Mengajarkan Al Quran adalah salah satu bentuk kesalehan sosial. Seseorang tidak mau pintar sendiri tetapi mau mengajarkan kepada orang lain. Bahkan dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda“Barang siapa menyembunyikan ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat, maka Allah akan mencambuknya pada hari kiamat dengan cambuk dari api neraka.”
Oleh karena Islam sangat peduli dengan kehidupan sosial. Orang yang saleh secara sosial tidak tahan dan tidak bisa diam melihat kemungkaran di masyarakat yang harus perbaiki. Kemampuan merubah kehidupan sosial selalu terkait dengan keimanan.
Misalnya Hadist riwayat Muslim:
“Dari Abu Sa’id AlKhudri Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata: Bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam: Barangsiapadi antara kamu melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu, jika kamu tidak mampu maka cegahlah dengan lisanmu danjika kamu tidak mampu juga maka cegahlah dengan hati. Dan itulah selemah-lemahnya iman”.
Tingkatan iman seseorang merefleksikan kemampuan sesorang melakukan perubahan sosial. Artinya semakin tinggi iman seseorang dia akan mampu mencegah kemungkaran dengan tangannya. Mencegah dengan hati (dengan doa) adalah refleksi dari selemah-lemah iman.
Ramadan membina iman dengan puasa, salat dan zakat. Dalam Quran surat Al-Anfal: 2-4 disebutkan seseorang yang beriman secara sesungguhnya atau memiliki iman sejati.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, danapabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka [karenanya] dan kepada Tuhanlah merekabertawakkal, [yaitu] orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepadamereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya”.
Dari hadist di atas digambarkan seperti itulah orang yang beriman sejati, oleh karena itu tidak sempurna keimanan seseorang sebelum dia saleh secara sosial. Oleh karena itu tidak sempurna iman seseorang menurut Rasulullah SAW jika dia tidak baik kepada tetangga, tidak baik kepada istri.
Jika kita hanya sholeh secara pribadi, dan meninggalkan kesalehan sosial maka kita bukan lagi menjadi ummat yang terbaik. Hanya dengan memiliki kesalehan pribadi tidak membawa seseorang untuk masuk surga. Oleh karenanya Islam selalu mengajak kita untuk terus mengembangkan kesalehan. Allah Swt berfirman dalam surat Ali Imran: 112 tentang bagaimana kerusakan seseorang karena tidak saleh secara sosial:
“Duribat 'alaihimu dzillatu 'ainama tsukifu illa bihablim minallohi wahablim minannasi (Mereka diliputi kehinaan di manasaja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali [agama] Allah dan tali [perjanjian] dengan manusia).”
Kehinaan dan kemuliaan terkait dengan kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dun-ya dan AT-Thabrabni dari Sahabat Ibnu Umar ra.
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu Wata’ala adalah yang paling memberi manfaat kepada yang lain. Amalkebaikan yang paling disukai oleh Allah Subhanahu Wata’ala adalah kebaikan berupa kebahagiaan yang disisipkan ke dalamhati seorang muslim atau menghilangkan kesusahan yang dialaminya atau melunasi hutangnya atau menghilangkan rasa laparyang melilitnya.”
“Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk membantu hajatnya, lebih kusukai daripada iktikaf di masjid selama satu bulan. Siapa yang menahan marahnya, Allah Subhanahu Wata’ala tutupi auratnya. Siapa yang mampu menahan rasa marahnya padahal ia bisa memuntahkannya, Allah Subhanahu Wata’ala isi hatinya dengan keridhaan di Hari Kiamat. Siapa yang berjalan untuk memenuhi hajat saudaranya yang muslim, Allah Subhanahu Wata’ala akan kokohkan kakinya pada hari banyak kaki yang tergelincir. Sesungguhnya akhlak yang buruk merusak amal seperti cukak merusak madu.”
Kemudian, bagaimana caranya agar kita memiliki kesalehan sosial?
Dalam hadist-hadist yang telah disebutkan di atas kita dapat mempelajari hal-hal yang bisa kita lakukan untuk membangun kesalehan sosial kita. Setidaknya ada tiga hal yang menjadi langkah kita untuk mendapatkan kesalehan sosial:
1. Salehkan terlebih dahulu diri kita secara pribadi dengan cara banyak menuntut ilmu dan memperkuat ibadah. Dengan ilmu, kita akan mengetahui bahwa kita harus bermanfaat bagi orang lain, tidak hanya bermanfaat bagi diri kita sendiri.
2. Banyak bersilaturahim dan mengetahui orang lain oleh karena perintah silaturahim diwajibkan oleh Rasulullah. Dari
Jubair bin Muth'im Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:"Tidak akan masuk surga seorang pemutus, yaitu pemutus tali silaturahmi." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
3. Banyak memberi hadiah/bantuan. Seorang yang beriman hendaknya jangan pelit (bakhil). Orang yang mampu menaklukkan jiwa
pelitnya dalam dirinya itulah orang yang paling sukses dalam kehidupan. Allah Swt berfirman dalam QS. Ali Imran:
“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka,bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkanitu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan [yang ada] di langit dan dibumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 3:180).
Orang yang berinfak tidak pernah miskin, justru akan menjadi orang yang sukses (al falah). Ali bin Abi Thalib berkata:
“Tahaadu tahaabu”, saling memberi hadiah kalian agar kalian saling mencintai. Harus ada cinta, sayang serta rahmat kepada orang lain. Seorang yang beriman tidak berburuk sangka, selalu harus berpikiran positif. Kalau selalu berburuk sangka, dia berarti tidak bisa bisa bermasyarakat.
Saling memberikan hadiah akan dapat mengikatkan hati, umat terdahulu bangga dengan memberi, sedangkan umat sekarang merasa bangga kalau sudah menerima zakat dari seseorang. Dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim dari dari ibn Umar, Rasulullah bersabda:
“Al-yadul'ulya khairun minal yadus sufla (Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah)”.
Hadist ini memberi pengertian yang memberi lebih utama atau memiliki nilai lebih di sisi Allah dari pada orang yang menerima.
Semoga Ramadan ini mampu membangun dan menjadikan kita orang yang beriman yang memiliki kesalehan pribadi dan kesalehan sosial.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar