Senin, 07 Juli 2014

Puasa Membangun KesalehanSosial (1)

Jakarta - Kesalehan secara sosial merupakan bagian dari ciri-ciri orang yang bertakwa. Seorang beriman yang saleh dan bertakwa, sudah pasti memiliki amal saleh dan pasti memiliki kesalehan sosial. Allah Swt berfirman dalam QS. Al Baqarah: 1-3 “Alif laam miim. Kitab [Al Qur’an] ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, [yaitu] mereka yang beriman kepada yang ghaib yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,” Dalam rangkaian ayat tersebut disebutkan ciri-ciri orang-orang yang bertakwa yaitu: beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rejeki. Menafkahkan rejeki ini merupakan salah satu ciri dari kesalehan sosial. Seseorang yang beriman kepada Allah Swt maka kesalehan sosialnya semakin bagus. Oleh karena itu, orang yang beriman diibaratkan seperti bola lampu. Lampu dengan daya 100 Watt akan lebih terang dibandingkan dengan lampu dengan daya 5 Watt. Semakin tinggi daya (volt-ampere) dari sebuah lampu, maka lampu itu akan semakin terang dan cahayanya akan semakin menjangkau seluruh ruangan. Begitu juga dengan manusia, semakin tinggi tingkatan iman seseorang (diibaratkan sebagai makin tinggi daya sebuah lampu), semakin banyak dan makin luas pula manfaat sosialnya untuk manusia. Makin tinggi iman seseorang, dia semakin mau membantu orang lain dan semakin memiliki kepedulian terhadap orang lain. Ini yang disebut sebagai keshalehan sosial. Dia tidak sekedar sholeh secara pribadi (dengan Allah Swt) tetapi juga sholeh secara sosial, hubungannya dengan manusia. Baik hablum minallah maupun hablum minannas. Kajian ini akan disampaikan menurut sudut pandang Al Quran dan Al Hadist, agar kita tidak ragu dan kita bisa sami’na wa ata’na (mendengar dan mentaati). Dalam Quran surat Al Maidah ayat 2, Allah Swt berfirman: “Wata’awanu ‘alalbirri wattaqqa wala ta’awanu ‘alal itsmi wal’udwan (Dan tolong-menolonglah kamu dalam [mengerjakan] kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran)”. (QS. Al Maidah: 2) Ayat ini mendahulukan al birr (kebaikan) dari pada at takwa. Al birr adalah hubungan kemanusiaan (keshalehan sosial), sedangkan at takwa adalah hubungan harmonis dengan Allah Swt (iman, spriritual). Ayat in menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan keshalehan sosial sampai-sampai ia didahulukan dari pada at takwa. Oleh karena itu tidak ada orang yang beriman yang kemudian tidak memuliakan tamu dan tidak menghormati tetangganya. Dalam Hadist Riwayat Bukhari Muslim Rasulullah SAW bersabda: “Mankaana yu’minu biillaahi walyawmil akhiri falyakhul koiroon awliyashmut Waman kaana yu’minu biillaahi walyawmil-akhiri falyukrim jaarohu Waman kaana yu’minu biillaahi walyawmil akhiri falyukrim dhoyfahu (Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata yang baik atau diam. Dan barang siapa yg beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah menghormati tetangganya". Orang yang beriman kepada Allah Swt hendaklah kata-katanya tidak mudah menyinggung orang lain. Hendaklah dia berkata baik saja. Kalau tidak mampu berkata dengan kata-kata yang baik maka lebih baik diam, orang beriman harus begitu. Bahkan Rasulullah SAW mengatakan: “Min husni islamil mar’i tarkuhu maa laa ya’niihi yang artinya sebagian dari kebaikan keIslaman seseorang adalah meninggalkan suatu hal yang tidak berguna baginya. ” [Hadits Hasan, HR Tirmidz). Seorang muslim harus meninggalkan sesuatu yang sepele, hal-hal yang sia-sia atau tidak berguna. Dalam hadist lain bersabda Rasulullah SAW: “Al-Muslimu man salima al-muslimuuna min lisaanihi wa yadihi, wa al-muhaajiru man hajara maa nahaa Allaahu ‘anhu. (Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya; dan orang yang berhijrah (muhajir) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah).” (Shahih Bukhari). Iman kepada Allah Swt dan hari akhir harus membawa kita kepada kesholehan secara sosial. Kesholehan sosial ini dibina di bulan Ramadan. Contohnya, puasa yang terbaik kata Rasulullah adalah ketika kita mempuasakan makan, minum, syahwat serta mempuasakan seluruh panca indera kita. Mata, hidung dan mempuasakan lidah dan mulut untuk berbicara sembarangan, artinya berbicara yang baik saja. Dalam hadits Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta (qaula al-dzuur) dan melakukan sesuatu dengan dasar kedustaan itu, maka tidak ada gunanya ia meninggalkan makanan dan minumannya itu disisi Allah” (HR. Bukhari). Siapa yang tidak mampu meninggalkan kata-kata yang buruk dan keji, memutuskan silaturahim dengan kata-katanya, maka tidak ada gunanya puasanya, meninggalkan makan dan minum. Kesholehan sosial ini penting sekali dalam Islam. Bahkan Allah Swt menjelaskan dalam Al Quran, misalnya dalam QS Ali Imran: “Kuntum khoiro ummati ukhrijat linnas ta'muruna bil ma'ruf wa tanhauna anil munkar wa tu’minuuna billahi (Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” Kalian adalah umat yang terbaik karena kalian mempunyai kharakter atau kharakteristik yaitu mampu melakukan “ta’muruna bil ma’ruf”, mampu memerintahkan orang untuk berbuat baik, jadi mampu memperbaiki kehidupan sosialnya (amar ma’ruf) dan mampu melakukan “nahi munkar”, mencegah kemungkaran yang terjadi dalam masyarakat. Ini keshalihan sosial, jadi yang menjadi ukuran keshalehan sosial adalah amar ma’ruf dan nahi munkar. Sholeh secara sosial tidak bisa membiarkan korupsi yang terjadi, tidak membiarkan orang mengambil hak orang lain, tidak membiarkan maksiat yang terjadi di depannya. Umat yang terbaik harus sholeh kedua-duanya baik sholeh secara pribadi dan sholeh secara sosial. Dalam ayat tersebut, amar maruf nahi munkar didahulukan dan baru kemudian iman kepada Allah di belakang, hal ini menunjukkan begitu pentingnya keshalehan sosial dalam Islam. Dalam hadist riwayat At-Thabrani Rasulullah SAW bersabda: “Khoirukum anfauhum linnas (sebaik-baik kalian adalah yang bermanfaat bagi orang lain)”. Kata-kata khoirukum sering dipakai dan biasanya terkait dengan keshalihan sosial seperti “Khoirukum man ta'allamal qur'an wa 'allamahu (Sebaik-baik kamu adalah yang belajar Al quran dan dan mengajarkannya kepada orang lain”. (al-Hadits) � � *) Sumber materi dari kajian online PPI Italia 4 Juli 2014 dengan pembicara Dr. Khairan Muhammad Arif, M.Ed, dosen UIN Jakarat, Ketua prodi Magister Pendidikan Universitas As Syafiiyyah Jakarta, Anggota Penasihat Ikadi Indonesia dan Bulan Sabit Merah Indonesia. *) Penulis adalah anggota PPI Italia, koordinator Keluarga dan Komunitas Islam Indonesia Italia (KeKita), mahasiswa S3 bidang Teknologi Informasi, University of Parma, Italia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar