.html

Jumat, 17 April 2015

Cerita haru si penarik becak yang sekolahkan 300 anak miskin


Merdeka.com -Nama Bai Fang Li masih harum hingga saat ini di negeri Tianjin, China. Dia adalah si penarik becak yang dikenal mempunyai hati emas. Cerita kebaikan Fang Li tersohor meski itu telah terjadi 1987 silam. Semula Bai adalah pensiunan yang sengaja pulang ke kampungnya. Suatu kali dia melihat banyak anak-anak miskin yang bekerja di ladang dan sawah. "Dia bertanya kenapa banyak anak-anak tidak sekolah. Lalu saya katakan bahwa mereka terlalu miskin untuk membayar uang sekolah. ayah lalu khawatir dan menyumbangkan 5000 yuan untuk sekolah di kampung halaman kami," kata anak Bai, Bai Jin Feng dikutip china.org, Jumat (16/4). Bai masih merasa tidak cukup untuk membantu anak-anak itu sampai akhirnya dia memutuskan menjadi penarik becak di umurnya yang sudah 74 tahun. Anak-anaknya mengingatkan agar Bai tidak menarik becak apalagi pendengarannya sudah berkurang, nasehat anaknya Bai acuhkan. Selama mungkin Bai mangkal di pinggir rel untuk menanti penumpangnya. "Dia selalu berangkat subuh dan pulang saat sudah gelap lagi. Dia mengumpulkan 20 sampai 30 yuan perhari. Saat pulang ke rumah dia simpan uang itu baik-baik," tandas anak Bai lagi. Kemudian, untuk memperbesar usahanya, memenuhi kebutuhan anak asuhnya, Bai pindah ke rumah yang hanya mempunyai satu ruang. Rumah tersebut berada di pinggir rel yang memungkinkan dia melayani penumpang selama 24 jam. Kesungguhannya makin besar, dia hanya makan makanan seadanya dan memakai baju bekas yang dia temukan. "Dia tidak pernah lupa untuk memberi uang ke sekolah bahkan mengomeli kami agar benar-benar menyampaikan uangnya ke sekolah. Setiap dia memberikan uang itu dia merasa senang dan dia katakan kalau dia menuntaskan misinya lagi," kata Xu Xiu Xiang, pekerja di yayasan pendukung pendidikan. Suatu hari, di umurnya yang hampir 90 tahun, dengan badannya yang kian ringkih, Bai datang ke sekolah Tianjin Yao Hua untuk menyerahkan sekotak uang terakhir yang bisa dia kumpulkan. "Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan," ucap dia sedih "Saya harap anak-anak bisa terus sekolah yang rajin dan bisa dapatkan pekerjaan lalu berkontribusi kepada negara kita" pesan Bai. Pesan Bai ini pun disambut tangisan histeris anak-anak asuh Bai. Di tahun 2005, Bai benar-benar meninggalkan 300 anak asuh yang dia biayai selama dua dekade. Bai didiagnosa menderita kanker paru-paru. Sampai akhir hidupnya Bai terhitung telah menyumbangkan 350 ribu Yuan atau sekitar Rp500 juta. Untuk menghargai jasa Bai, warga sekitar Tian Jin membangun monumen Bai. Bai bagai orang Tian Jian adalah pahlawan mereka yang tidak bisa tergantikan. http://m.merdeka.com/peristiwa/cerita-haru-si-penarik-becak-yang-sekolahkan-300-anak-miskin.html

Kamis, 16 April 2015

Bayi Perempuan Ditemukan di Kantong Plastik di Spion Mobil


Kamis, 16 April 2015 | 15:11 WIB SURABAYA, KOMPAS.com- Seorang bayi dalam kondisi hidup ditemukan terkait di spion sebuah mobil di Jalan Manyar Tirto Asri Surabaya, Kamis (16/4/2015) siang. Bayi berjenis kelamin perempuan itu terbungkus tas plastik berwarna hitam. Saat ditemukan Wasri, mulut bayi dalam kondisi ditutup lakban. Namun lubang hidung masih terbuka separuh sehingga bayi yang diperkirakan berusia belum sehari itu masih bisa bernafas. Wasri yang saat itu akan berjalan ke toko di ujung jalan menghentikan langkahnya saat mendengar sayup-sayup tangis bayi. "Ternyata ada di kresek di spion mobil. Waktu saya ambil bayi itu masih banyak darahnya," ujar Wasri. Bersama beberapa warga sekitar, dirinya langsung membawa bayi tersebut ke RS Umum Haji Surabaya. Menurut keterangan Bidan RS Haji Sukolilo, Diah Kartika, saat dibawa warga ke rumah sakit, bayi tersebut dalam kondisi membiru. "Itu karena hawa dingin. Terlebih lagi turun hujan malam tadi. Saat ini, bayi itu sudah mendapat penanganan intensif," kata Diah. Selain itu, bagian tali pusar bayi terus mengeluarkan darah segar. Diduga, pemotongan bukan secara medis. "Ini bisa dilihat hasil potongannya. Terlalu pendek dan hanya ditutup dengan pembungkus seadanya sehingga darahnya terus merembes dari pusarnya," terangnya. Penulis: Kontributor Surabaya, Achmad Faizal Editor: Caroline Damanik http://regional.kompas.com/read/2015/04/16/15110571/Bayi.Perempuan.Ditemukan.di.Kantong.Plastik.di.Spion.Mobil

Senin, 13 April 2015

Tak punya uang buat tebus istri dan anak di RS, Richie ngadu ke Ahok


Merdeka.com -Richie Dian Permana (31), warga Jalan Kedoya Selatan, RT 9/02, Kebon Jeruk, JakartaBarat mengadukan masalahnya ke Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Richie mengadu kalau tidak mampu menebus biaya persalinan istrinya Fenomena (33) usai melahirkan anaknya, Axelle Arziki Otadan dari Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Tambak. Richie bingung karena tidak mampu membayar biaya persalinan anak keduanya dari RSIA Tambak, Jakarta Pusat. Dia diminta pihak RS untuk membayar minimal 50 persen dari total biaya Rp 28 juta. "Ketika mau bawa istri dan anak pulang, saya diminta bayar rincian administrasi sebesar Rp 28 juta. Sampai saat ini, istri dan anak saya masih ditahan di rumah sakit. Mereka meminta uang jaminan 50 persen dari total tagihan," ungkapnya di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (13/4). Dia menceritakan, sebelum membawa ke RSIA Tambak, istrinya yang tengah mengandung dibawa ke Puskesmas Bidara Cina, Cawang, Jakarta Timur. Namun, di tengah perjalanan air ketuban istrinya tersebut pecah sehingga pada akhirnya dilarikan ke RSIA Tambak yang lokasinya tak jauh dari Puskesmas. "Karena panik, saya minta diantar ke rumah sakit terdekat sama orang Puskesmas, karena waktu itu situasi dan kondisinya mendesak. Istri saya masuk dari 3 April dan tiga hari lalu harusnya sudah boleh pulang. Tapi karena tidak punya uang, istri dan anak saya ditahan pihak rumah sakit," terangnya. Karena kehabisan akal, Richie mencoba memberanikan diri mengadukan persoalannya ini kepada Ahok. Sebagai bahan pertimbangan, dirinya membawa rincian biaya administrasi dari rumah sakit, surat keterangan lahiran, surat nikah, foto copy KTP dan Kartu Keluarga (KK). "Saya berharap Pak Gubernur kiranya dapat bantu meringankan beban saya dan mendengarkan keluh kesah saya," tutupnya. (mdk/eko) http://m.merdeka.com/jakarta/tak-punya-uang-buat-tebus-istri-dan-anak-di-rs-richie-ngadu-ke-ahok.html

Tak punya uang buat tebus istri dan anak di RS, Richie ngadu ke Ahok


Merdeka.com -Richie Dian Permana (31), warga Jalan Kedoya Selatan, RT 9/02, Kebon Jeruk, JakartaBarat mengadukan masalahnya ke Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Richie mengadu kalau tidak mampu menebus biaya persalinan istrinya Fenomena (33) usai melahirkan anaknya, Axelle Arziki Otadan dari Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Tambak. Richie bingung karena tidak mampu membayar biaya persalinan anak keduanya dari RSIA Tambak, Jakarta Pusat. Dia diminta pihak RS untuk membayar minimal 50 persen dari total biaya Rp 28 juta. "Ketika mau bawa istri dan anak pulang, saya diminta bayar rincian administrasi sebesar Rp 28 juta. Sampai saat ini, istri dan anak saya masih ditahan di rumah sakit. Mereka meminta uang jaminan 50 persen dari total tagihan," ungkapnya di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (13/4). Dia menceritakan, sebelum membawa ke RSIA Tambak, istrinya yang tengah mengandung dibawa ke Puskesmas Bidara Cina, Cawang, Jakarta Timur. Namun, di tengah perjalanan air ketuban istrinya tersebut pecah sehingga pada akhirnya dilarikan ke RSIA Tambak yang lokasinya tak jauh dari Puskesmas. "Karena panik, saya minta diantar ke rumah sakit terdekat sama orang Puskesmas, karena waktu itu situasi dan kondisinya mendesak. Istri saya masuk dari 3 April dan tiga hari lalu harusnya sudah boleh pulang. Tapi karena tidak punya uang, istri dan anak saya ditahan pihak rumah sakit," terangnya. Karena kehabisan akal, Richie mencoba memberanikan diri mengadukan persoalannya ini kepada Ahok. Sebagai bahan pertimbangan, dirinya membawa rincian biaya administrasi dari rumah sakit, surat keterangan lahiran, surat nikah, foto copy KTP dan Kartu Keluarga (KK). "Saya berharap Pak Gubernur kiranya dapat bantu meringankan beban saya dan mendengarkan keluh kesah saya," tutupnya. (mdk/eko) http://m.merdeka.com/jakarta/tak-punya-uang-buat-tebus-istri-dan-anak-di-rs-richie-ngadu-ke-ahok.html

Tak punya uang buat tebus istri dan anak di RS, Richie ngadu ke Ahok


Merdeka.com -Richie Dian Permana (31), warga Jalan Kedoya Selatan, RT 9/02, Kebon Jeruk, JakartaBarat mengadukan masalahnya ke Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Richie mengadu kalau tidak mampu menebus biaya persalinan istrinya Fenomena (33) usai melahirkan anaknya, Axelle Arziki Otadan dari Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Tambak. Richie bingung karena tidak mampu membayar biaya persalinan anak keduanya dari RSIA Tambak, Jakarta Pusat. Dia diminta pihak RS untuk membayar minimal 50 persen dari total biaya Rp 28 juta. "Ketika mau bawa istri dan anak pulang, saya diminta bayar rincian administrasi sebesar Rp 28 juta. Sampai saat ini, istri dan anak saya masih ditahan di rumah sakit. Mereka meminta uang jaminan 50 persen dari total tagihan," ungkapnya di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (13/4). Dia menceritakan, sebelum membawa ke RSIA Tambak, istrinya yang tengah mengandung dibawa ke Puskesmas Bidara Cina, Cawang, Jakarta Timur. Namun, di tengah perjalanan air ketuban istrinya tersebut pecah sehingga pada akhirnya dilarikan ke RSIA Tambak yang lokasinya tak jauh dari Puskesmas. "Karena panik, saya minta diantar ke rumah sakit terdekat sama orang Puskesmas, karena waktu itu situasi dan kondisinya mendesak. Istri saya masuk dari 3 April dan tiga hari lalu harusnya sudah boleh pulang. Tapi karena tidak punya uang, istri dan anak saya ditahan pihak rumah sakit," terangnya. Karena kehabisan akal, Richie mencoba memberanikan diri mengadukan persoalannya ini kepada Ahok. Sebagai bahan pertimbangan, dirinya membawa rincian biaya administrasi dari rumah sakit, surat keterangan lahiran, surat nikah, foto copy KTP dan Kartu Keluarga (KK). "Saya berharap Pak Gubernur kiranya dapat bantu meringankan beban saya dan mendengarkan keluh kesah saya," tutupnya. (mdk/eko) http://m.merdeka.com/jakarta/tak-punya-uang-buat-tebus-istri-dan-anak-di-rs-richie-ngadu-ke-ahok.html

Kamis, 09 April 2015

Pengakuan Calo Antrean Berobat Pasien BPJS


JAKARTA, KOMPAS.com – Praktik percaloan di Indonesia seakan tak ada habisnya. Tak hanya calo tiket penerbangan, kereta api, atau nonton bola, kini percaloan pun terjadi untuk antrean berobat bagi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan. Antrean panjang untuk mendapat pengobatan membuat calo bermunculan di rumah sakit. Mereka membantu pasien yang tidak bisa datang pagi untuk mengambil antrean. Sigit (bukan nama sebenarnya) mengaku sering membantu pasien atau keluarga pasien mengambil nomor antrean. “Saya bisa ambilin nomor antreannya. Mau dapat nomor satu pun bisa,” kata Sigit saat ditemui Kompas.comdi salah satu rumah sakit di Jakarta, Senin (6/4/2015). Ia bisa datang pukul 03.00 WIB untuk mengantre mengambil nomor. Padahal, pengambilan nomor baru dibuka pukul 06.00 WIB. Sigit mengungkapkan, pukul 03.00 saja antrean bisa mencapai 50 orang. “Pukul 05.00 saja biasanya nomor antrean sudah seratus,” lanjut Sigit. Sigit tak seorang diri. Ia mengaku memiliki empat orang teman yang juga biasa menjadi calo di rumah sakit. Menurut Sigit praktik percaloan sudah menjadi rahasia umum di seluruh rumah sakit. “Semua temen-temen saya juga. Biasanya satu orang ngambilin satu nomor saja,” kata Sigit. Tak hanya mengambil nomor antrean. Menurut Sigit, ia juga bisa membantu mengurus berkas-berkas yang dibawa pasien ke loket berikutnya, seperti berkas rujukan ke rumah sakit. Setelah itu, pasien pun tak perlu datang terlalu pagi. Menurut Sigit, pasien cukup datang sekitar pukul 08.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB. Sementara itu, jika tanpa bantuan calo dan pasien baru datang pukul 08.00, nomor antrean bisa mencapai 400 orang. Kemudian pukul 10.00 biasanya sudah mencapai 700. Tentunya ada upah yang diberikan untuk para calo ini. Namun, Sigit mengaku tidak memiliki patokan harga. Sigit mengatakan, biasanya tak lebih dari Rp 50.000. “Sayamahdikasih berapa saja ya terima. Terserah saja yang ngasih berapa,” kata Sigit. Praktik percaloan ini memang menguntungkan bagi pasien yang memiliki uang lebih untuk membayar calo. Namun, sangat merugikan bagi pasien tidak mampu karena mereka tidak memiliki dana lebih untuk membayar calo sehingga terkadang harus menunggu lama, bahkan baru keesokan harinya dilayani berobat karena nomor antrean sudah tutup. Pada pasien rumah sakit rujukan nasional yang berasal dari luar kota dan tidak mampu, terkadang mereka terpaksa menginap di lobi rumah sakit untuk mendapatkan nomor antrean. Penulis: Dian Maharani Editor: Lusia Kus Anna http://health.kompas.com/read/2015/04/09/173700823/Pengakuan.Calo.Antrean.Berobat.Pasien.BPJS

Rabu, 08 April 2015

Bocah 8 Tahun Dianiaya Ibu Tiri Karena Telur Goreng


Situbondo- Gara-gara minta telur goreng, seorang bocah 8 tahun di Situbondo jadi korban penganiayaan ibu tiri. Tak hanya menganiaya, si ibu tiri yang bernama Fatimah (42), juga tega menyekap korban yang masih duduk di bangku kelas 2 SDN, di dalam rumahnya di Desa Sumberwaru Kecamatan Banyuputih. Aksi penganiayaan dan penyekapan ini dibongkar aparat kepolisian, setelah menerima pengaduan dari pihak sekolah. Saat didatangi polisi, korban dalam keadaan telanjang di dalam rumahnya. Terdapat sejumlah luka lecet dan luka memar di tubuh korban. "Waktu itu korban hanya bersama ibu tirinya di rumah. Kondisinya memang memprihatinkan, saat itu korban bertelanjang. Di dalam rumah banyak butiran nasi. Makanya korban langsung saya bawa ke Polsek," kata Bripka Yoyok Arianto, anggota Polsek Banyuputih yang menjemput korban ke rumahnya, Rabu (8/4/2015). Keterangan yang diperoleh detikcom menyebutkan, selama ini aksi penganiayaan si ibu tiri, Fatimah, sudah sering dialami korban. Aksi penganiayaan itu biasa dilakukan, saat ayah korban, Fauzi, sedang di luar kota untuk menjalankan profesinya sebagai sopir sebuah perusahaan minuman ringan. Pagi tadi, aksi penganiayaan kembali dilakukan si ibu tiri. Kali ini, penganiayaan dipicu soal menu sarapan korban. Saat itu, bocah 8 tahun yang ditinggal meninggal ibu kandungnya itu hanya disuguhi sarapan nasi putih oleh si ibu tiri. Korban pun minta digorengkan telur untuk lauk makannya. Mendapati permintaan anak tirinya itu, Fatimah jadi marah-marah dan langsung menganiaya korban. Korban pun berontak dan sempat berusaha lari ke rumah neneknya. Namun korban terjatuh hingga berhasil dikejar si ibu tiri. Seketika itu pula korban langsung dibawa pulang dan pintu rumah ditutup. Beruntung, tangisan korban didengar salah satu tetangganya hingga langsung mengadukan kejadian itu ke pihak sekolah korban dan diteruskan ke polisi. Kasubbag Humas Polres Situbondo, Ipda Nanang Priambodo mengatakan, laporan dugaan penganiayaan anak dibawah umur itu baru saja diterimanya. Saat ini masih dilakukan pemeriksaan terhadap bibi korban, Suhaeni (33), yang jadi pelapor dalam kasus tersebut. Menurut Nanang, pihak polisi juga baru saja selesai memintakan visum korban ke RSUD dr Abdoer Rahem Situbondo. "Terkait dugaan penyekapan masih kami dalami. Yang jelas, ada indikasi kalau korban dibatasi ruang geraknya dalam rumah. Kalau terbukti, terlapor terancam dijerat dengan pasal 80 ayat (1) UU 23 tahun 2002, tentang Perlindungan Anak," papar Nanang. http://m.detik.com/surabaya/read/2015/04/08/160243/2881517/475/bocah-8-tahun-dianiaya-ibu-tiri-karena-telur-goreng

Minggu, 05 April 2015

Demi Urus Ibu yang Sakit Menahun, Bocah Akbar Putus Sekolah


MAJENE, KOMPAS.com -Demi mengurus ibunya yang lumpuh dan terbaring lemah, Akbar, bocah 13 tahun asal Lembang, Kelurahan Lembang, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, memilih mengorbankan masa depannya. Dia memilih berhenti sekolah dan berkonsentrasi mengurus ibunya yang sakit. Sementara kakaknya, Rosita Pratiwi yang kini menempuh pendidikan di SMKN 1 Majene, kini juga terancam putus sekolah, karena alasan biaya. Akbar tamat sekolah dasar di SDN 11 Baurung tahun lalu. Teman sekelasnya yang lebih beruntung nasibnya kini sudah duduk dibangku kelas VII SMP. Selain harus mengurus ibu, alasan biaya pun menyebabkan Akbar putus sekolah. Kini, setiap hari Akbar-lah yang memasak dan menyuapi ibunya. "Sebenarnya saya mau sekolah, tapi kasihan ibu saya sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa di tempat tidurnya. Karenanya saya putuskan untuk mengurus kebutuhan ibu saya,” tutur Akbar ketika ditemui di rumahnya. Ibunya, Husnia (48) terbaring lemah karena sakit maag kronis dan asam urat. Husnia terbaring beralaskan kasur tua yang warnanya sudah coklat kehitaman. Dedaunan yang menempel di wajah, leher, dan dadanya menjadi obat untuk menurunkan rasa sakit. Di samping tempat tidur Husnia terlihat mangkuk berwarna jingga berisi bubur dan ditutup dengan tutup panci. Husnia hanya makan satu sampai dua sendok sekali makan. Sebenarnya, Husnia pernah dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Majene, namun karena alasan biaya pula dia pulang ke rumahnya. Rumah mereka adalah sebuah gubuk kecil berukuran 3x4 meter yang terletak di belakang pemukiman penduduk dan berdampingan dengan kandang ayam milik warga. Akbar adalah anak ketiga dari dua bersaudara. Kakak pertamanya Ramli merantau ke Kalimantan dengan harapan bisa mmeperbaiki taraf hidup keluarganya. Akbar memiliki lima saudara tiri, kelimanya tinggal jauh di luar kota dan semuanya telah berkeluarga. Hanya Akbar yang tinggal bersama kakak dan ibunya di gubuk yang nyaris roboh itu. Rumah panggung yang tingginya hanya setengah meter dari tanah ini ditopang tiang kayu yang sudah lapuk termakan usia. Atap rumbia yang sudah bocor membuat mereka kerap kehujanan. Di dalamnya hanya ada beberapa piring, baskom dan botol plastik yang berserakan di lantai rumah. Bau tidak sedap yang menyengat hidung menambah kumuh gubuk tua yang berada persis di dekat usaha peternakan ayam pedaging milik tetangganya. Ayah Akbar, Muhammad Daeng Situju, sudah sangat tua. Usianya sudah 80 tahun. Konon, Situju pun masih bekerja serabutan. Situju merantau ke Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah untuk menafkahi istri dan kedua anaknya itu. Setiap bulan, Situju hanya mengirimkan biaya hidup keluarga yang jumlahnya jauh dari cukup. "Bapakku sudah tua, sudah tidak kuat bekerja, dia hanya mengirim uang Rp 300.000 atau paling banyak Rp 500.000 yang dia kirim. Ya itu tidak cukup untuk biaya sehari-hari, tapi kami berusaha menggunakannya seirit mungkin," kata Rosita, kakak Akbar. Penulis: Kontributor Polewali, Junaedi Editor: Glori K. Wadrianto http://regional.kompas.com/read/2015/04/02/10294661/Demi.Urus.Ibu.yang.Sakit.Menahun.Bocah.Akbar.Putus.Sekolah.?utm_campaign=related&utm_medium=mobile&utm_source=news&

Sabtu, 04 April 2015

Kisah Nenek Marni, jalan kaki keliling Jakarta jualan tisu


Merdeka.com -"Ini nak, tisu, Rp 5 ribu saja," ujar wanita renta dengan sempoyongan mendekati pembeli yang sedang makan di warung pecel ayam di sekitar Mall Ambassador, JakartaSelatan, Jumat (3/4) malam. Dengan badan yang sudah membungkuk, wanita renta tersebut menawarkan berbagai dagangan, seperti tisu, pasta gigi, lotion pencegah nyamuk, minyak angin, sabun mandi, rokok, dan beberapa kebutuhan lainnya. Barang-barang dagangannya itu dia taruh di dalam plastik kresek ukuran sedang. Tak banyak dagangan yang dia bawa. "Ini untuk menyambung hidup, daripada minta-minta nak," kata wanita bernama Marni itu saat ditanya merdeka.comkenapa di usia senja masih jualan keliling Jakarta dengan jalan kaki. Dengan suara bergetar dan terbata-bata, wanita berusia 72 tahun ini menceritakan, bekerja di Jakarta sebagai penjual tisu keliling adalah prinsip hidup. "Saya tidak mau diatur-atur sama anak saya," katanya yang mengaku memiliki 5 orang anak dan 12 cucu itu. "Mereka tersebar, ada yang di Pasar Minggu, tapi saya tak tahu tempatnya," imbuh wanita asal Indramayu, Jawa Barat tersebut. Berapa penghasilan setiap hari dengan jualan tisu dll tersebut? Nenek Marni tersenyum malu saat menjawabnya. Berulang-ulang merdeka.com harus mengulang pertanyaan dengan suara yang lebih keras lantaran pendengaran nenek Marni sudah berkurang. "Sehari biasanya dapat Rp 60.000 sampai Rp 70.000, itu lakunya, bukan untungnya," ungkap Nenek Marni tanpa mau menyebut berapa keuntungan per hari jika barangnya cuma laku Rp 60-70 ribu per hari tersebut. "Ya nanti diputer lagi uangnya buat beli barang-barang, dijual lagi," ceritanya. Setiap hari, Nenek Marni berangkat kerja jualan keliling Jakarta setelah salat subuh, dan pulang hingga larut malam. "Habis salat subuh, saya berangkat. Ini belum pulang (Pukul 19.00 WIB) karena baru dapat uang Rp 30.000. Kalau sudah dapat Rp 60.000 baru pulang," kata Nenek Marni. Di Jakarta, Nenek Marni mengaku cuma numpang kepada orang-orang yang mau ditumpangi. Sehingga tiap malam tak tentu dia menginap di mana. "Sekarang nginap di rumah Ibu Asiyah di Setiabudi, nginep semalam," imbuhnya. Wanita yang cuma bisa jalan pelan-pelan ini menuturkan, dirinya cuma bisa berdoa kepada Tuhan agar tetap bisa bekerja menghidupi dirinya tanpa tergantung pada orang lain. "Saya tiap salat berdoa kepada Allah, semoga terus sehat biar bisa bekerja," ujarnya sambil berkaca-kaca. http://m.merdeka.com/peristiwa/kisah-nenek-marni-jalan-kaki-keliling-jakarta-jualan-tisu.html

Jumat, 03 April 2015

Kisah Nenek Penjual Gemblong Memancing Simpati Ribuan Netizen


TRIBUNNEWS.COM -Kisah mengharukan wanita tua penjual gemblong yang dibagikan Ernydar Irfan kini ramai diperbincangkan di media sosial. Dalam cerita tersebut, Wanita tua penjual gemblong tersebut menangis akibat merasa malu karena mengira seorang pembeli tidak menyukai gemblong jualannya. Hingga kini, nenek tersebut masih belum diketahui keberadaannya. Kendati begitu, kisah tersebut mampu menyedot perhatian serta iba para netizen. Pada akun facebookgrup @SumedangTandang Akun @Meysa Murbhakti mengatakan, “Ya Robb.. kuatkanlah ibu ini, gampangkanlah rizki ibu ini, sehatkan ibu ini. Pagi-pagi udah mencucurkan air mata melhat kisah ibu ini. Semoga pemerintah lebih peka terhadap masyarakat yang kurang mampu dan yang sudah jompo-jompo karena di sekitar kita masih banyak orang yang membutuhkan bantuan kita,” tulisnya. Lalu ada juga pengguna Facebook dengan nama akun @Nabila L. Shafana “Sudah tua tapi semangatnya luar bisa, berusaha sekuat tenaga daripada harus mengemis minta dikasihani,” tulisnya. @Arifin Saputra Sungguh kasian nasib ibu itu pintu hati saya sampai terketuk mendengarnya,” tulisnya. Dalam Kutipan Cerita tersebut diceritakan sang wanita tua penjual gemblong ini mengetuk pintu rumah seseorang untuk menawarkan dagangannya yakni kue gemblong. Dalam cerita tersebut sang pemilik rumah yang melihat kondisi wanita penjual gemblong seperti terlihat sangat lelah dengan banjir keringat serta tentengan kotak kue gemblong. Singkat cerita sang pemilik rumah merasa iba karena mendengar cerita sang wanita tua penjual gemblong mengatakan bahwa sejauh ia berkeliling belum ada satupun kuenya yang terjual. Sementara ia harus memberi makan keluarganya. Sang pemilik rumah memberinya uang untuk dibelikannya beras serta ongkos pulang pergi naik ojek. Selain itu sang pemilik rumah yang murah hati tersebut menyuruh agar kue gemblong tersebut dibagikan saja di jalan. Sang penjual kue gemblong menangis setelah si pemilik rumah memberinya uang namun tidak membeli kue gemblongnya. ““Bu.. Saya gak mau ke sini lagi… Saya malu…. Ibu gak doyan kue jualan saya… Ibu cuma kasihan sama saya… Saya malu,” ujar si penjual gemblong sambil menangis memeluk sang pemilik rumah. Sambil tersenyum sang pemilik rumah yang baik hati mengatakan bahwa alasannya tidak membeli kue gemblongnya, karena si pemilik rumah sudah merasa kekenyangan. “Ibu, saya doyan kue jualan Ibu, tapi saya kenyang… Sementara di luar pasti banyak yang lapar dan belum tentu punya makanan. Sekarang Ibu pulang ya,” kata sang pemilik rumah. http://m.tribunnews.com/regional/2015/04/03/kisah-nenek-penjual-gemblong-memancing-simpati-ribuan-netizen

Minggu, 29 Maret 2015

Pemerintah yang tidak memperhatikan RAKYAT MISKIN seperti yang di alami SUTARMIN & SUTARMI DI GUNUNGKIDUL


Tribunnews.com -Hidup dalam segala keterbatasan tak pernah membuat Sutarmin (42) dan Sutarmi (43), warga Sukorejo RT/RW 02/09, Sambirejo, Kecamatan Ngawen, berhenti mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Di rumah berdinding anyaman bambu berukuran 6 x 8 meter yang sudah bolong di sana sini, Sutarmin dan Sutarmi hidup bersama dua orang anaknya yang masih kecil. Keluarga ini pun harus rela berbagi tempat tinggal dengan lima ekor ayam yang kandangnya berada di sisi kanan di dalam rumah. Ketika malam tiba, pasangan suami istri ini beserta dua anaknya yakni, Citra Wijilestari (7) dan Adnan Nasrul Ramadani (3) rela menahan dinginnya udara yang masuk lewat celah-celah anyaman bambu. Bahkan ketika hujan tiba, rumah berlantai tanah ini pun akan becek karena atap rumah bocor. Di dalam rumah tidak terdapat lemari. Buku-buku sekolah dan pakaian-pakaian diletakkan di atas sebuah drum yang dijadikan meja. "Ya, tetapi tetap bersyukur masih ada rumah untuk berteduh dan tinggal. Ada radio yang bisa menghibur anak-anak," ucap Sutarmin, Sabtu (28/3/2015). Sutarmin mengaku, pada tahun 2005 lalu, dirinya dan istri kehilangan putra pertamanya akibat gizi buruk. Saat ini, lanjut Sutarmin, istrinya sedang hamil anak ketiga. Rumah yang ditinggalinya bersama keluarga saat ini merupakan warisan dari orangtuanya. Namun karena tidak ada biaya, dirinya tidak sanggup untuk memperbaiki kerusakan rumah. Selama ini, Sutarmin mengaku hanya bekerja sebagai buruh serabutan. Penghasilannya pun tidak pasti. Dari hasil panen jagung setahun sekali, dia juga hanya mengantongi sedikit uang. "Panenan padi hanya cukup untuk makan sehari-hari. Kalau panen jagung sekitar Rp 300.000, itu satu tahun sekali. Ya tambahannya jadi buruh," tambahnya. Beberapa bulan lalu, Sutarmin mengatakan ada bedah rumah di desanya. Hanya saja, sampai saat ini dirinya tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah itu. “Ada, tapi saya tidak mendapatkan. Ya mungkin belum waktunya, yang penting tetap bersyukur dan berusaha keras untuk istri serta anak-anak," tandasnya. (Kontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma)

Sabtu, 21 Maret 2015

Tolong Pak Bupati, Bocah Pasuruan Ini Terluka Bakar Tak Bisa Berobat


Pasuruan- Lia Sugiarti (8), bocah perempuan asal Desa Gejugjati Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan ini harus menahan penderitaan karena sakit akibat luka bakar yang dialaminya. Setiap hari ia hanya bisa menangis karena luka di sekujur kaki kirinya kian bertambah parah. Luka bakar yang dialami putri Ibu Suami (30) ini diperoleh 3 bulan lalu saat lilin yang dimainkan membakar pakaian dan melukai kaki hingga pinggul kirinya. Karena tak adanya biaya untuk berobat, luka itu saat ini terus membesar dan semakin parah. "Saat itu dia main lilin terus roknya terbakar dan mengenainya," kata Suami, ibu Lia, kepada wartawan, Sabtu (21/3/2015). Sambil terus mengipasi luka Lia dan mencoba menenangkannya karena terus menangis, Suami, mengatakan ia terpaksa pasrah karena tak tahu lagi harus berbuat apa. Apalagi, ayah Lia sudah lama meninggal dunia. Suami mengatakan, sebelumnya ia sudah membawa Lia ke puskesmas. Dari puskesmas kemudian dirujuk ke RSUD Bangil. Namun meski memiliki kartu Jaskesmas, Lia ditolak rumah sakit. "Dari rumah sakit disuruh pulang. Disuruh ke Surabaya atau Malang. Tapi nggak ada biaya ya sudah dibiarkan," ujar Suami. Karena dibiarkan, luka bakar yang dialami Lia sangat memprihatinkan. Luka di sekujur pinggul hingga kaki kirinya itu mulai membusuk. Akibatnya setiap hari bocah malang ini terus menangis dan menjerit kesakitan. Marni, salah seorang tetangga mengatakan Suami, ibu Lia tak bisa mencari nafkah karena harus terus menunggui anaknya. Beberapa kali warga harus menggalang bantuan untuk meringankan beban keluarga tersebut. "Ibunya sudah nggak bisa kerja. Ayahnya juga meninggal sejak dalam kandungan," ujar Marni. (fat/fat) http://m.detik.com/surabaya/read/2015/03/21/173918/2865695/475/tolong-pak-bupati-bocah-pasuruan-ini-terluka-bakar-tak-bisa-berobat

Selasa, 03 Maret 2015

Sadis, Video Adu Bocah Cilik


https://www.youtube.com/watch?v=8__NxcBCBdY berita dari : http://m.kompasiana.com/post/read/704731/3/sadis-video-adu-bocah-cilik.html

Senin, 02 Maret 2015

Mahalnya Harga Beras Membuat Mbah Rahma Mengkonsumsi Nasi Basi


TRIBUNNEWS.COM. BANYUWANGI- Mahalnya harga beras membuat Mbah Rahma (70) warga Lingkungan Jagalan, Kecamatan Rogojampi, mengonsumsi nasi aking, yaitu nasi basi yang dijemur lalu dimasak lagi. Rahma mendapatkan nasi basi tersebut dari sisa nasi milik tetangganya. "Mau beli beras sudah mahal," kata janda yang tinggal seorang diri saat ditemui Kompas.com, Senin (2/3/2015). Walaupun sudah berusia renta, dia mengaku masih bekerja untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari dengan mencari barang rongsokan yang kemudian dijual. "Sehari dapat uang antara Rp 5.000-10.000. Kalau sakit ya enggak kerja dan enggak dapat uang," kata dia dengan ramah. Nasi aking yang dimakannya, diolah sendiri dengan mengumpulkan nasi basi milik tetangga. Lalu nasi tersebut ia jemur di depan rumahnya dengan bantuan papan kayu. Sebelum ditanak, ia masih harus mencuci nasi aking berkali-kali agar bersih. Rahma mengaku agar terasa enak, dia mencampur nasi aking dengan parutan kelapa dan garam. "Kalau ada lauk yang dimakan, kalau enggak ada ya nasi ini aja. Bersyukur masih bisa makan," tutur dia. Menurut Rahma, jika ia tidak punya uang sama sekali, ia menjual nasi aking miliknya seharga Rp 2.500 per kilogram. "Kalau jual nasi aking paling banyak ya tiga kilo," ungkapnya. Ia bercerita, suaminya sudah meninggal dunia. Rahma pun mempunyai satu orang anak yang kini merantau ke Sumatera. "Anak saya sudah enggak ada kabarnya. Kadang-kadang kangen sama dia. Tapi gimana lagi," ungkap Rahma. Perempuan tua ini mengaku mendapatkan bantuan dari Pemerintah sebesar Rp 400 ribu, dan dia gunakan untuk menyewa tanah untuk tempat ia tinggal saat ini. "Dapat uang tapi buat bayar sewa tanah ini. Rp 400 ribu per tahun. Ini rumah saya, tapi tanahnya numpang," ujar dia. Rahma juga masih harus mengeluarkan uang untuk membeli minyak tanah untuk kayu bakar yang ia gunakan untuk memasak. "Harganya seliter antara Rp 16.000-20.000. Pakainya sedikit sedikit biar enggak cepet habis," kata dia. Tidak sendiri Bukan hanya Mbah Rahma yang mengkonsumsi nasi aking, tetangganya yaitu Mbah Sonah (80) juga memilih nasi aking sebagai makanan sehari-hari. Ia saat ini tinggal dengan dua cucunya, sedangkan anaknya bekerja sebagai nelayan dan tinggal di Banyuwangiselatan. "Mau beli beras mahal jadi saya ya makan nasi sisa. Kalau di sini namanya nasi karak," kata Sonah. Selain mendapatkan nasi basi dari para tetangganya, Sonah mengaku sering mendapatkan nasi basi saat mencuci di sungai. "Saya heran kok banyak orang yang buang-buang nasi. Saya sering dapat nasi dimasukkan di plastik lalu dibuang di sungai sama orang-orang. Biasanya saya bawa pulang. Saya jemur dan saya masak lagi buat makan," kata dia. (Kontributor Banyuwangi, Ira Rachmawati) http://m.tribunnews.com/regional/2015/03/02/mahalnya-harga-beras-membuat-mbah-rahma-mengkonsumsi-nasi-basi

Australia New Collected coins for USD 13 Million


TRIBUNNEWS.COM, Coalition Pro JAKARTA Indonesia together with the whole society continues to raise funds to restore Australia's aid. It is a protest Indonesian, Australian Prime Minister Tony Abbott because the offending aid to the country to Aceh, when two death row Australian drug cases will be executed. "It's been a week, we will collect until the execution, we will transfer to the Australian embassy," said Grace Himran, one member of the Coalition of Pro Indonesia from Aceh in roundabout HI, Sunday (03/01/2015). According to the government of a country not worth bringing up again the help that has been given. First aid to help disaster victims. "The statement is not wise Abbot of a head of state. There is immoral. Statement membua even angry," said Grace. Currently, the contribution of the new society collected Rp 13 million more. Coalition Pro Indonesia not concerned about the amount. They sure will coffers of dollars will be collected and channeled to help restore Australia. Naturally, if they are few. Because the form of dollars are collected only in the form of coins. It is recognized as a symbol of the little people were hurt. They hope that Australia gets a lesson from this. "Why do we gather coins, showed little concern for the people of Indonesia," he added.

Minggu, 22 Februari 2015

Quipped Australia, Tsunami Victims Action Degree Dig graves for offenders Dead


Banda Aceh-Dozens of victims of the tsunami in Aceh Barat staged a protest against the statement of Prime Minister, Tony Abbott who brought up the tsunami relief with remission of the death penalty. They dug the grave for two Australians who were sentenced to death for drug cases stumble in Denpasar, Bali. Two grave is dug tsunami victims in White Sand Beach, village of Ujong Kalak, Johan Pahlawan, West Aceh. Residents also brings a number of posters bearing inscriptions criticism of Tony Abbott. Grave was dug alongside the community. The action is a form of satire against Australian PM is considered to have hurt tsunami victims in Aceh. In a statement, Abbott returned rehash of Australia during the tsunami relief with remission of the death penalty against two of its citizens. A resident who joined this action, Edi Candra, say, two graves excavated for two Australians who will be executed for tripping drug cases. Both are Myuran Sukumaran and Andrew Chan, who is a member of the syndicate "Bali Nine". "This action is a form of reciprocation us against the Australians," said Andrew Chan, Sunday (02/22/2015). In addition to digging graves, victims of the tsunami in Aceh Barat also will raise jade to repay back the Australian aid granted to Aceh. They were also ready to restore Australia's aid if requested return. "Australian Prime Minister should not be brought up with the tsunami relief guardianship application of the death penalty. No tsunami aid relationship with the death penalty," he explained. (FJP / FJP)

Sabtu, 31 Januari 2015

Anak buruh tani peraih IPK 3,84 di UIN Walisongo gemar ibadah


Merdeka.com -Selain perjuangan kerasnya selama kuliah, Siti Afidah (22) berkeyakinan doa dan hidup prihatin sederhana menjadi pedoman sehingga bisa meraih predikat sebagai wisudawati terbaik di UIN Walisongo, Kota Semarang, Jawa Tengah. Sehingga, sejak duduk di bangku sekolah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Kendal, Afidah tidak pernah lupa menjalankan puasa sunah dan salat malam. Dirinya sangat yakin, jika puasa Senin-Kamis serta salat malam dilakukan setiap waktu, membuat perjuangannya keras untuk menjadi mahasiswi terbaik akan dikabulkan Yang Maha Kuasa. "Dari saat sekolah MAN Kendal sudah terbiasa salat malam dan puasa Senin-Kamis. Salat malam dampaknya besar. Kalau kita dekat dengan Allah, apa yang kita minta pasti dikasih jalan," tuturnya disela-sela mengajar baca tulis Alquran di balai depan Pondok Pesantren Rumah Tahfidz Al Amna pimpinan Hj Siti Mariana Sofa tempat dia tinggal di Jalan Taman Jeruk ll A10 Nomor 23 A, Perumahan Jatisari Permai, Mijen, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (30/1). Terbukti, sejak kelas X di MAN Kendal itulah, Afidah selalu meraih prestasi rangking pertama mulai dari kelas X sampai kelas XII. "Kalau di kelas, saya selalu rangking satu. Tapi kalau satu sekolah naik turun yang pasti selalu ada di tiga besar urutan. Fluktuatif," selorohnya. Selain doa, pola hidup sederhana dan apa adanya membuat Afidah tegar menjalani hidup dan sukses dalam pendidikan. Hobinya menjalankan a malam dan berpuasa sunah Senin-Kamis ini tidak menghalangi aktivitasnya selama menjadi mahasiswi di UIN Walisongo, Kota Semarang. Dalam posisi berpuasa, Afidah masih tegar dan mampu mengikuti pendidikan kuliah hanya dengan berjalan kaki kemudian naik angkutan kota (angkot) minibus untuk menimba ilmu di kampus UIN Walisongo, Kota Semarang. "Kalau kuliah ya tetap jalan kaki, naik angkot minibus jurusan Jrakah-Mijen. Jika kuliah usai saya biasakan diri untuk kembali ke pondok (ponpes) karena saya punya tanggung jawab mengajari anak-anak kecil untuk belajar membaca, menulis dan membaca Alquran seperti saat ini," tuturnya. Pola hidup sederhana dan prihatin ini, ternyata datang dari orangtuanya sendiri. Hidup pas-pasan di rumahnya di Brangsong, Kendal, Jawa Tengah membuat Afidah bersemangat dan berjuang keras untuk meraih prestasi yang terbaik. "Keteladanan utama ortu. Melihat kerja keras ortu dari kecil memelihara saya. Kemudian guru-guru yang mengajar di sini memberi semangat kami. Orang tua nggak ada berhentinya ke kita anaknya. Orangtua berikan yang kita minta mesti dikasih mesti dalam keterbatasan. Bukan membalas, tapi berusaha membahagiakan dan membuktikan berkat doanya alhamdulillah mampu," paparnya. Selama kuliah, Afidah pun tidak pernah macam-macam, apalagi hidup bermewah-mewah. Baginya menjalani dan mengikuti pendidikan dengan baik adalah hal yang utama. Apalagi, kedua orang tuanya yaitu ayahnya Baidhowi hanya lulusan SD. Sementara ibunya tidak lulus SD menjadikan motivasi Afidah untuk mengenyam dan meraih pendidikan setinggi-tingginya. "Saya kulaih hanya kuliah. Setelah kuliah kegiatannya hanya di sini. Mengerjakan tugas tepat waktu dari dosen. Ndak rekoso. Soale dosen-dosennya juga pada enak, ngasih masukan ke kita. Apalagi ayah saya hanya lulus SD, ibu saya SD pun tidak tamat, kelas 3 SD langsung keluar karena kondisi ekonomi yang sangat terbatas," ujarnya. Meski banyak godaan dari teman-teman kuliahnya yang lain, Afidah selalu memegang prinsip untuk berpola hidup tetap sederhana. "Kalau saya tidak sreg dengan aneh-aneh, lebih baik saya tidak ke sana. Yang sesuailah di lingkungan yang membuat saya lebih baik lagi. Temen-temen gak ada sih, temen-temen di UIN baik-baik semua," pungkasnya. (mdk/eko) http://m.merdeka.com/peristiwa/anak-buruh-tani-peraih-ipk-384-di-uin-walisongo-gemar-ibadah.html

Berapa Tarif Resmi MembuatSIM Baru dan Perpanjangan?


Sabtu, 31 Januari 2015 | 11:59 WIB JAKARTA, KOMPAS.com- Seringkali pengendara tidak mengetahui biaya pembuatan ataupun perpanjangan Surat Izin Mengemudi (SIM). Maka sebagian oknum petugas polisi "nakal" memanfaatkan celah ini untuk membuat pengendara membayar biaya yang lebih mahal dari yang seharusnya dibayarkan. Kepala Seksi SIM Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris I Nengah Adi Putra menjelaskan, saat ini tarif untuk membuat SIM berkisar antara Rp 50.000 hingga Rp 120.000. Sementara untuk perpanjangan SIM adalah Rp 30.000 hingga Rp 80.000. Berikut rinciannya: SIM Golongan A Baru Rp 120.000 Perpanjangan Rp 80.000 SIM, Golongan B I Baru Rp 120.000 Perpanjangan Rp 80.000 SIM Golongan B II Baru Rp 120.000, Perpanjangan Rp 80.000 SIM Golongan C Baru Rp 100.000 Perpanjangan Rp 75.000 SIM. Untuk Golongan D Baru Rp 50.000, dan Perpanjangan Rp 30.000. Namun selain biaya pembuatan atau perpanjangan, pengendara juga bisa dikenakan biaya lainnya, yaitu asuransi. Biayanya mencapai Rp 30.000. "Meski begitu, asuransi sifatnya tidak wajib, hanya dianjurkan saja," kata Nengah saat dihubungi, Sabtu (31/1/2015). Karena sifatnya tidak wajib, lanjut dia, maka pengendara boleh memilih untuk tidak membayarkan biaya asuransi tersebut. Dengan kata lain, pengendara dapat menolak jika dikenakan biaya asuransi. Selain biaya asuransi, biaya yang mungkin dijadikan alasan supaya pengendara membayar lebih adalah biaya tes kesehatan. Nengah menuturkan, tes kesehatan sebetulnya merupakan syarat wajib untuk pembuatan dan perpanjangan SIM. Namun, tes tersebut tidak harus dilakukan di tempat pelayanan pembuatan atau perpanjangan SIM. Bahkan, pengendara dapat melakukan tes tersebut di dokter umum lainnya di luar tempat tersebut. "Surat sehat dari dokter adalah persyaratan wajib untuk mengetahui kesehatan fisik calon pengendara. Biar memudahkan kami sediakan, tetapi jika mau dilakukan di luar silakan," kata Nengah. Nengah juga menegaskan, bila tidak melakukan tes kesehatan di tempat pelayanan pembuatan dan perpanjangan SIM, maka pengendara tidak harus membayar biayanya. Tarif kesehatan yang dibayarkan di tempat layanan itu pun, kata dia, bukan berasal dari polisi. Penulis: Unoviana Kartika Editor: Bambang Priyo Jatmiko http://regional.kompas.com/read/2015/01/31/11593281/Berapa.Tarif.Resmi.Membuat.SIM.Baru.dan.Perpanjangan.